إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَ
نْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ،
قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ
فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى
نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ
عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا
اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ
حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ
النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن(
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan
jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya
taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…
Bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan
setiap 17 Agustus sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa para syuhada yang
berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah menjadi saksi
perjuangan kaum muslimin yang mencintai Indonesia sebagai tanah airnya, dengan
mempertahankan kedaulatan sampai titik darah penghabisan. Pekik takbir menggema
dari lisan para pejuang di sepanjang pertempuran.
Kerajaan-kerajaan Islam telah berhasil dikuasai
oleh para penjajah, namun rakyat Indonesia tidak berhenti begitu saja. Para
ulama memimpin perlawanan bersama rakyat Indonesia dengan semangat yang membara
hingga terbentuklah gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan yang merata di
kawasan Nusantara. Peran ulama di dalam memimpin rakyat Indonesia sangatlah
penting seperti ketika memimpin perlawanan penindasan kedzaliman yang bermula
di Aceh oleh Tengku Cik di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien dan lainnya.
Kemudian terjadinya Perang yang disebut dengan
perang Padri terletak di Sumatera Barat yang di pimpin Imam Bonjol yang
menimbulkan gerakan-gerakan Islam seperti Gerakan 3 Haji di Dena Lombok,
Gerakan R. Gunawan dari Muara Tembesi Jambi, Gerakan H. Aling Kuning di
Kalimantan Timur, Gerakan KH. Wasit dari Cilegon dan masih banyak lagi gerakan
yang muncul untuk memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia dalam
memberantas para penjajah.
Demikian kegigihan umat Islam dalam merebut
kedaulatan pada zaman dulu. Kini bagaimana kita sebagai generasi penerus bangsa
untuk mempertahankan kedaulatan NKRI. Sebagai umat Islam agar menteladani
perjuangan pahlawan untuk meraih kemerdekaan dan memusnahkan penjajahan.
Dari perjuangan para pahlawan ini, terkandung
nilai-nilai keteladanan yang mesti kita lestarikan dan amalkan dalam kehidupan.
Nilai-nilai yang harus menjiwai diri kita dalam mengisi dan mempertahankan
kemerdekaan, nilai-nilai yang menjadi pondasi dalam mengukir amal shaleh
sebagai hamba Allah ﷻ yang
diberi nikmat kemerdekaan. Sungguh, jika kita mampu meneladani para mujahid fi
sabilillah ini kita akan meraih kebaikan di dunia dan akhirat.
Nilai pertama dari suri tauladan perjuangan mereka
adalah istiqamah dalam kebaikan. Sikap istiqamah menjadi landasan utama yang
dilalui oleh para pejuang yang rela mengorbankan harta dan jiwanya. Mereka
tidak tergiur oleh tawaran dan negoisasi yang sarat kepentingan pihak musuh.
Mereka tidak silau dengan iming-iming para penjajah berupa harta dan materi
sebagai ganti dari mengangkat senjata. Sikap istiqamah ini telah diamanatkan
oleh Allah ﷻ melalui
Rasul ﷺ dalam
firman-Nya.
فَٱسْتَقِمْ
كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ
بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta
kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan.” QS: Huud (11): 112.
Keistiqomahan ternyata merupakan salah satu sifat
yang selalu disebut Rasulullah Muhammad ﷺ dalam doanya. Rasulullah ﷺ kerap berdoa, memohon agar diberi keteguhan hati dan selalu
taat kepada Allah ﷻ .
Mengapa Rasulullah selalu memohon diberi
keistiqomahan? Alasannya tertera dalam hadis riwayat Tirmidzi dan Ahmad. Syahr
bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Ummu Salamah,
“Wahai Ummul Mukminin, apa doa yang sering
dipanjatkan oleh Rasulullah ﷺ jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, “Yang sering
dibaca oleh Nabi ﷺ adalah,
‘Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘ala diinika (Wahai Dzat yang Maha
Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”
Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ” Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering
berdoa dengan doa, ‘Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai
Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya
menjawab, ”Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di
antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan
berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa
menyesatkannya.”
Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz membacakan ayat, ”Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami” (QS Ali Imron ayat 8).
Sikap istiqamah ini harus mewarnai perjalanan
spiritual kita. Istiqamah harus kita tanamkan di dalam ibadah, syariah, akhlak,
ilmu, dan perjuangan di jalan Allah .
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Keteladanan kedua, yang harus kita jaga dari
perjuangan para pahlawan adalah memiliki sifat berani dalam membela kebenaran,
berani dalam mempertahankan kebenaran, dan berani dalam menghadapi berbagai
rintangan serta hambatan. Perbedaan yang sangat jauh antara jumlah dan kualitas
persenjataan yang dimiliki oleh pihak musuh dengan para pejuang, tentu menjadi
tantangan tersendiri. Namun tidak berarti mengendurkan semangat apalagi
merontokkan keberanian mereka dalam memerangi para penjajah.
Bermodalkan senjata bambu runcing dan persenjataan
lainnya, para mujahid ini pantang menyerah dalam berjuang. Mereka memandang
menang dan kalah dalam sebuah perjuangan adalah hak Allah ﷻ yang memutuskannya. Tugas
kita hanya berjuang. Selebihnya kita serahkan hasil perjuangan dalam keputusan
Allahﷻ. Hal
inilah yang menimbulkan semangat tak gentar. Para pejuang tetap lantang
menantang musuh yang datang dengan fasilitas persenjataan yang dimiliki.
Keberanian semacam ini sudah diajarkan oleh Rasul ﷺ kepada kita. Di saat beliau
dan Sayidina Abubakar Ash-Shiddiq bersembunyi dari kejaran musuh di gua Tsur,
beliau berkata kepada Abubakar,
لَا
تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya
Allah bersama kita.” QS. At-Taubah (9): 40.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Ketiga, sabar dalam menanam benih kebaikan. Apa
yang kita rasakan dan nikmati hari ini adalah buah dari kesabaran para
mujahidin dalam menanam pohon yang bernama pohon perjuangan. Mereka sabar dalam
menghadapi kesusahan hidup akibat diburu oleh musuh yang berkekuatan besar.
Mereka sabar dalam mengarungi medan perjuangan yang berliku-liku.
Seandainya mereka kehilangan kesabaran mungkin
kita tidak bisa menikmati apa yang pernah mereka tanam dalam mengisi
kemerdekaan. Tidak ada batas dalam bersabar sebagaimana tidak ada batas dalam
pahala bagi orang-orang yang bersabar. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا
يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” QS: Az-Zumar (39):
10.
Begitu agungnya amalan berupa sikap sabar ini,
sehingga Allah pun membersamai orang-orang yang sabar. Firman-Nya:
وَاصْبِرُوا
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar.” QS. Al-Anfal (8): 46.
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah ﷻ bersama kita yang sabar.
Jika kita jauh dari sabar berarti kita jauh dari Allah ﷻ. Jauh dari Allah ﷻ artinya jauh dari rahmat dan
perlindungan-Nya. Dengan kita memiliki kesabaran, Allah ﷻ akan bersama kita, Allah ﷻ akan anugerahkan pahala
tanpa batas, Allah ﷻ akan
berikan kepada kita kedudukan yang mulia. Ganjaran dan penghargaan semacam in
Demikianlah nilai-nilai keteladanan yang bisa kita
ambil dari perjuangan para pahlawan dalam membela tanah air dan agama di hari
kemerdekaan yang kita peringati setiap 17 Agustus. Istiqamah, berani, dan
sabar, inilah tiga sikap mulia yang harus kita teladani dari mereka. Jangan
lupa, kita selalu mendoakan yang terbaik bagi setiap pahlawan yang telah
mengorbankan harta dan jiwa demi kemerdekaan.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ.
وَالّلَيْلِ اِذَا يَسْر.
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ
خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Sumber: https://ansharusyariah.com/khutbah-jumat-edisi-359-menteladani-perjuangan-pahlawan-kemerdekaan/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar