Oleh: Dr. Fatihunnada, Lc., M.A., Dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah wal 'Arabiyyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: وَإِذا ما
أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زادَتْهُ هذِهِ إِيماناً
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزادَتْهُمْ إِيماناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ.
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ
وَماتُوا وَهُمْ كافِرُونَ. (التوية: ١٢٤-١٢٥). وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى
أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ
لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا
أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin sidang Jumat
yang dirahmati Allah,
Al-Qur’an adalah kitab
suci umat Islam yang merupakan sumber hukum dan pedoman kehidupan di dunia. Al-Qur’an
tidak sebatas bahan bacaan biasa yang melahirkan kebaikan atau pahala dari
setiap huruf yang dibaca, akan tetapi Al-Qur’an juga merupakan kitab yang harus
dibaca dengan penuh keimanan dan kesucian hati agar melahirkan karakter mulia.
Imam Ibnu Katsir dalam
kitab “As-Sirah an-Nabawiyah”, juz 2, halaman 33 mengutip kisah Islamnya
Umar bin Khatthab yang disampaikan Ibnu Ishaq, bahwa ketika Umar bin Khatthab
mendengar Khabbab bin al-Arat membacakan surat Thaha kepada Fatimah bin
Khatthab, Umar meminta Fatimah menyerahkan lembaran surat Thaha kepadanya untuk
dibaca.
Setelah Umar
membacanya, ia berkata, “Betapa indah dan mulia bacaan ini”. Setelah itu, Umar
meminta Khabbab menemaninya menghadap Nabi untuk masuk Islam. Kisah ini
menggambarkan bahwa dengan keimanan dan kesucian hati, membaca dan mendengarkan
Al-Qur’an akan mempengaruhi perilaku seseorang. Hal ini ditegaskan Allah dalam
Al-Taubah, ayat 124-125:
وَإِذا ما
أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زادَتْهُ هذِهِ إِيماناً
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزادَتْهُمْ إِيماناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ.
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ
وَماتُوا وَهُمْ كافِرُونَ
“Apabila diturunkan
suatu surah, di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah
di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?’ Adapun
(bagi) orang-orang yang beriman, (surah yang turun) ini pasti menambah imannya
dan mereka merasa gembira. Adapun (bagi) orang-orang yang di dalam hatinya ada
penyakit, (surah yang turun ini) akan menambah kekufuran mereka yang telah ada
dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.”
Ketika orang beriman
membaca dan mendengar Al-Qur’an, maka ada perubahan positif di dalam hatinya
dengan peningkatan kualitas iman dan implementasi iman dalam bentuk perilaku
baik yang mencerminkan Al-Qur’an. Al-Qur’an juga bisa melahirkan kebahagiaan di
dalam hati mereka karena dapat membimbing mereka ke jalan yang benar. Hal ini
ditegaskan Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam “At-Tafsirul Munir”, juz 11, halaman
85:
فَأَمَّا
المُؤْمِنُوْنَ فَيَزِيْدُهُمْ نُزُوْلُ القُرْآنِ يَقِيْنًا وِتَصْدِيْقًا
وَقُوَّةً دَافِعَةً إِلَى العَمَلِ بِهِ، وَهُمْ أَيْ وَحَالُهُمْ أَنَّهُمْ
يَفْرَحُوْنَ بِنُزُوْلِ السُّوْرَةِ لِأَنَّهًا تُزَكِّيْ أَنْفُسَهُمْ،
وَتُرْشِدُهُمْ إِلَى سَعَادَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Adapun orang-orang
beriman, maka turunya Al-Qur’an akan menambahkan keyakinan terhadap Al-Qur’an,
pengakuan kebenaran Al-Qur’an, dan kekuatan untuk mengamalkan isi kandungan
Al-Qur’an. Mereka merasa senang dengan turunnya surat Al-Qur’an karena dapat
membersihkan jiwa mereka dan menunjukkan kepada mereka jalan menuju kebahagiaan
di dunia dan akhirat.”
Hadirin sidang Jumat
yang dirahmati Allah,
Di sisi lain, orang
yang tidak memiliki keimanan dan kesucian hati akan menolak kebenaran
Al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa Al-Qur’an hanya sebatas bacaan biasa, bahkan
mencemooh Al-Qur’an sebagai buatan manusia, sebagai karya syair manusia, dan
sebagai sihir. Allah menyinggung hal ini dalam surat Al-Nisa’, ayat 140:
وَقَدْ نَزَّلَ
عَلَيْكُمْ فِي الكتاب أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ الله يُكْفَرُ بِهَا
وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حتى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ
غَيْرِهِ
“Sungguh, Allah
telah menurunkan (ketentuan) bagimu dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu
mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang
kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka memasuki pembicaraan
yang lain.”
Suasana hati membuat
seseorang dapat menentukan sikap dalam merespons sesuatu. Ketika hati dalam
keadaan baik, maka apapun yang datang akan disikapi dengan baik. Al-Qur’an
adalah mukjizat Allah, akan tetapi untuk menghidupkannya dalam karakter
manusia, ia harus bisa membersihkan hatinya dari sifat-sifat buruk. Hal ini
senada dengan apa yang disampaikan Syekh al-Sya’rawi dalam “Tafsir
asy-Sya’rawi” atau “Khawathirusy Sya’rawi”, juz 17, halaman 105:
فَالقُرْآنُ
وَاحِدٌ، لَكِنَّ المُسْتَقْبِلَ لَهُ مُخْتَلِفٌ: هَذَا اسْتَقْبَلَهُ بِنَفْسٍ
صَافِيَةٍ رَاضِيَةٍ، وَهَذَا اسْتَقْبَلَهُ بِلَدَدٍ وَقَلْبٍ مُغْلَقٍ،
فَكَأَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ، فَالمَسْأَلَةُ مَسْأَلَةُ فِعْلٍ وَقَابِلٍ
لِلفِعْلِ، وَسَبَقَ أَنْ مَثَّلْنَا لِذَلِكَ بِمَنْ يَنْفُخُ فِي يَدِهِ
أَيَّامَ البَرْدِ وَالشِّتَاءِ بِقَصْدِ التَّدْفِئَةِ، وَيَنْفُخُ فِي كُوْبِ الشَّايِ
مَثَلاً بِقَصْدِ التَّبْرِيْدِ، فَالفِعْلُ وَاحِدٌ، لَكِنَّ المُسْتَقْبِلَ
مُخْتَلِفٌ
“Al-Qur’an satu,
tetapi yang menerimanya berbeda-beda. Satu orang menerima Al-Qur’an dengan hati
yang bersih dan penuh keridloan, sedangkan orang lain menerimanya dengan
menentang dan hati yang tertutup, seakan-akan ia tidak mendengar Al-Qu’'an.
Oleh karena itu, permasalahannya terletak pada perilaku dan menyikapinya.
Sebagai contoh hal tersebut adalah orang yang meniupkan angin dari mulutnya ke
arah tangannya di musim dingin atau penghujan untuk menghangatkan tangan, akan
tetapi berbeda pada saat ia meniupkan angin dari mulutnya ke cangkir teh untuk
mendinginkan air teh. Jadi perilakunya sama, tetapi yang menerimanya berbeda.”
Hadirin sidang Jumat
yang dirahmati Allah,
Semoga Allah selalu
memberikan keimanan dan ketenangan hati dalam diri kita agar dapat membaca,
mendengar, dan menerima Al-Qur’an dengan baik, sehingga kita dapat
mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dari
ini, semoga kita tergolong orang-orang yang bertakwa di hadapan Allah. Amin, ya
Rabbal ‘Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ
هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber: https://nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-pengaruh-al-qur-an-dalam-kehidupan-manusia-9ipEA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar