Penulis: H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ
الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ
أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ
لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
.فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ
اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Segala puji bagi Allah swt, Tuhan semesta alam
yang terus mengalirkan nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu kepada kita,
di antaranya adalah nikmat iman dan takwa sehingga kita masih bisa menikmati
manisnya Islam yang akan membawa kita selamat dunia akhirat. Tiada kata lain
yang patut diucapkan kecuali kalimat Alhamdulillahirabbil Alamin. Dengan terus
bersyukur, insyaAllah karunia nikmat yang diberikan akan terus ditambah oleh
Allah Swt.
وَاِذْ
تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ
اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,
tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar
sangat keras”. QS. Surat Ibrahim (14): 7.
Syukur yang kita ungkapkan ini juga harus
senantiasa direalisasikan dalam wujud nyata melalui penguatan ketakwaan kepada
Allah swt yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Dengan syukur dan takwa ini, maka kita akan senantiasa menjadi pribadi yang
senantiasa diberi perlindungan dan petunjuk dalam mengarungi samudera kehidupan
di dunia dan bisa terus menjalankan misi utama hidup di dunia yakni beribadah
kepada Allah swt. Hal ini termaktub dalam QS. Adz-Dzariyat (51): 56,
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam putaran waktu dan keseharian umat Islam,
bulan Ramadhan menjadi momentum intensifnya kegiatan ibadah yang dilakukan baik
dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Frekuensi ibadah seperti puasa, shalat,
membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan ibadah-ibadah lainnya menjadi warna dominan
di bulan mulia tersebut. Semangat ini seiring dengan kemuliaan Ramadhan yang di
dalamnya banyak memiliki keutamaan dan keberkahan. Ramadhan menjadi bulan
‘penggemblengan’ jasmani dan rohani umat Islam untuk menjadikannya pribadi yang
senantiasa dekat dengan sang khalik, Allah Swt.
Namun pertanyaannya, bagaimana pasca-Ramadhan?
Apakah kita mampu mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah kita? Apakah
pasca-Ramadhan, kita kembali seperti sedia kala dengan semangat ibadah
seadanya? Apakah takwa, sebagai buah dari perintah puasa Ramadhan, sudah kita
rasakan dalam diri kita? Tentu pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh diri kita
sendiri sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri agar spirit ibadah kita
tidak mengendur pasca-Ramadhan.
Sehingga pada kesempatan khutbah ini, khatib ingin
mengajak kita semua untuk melihat kembali lintasan perjalanan ibadah kita
selama Ramadhan untuk menjadi spirit dan motivasi agar pasca Ramadhan, ibadah
kita bisa ditingkatkan, atau minimal sama dengan ramadhan. Melihat masa lalu
itu penting sebagai modal untuk menghadapi masa depan sebagaimana Firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Ḥasyr (59): 18.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
ibadah sebenarnya sudah tergambar dari makna kata Syawal yang merupakan bulan
setelah Ramadhan sekaligus waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Dari segi bahasa, kata “Syawal” (شَوَّالُ) berasal dari kata “Syala” (شَالَ) yang memiliki arti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ) yakni meningkatkan. Makna ini seharusnya menjadi inspirasi
kita untuk tetap mempertahankan grafik kualitas dan kuantitas ibadah
pasca-Ramadhan. Dalam mempertahankannya, perlu upaya serius di antaranya adalah
dengan melakukan 3 M yakni Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.
Muhasabah adalah
melakukan introspeksi diri terhadap proses perjalanan ibadah di bulan Ramadhan.
Muhasabah ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita
sendiri tentang: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apakah kita
sudah memiliki niat yang benar dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan? Apa
yang menjadikan kita semangat beribadah di bulan Ramadhan? Pernahkan kita
melanggar kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan?. Dan tentunya
pertanyaan-pertanyaan introspektif lainnya untuk mengevaluasi ibadah kita
selama ini.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan
memotivasi kita untuk semangat dan memperbaiki diri sehingga akan berdampak
kepada kualitas dan kuantitas ibadah pasca-Ramadhan. Terkait pentingnya
Muhasabah ini Rasulullah bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ
لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى
عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang
menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah
kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa
nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR Tirmidzi).
Selanjutnya adalah mujahadah yakni
bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah
bulan Ramadhan. Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus
melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadhan. Perjuangan ini tentu
akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar kita maupun dari
diri kita sendiri. Oleh karenanya, kita harus memiliki tekad kuat dan benar
agar hambatan dan tantangan yang bisa mengendurkan semangat ibadah kita ini
bisa kita kalahkan.
Allah telah memberikan motivasi pada orang yang
bersungguh-sungguh dalam berjuang sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Ankabut (29):
69,
وَالَّذِيْنَ
جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ
الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh)
untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik.”
Cara selanjutnya adalah muraqabah yakni
mendekatkan diri kepada Allah. Dengan muraqabah ini, akan muncul kesadaran diri
selalu diawasi oleh Allah swt sekaligus memunculkan kewaspadaan untuk tidak
melanggar perintah Allah sekaligus bersemangat untuk menjalankan segala
perintah-Nya. Sikap-sikap ini merupakan nilai-nilai yang ada dalam diri
orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang yakin dan percaya kepada yang
ghaib dan tak tampak oleh mata. Rasulullah saw bersabda:
أَنْ
تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ
يَرَاكَ
“Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan
engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu...”
(HR Bukhari).
Nilai-nilai ketakwaan dengan senantiasa melakukan
muraqabah ini seharusnya memang sudah tertancap dalam hati kita karena muara
dari ibadah puasa di bulan Ramadhan sendiri adalah ketakwaan. Hal ini sudah
ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah (2): 183,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah Jumat kali ini, semoga kita bisa
senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah kita
pasca-Ramadhan dengan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah. Semoga kita diberi
kekuatan oleh Allah swt dalam mengemban misi ibadah ini. Amin.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ
وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar