Oleh : Dr. Muhammad Arfan AU, M.Pd
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ،
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ
اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ
لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Tuhan semesta alam, yang dengan kasih sayang-Nya kita diberi kehidupan,
petunjuk, serta kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri. Dialah Allah yang
menciptakan langit dan bumi tanpa cela, yang mengatur segala sesuatu dengan
hikmah dan ketetapan yang sempurna. Kepada-Nya lah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya
kita memohon pertolongan.
Shalawat serta salam kita haturkan kepada nabi
terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah menyampaikan
risalah tauhid dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Melalui beliau, umat
manusia diajak untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan kembali kepada
fitrah keesaan Allah yang suci.
Tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam,
fondasi dari iman, dan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Namun, betapa
seringnya lidah mengucap Laa ilaaha illallah, tetapi hati dan amal kita belum
benar-benar mencerminkan keikhlasan dalam mengesakan Allah. Mari kita membuka
hati untuk menyelami kembali makna tauhid dalam kehidupan kita.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Nabi Ibrahim adalah satu dari sekian nabi yang
namanya tertera dalam Al-Qur’an. Terdapat sebanyak 69 kali nama Ibrahim
disebutkan. Bahkan Ibrahim menjadi nama surat Al-Qur’an yang ke 14. Beliau
bahkan diceritakan dalam beberapa surat seperti al-Baqarah, Al-An’am, Maryam,
Al-Anbiya dan surat lainnya. Ini menandakan bahwa Ibrahim merupakan sosok
penting untuk dijadikan teladan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kita akan
menelaah pelajaran tauhid dari nabi Ibrahim untuk dijadikan teladan dalam
hidup.
Pertama, Pengenalan tauhid sejak dini.
Ibrahim sejak muda selalu bertanya dalam diri
tentang siapa yang menciptakannya, siapa Tuhannya. Ibrahim kecil menyadari
bahwa ada kekuatan yang maha kuasa yang mengatur segala yang terjadi di dunia
ini.
Ibrahim tidak diam menerima begitu saja Tuhan
yang akan dia sembah, apalagi Tuhan yang disembah oleh masyarakat adalah buatan
ayahnya. Maka Ibrahim mengobservasi alam seperti bintang, bulan, dan matahari.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an surah Al-An’am ayat 76:
… فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ
كَوْكَبًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي
“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah
bintang (lalu) berkata: ‘Inikah Tuhanku?’…”
Pembelajaran dari surat Al An’am tersebut bahwa
proses bertauhid atau untuk sampai pada keyakinan kepada Allah Ta’ala harus
diawali dengan proses berfikir. Maka pelajaran bagi kita untuk diajarkan kepada
anak atau anak didik yaitu sejak dini mengenalkan mereka tentang Alah Ta’ala.
Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud,
berkata: “Ibrahim kecil menggunakan akalnya untuk mengenal Rabb-nya”. Inilah
yang diajarkan Allah Ta’ala dalam ayat yang pertama turun yaitu “iqra’
bismirabbikalladzi khalaq”, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Kedua, keteguhan dalam mentauhidkan Allah.
Nabi Ibrahim yang mengenal Tuhannya dengan proses
membaca dan penalaran yang panjang telah membentuk sikap yang kuat dan
istiqamah akan keyakinannya. Bagaimana Nabi Ibrahim menentang penyembahan
berhala yang dilakukan oleh kaumnya, termasuk ayahnya sendiri. Allah Ta’ala
berfirman dalam Al Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 26-27:
إِنَّنِي
بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ . إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي
“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kamu sembah, kecuali (Allah) yang menciptakanku”.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam “Kitab
Tauhid” menegaskan bahwa kisah Ibrahim menghancurkan berhala adalah pelajaran
abadi tentang wajibnya mengingkari syirik, meski harus bertentangan dengan
orang tua dan masyarakat. Ibrahim menyadari bahwa apa yang mereka sembah bukanlah
Tuhan yang maha kuasa atas segala sesuatu, tapi justru ciptaan manusia itu
sendiri.
Keberanian menyampaikan kebenaran meski
bertentangan dengan tradisi masyarakat. Ibrahim sedang mengajarkan kepada kita
untuk hanya takut kepada Allah Ta’ala, bukan manusia ciptaan-Nya. Itulah yang
hilang hari ini, keberanian untuk menyampaikan kebenaran karena takut pada
manusia, takut kehilangan jabatan dan pekerjaan.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Yang Ketiga, adalah pelajaran tentang ujian
keimanan dan konsekuensi Tauhid.
Mengenal Allah dan meyakini akan kebenarannya dan
berani berdiri tegak di jalan kebenaran akan mendapatkan ujian dan tantangan. Nabi
Ibrahim mendapati dirinya dibakar hidup-hidup karena keberaniannya
menghancurkan berhala.
Keberanian untuk berkata dan bertindak benar akan
diuji apakah dipenjara, dihukum kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya. Allah
Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ
وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit
ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah
(wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”.
Allah Ta’ala tidak akan membiarkan orang yang
beriman, orang yang telah berani tegak dalam kebenaran dan ketauhidannya kepada
Allah. Allah Ta’ala mengirimkan kabar gembira kepada mereka akan kesabarannya
dalam jalan kebenaran.
Kesabarannya tidak takut kepada manusia dengan
segala jabatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Sebagaimana Ibrahim diberi
kabar gembira dan pertolongan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dinukil Al
Qur’anul Karim dalam surah Al-Anbiya ayat 69:
قُلْنَا
يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman: ‘Wahai api! Jadilah kamu
dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!'”
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Nabiullah Ibrahim telah mengajarkan kepada kita
bahwa ketauhidan kepada Allah Ta’ala harus dibangun dengan satu kesadaran
melalui optimalisasi potensi fikir yang kita miliki. Bahwa, keimanan yang telah
tumbuh subur dalam diri harus melahirkan sikap memproteksi diri dari nilai dan
keyakinan keyakinan yang tidak sejalan dengan perintah Allah Ta’ala.
Lebih dari itu, dibutuhkan keberanian untuk
menegakkan kebenaran dan ketauhidan meski konsekuensinya akan mendapat
perlakuan yang tidak pantas; tapi Allah menggaransi akan memberikan kemuliaan
pada mereka yang tegak di jalan kebenaran.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Sumber : https://hidayatullah.or.id/khutbah-jumat-tiga-pembelajaran-tauhid-dalam-kisah-nabi-ibrahim/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar