Oleh : Rozikin
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ
الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِصِحَّةِ الْأَرْوَاحِ وَالْأَبْدَانِ. اَشْهَدُ
اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، الَّذِيْ بَعَثَهُ اللهُ الْمَلِكُ
الْقُدُّوْسُ الْمَنَّانُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ
الْقِيَامِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُهَا النَّاسُ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ
وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى
فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ
وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita
nikmat iman dan Islam. Nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya.
Semoga kita selalu berada dalam keadaan Iman dan Islam hingga akhir hayat kita.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam, yang menjadi panutan kita dan tiap sunnahnya selalu kita
teladani.
Mengawali khutbah Jum’at ini, marilah kita
tingkatkan ketakwaan kita dengan menjalankan hal-hal yang menyebabkan kita
mendapatkan pahala, yang mengantarkan keselamatan di dunia maupun selamat di
akhirat, dan selain itu, marilah kita menghindari dan menjauhi hal-hal yang
menyebabkan kita mendapatkan dosa, yang mengantarkan kepada kesengsaraan di
dunia maupun di akhirat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Meningkatkan kualitas taqwa seorang muslim pasti
akan meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agamanya secara baik dan
lebih sempurna. Islam mengarahkan umatnya agar memiliki etos kerja yang tinggi
dan mengarah pada profesionalisme. Bila kita perhatikan ayat-ayat al-Qur’an
yang menekankan tentang iman kepada Allah, selalu diikuti dengan amal yang
saleh yaitu bekerja secara baik, dengan etos kerja yang tinggi, rencana yang
telah disiapkan dan mengarah pada profesionalisme.
Dalam al-Qur’an banyak kita jumpai bimbingan dan
pengarahan pada kegiatan seperti disebutkan di atas, misalnya:
فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ
الْمُبِينُ
“Adapun orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam
rahmat-Nya. Itulah kemenangan yang nyata.” (QS. al-Jatsiah [45]: 30)
Manusia yang beriman dan bekerja dengan baik,
sehingga melahirkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi sesamanya disebutkan
al-Qur’an sebagai manusia yang paling baik dan terpuji. Sesungguhnya manusia
yang paling mulia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesamanya
dan makhluk lain secara menyeluruh.
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
melakukan pekerjaan yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS.
al-Bayyinah [98]: 7)
Ayat lain dalam al-Qur’an menyebutkan bahwa
orang-orang yang beriman dan bekerja secara baik dan profesional akan
memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dua kebahagiaan itu merupakan
suatu kemenangan yang agung yang kita dambakan.
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ
الْفَوْزُ الْكَبِيرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. al-Buruj [85]: 11)
Istilah bekerja dengan menggunakan kata amal dalam
al-Qur’an, bukan saja dipakai dalam arti beramal atau bekerja untuk kehidupan
akhirat, tapi digunakan juga untuk bekerja bagi kehidupan dunia. Sebagai contoh
dapat dikemukakan ayat berikut ini:
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا
فَضْلًا يَاجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ
الْحَدِيدَ(10)أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا
صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada
Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung,
bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi
untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya;
dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Saba` [34]: 10-11)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Hadits Rasulullah saw banyak yang mengarahkan umat
manusia agar beretos kerja yang tinggi dan mengarah kepada profesionalisme
sesuai dengan pengarahan dan bimbingan dari al-Qur’an seperti yang disebutkan
di atas, diantaranya: “Sesungguhnya Allah saw mencinta hamba-Nya yang
bekerja secara profesionisme.” (al-Hadits)
Dari hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,
diceritakan bahawa ada seorang sahabat yang meminta bantuan kepada Nabi. Nabi
memberi bantuan kepada sahabat itu, tetapi kemudian ia meminta lagi. Nabi
memperingatkan sahabat itu dan mengajarkannya supaya ia tidak selalu meminta,
mencari belas kasihan orang lain, karena sesungguhnya tangan di atas atau
memberi adalah lebih baik dari tangan dibawah yang meminta.
Selanjutnya Nabi bertanya kepada sahabatnya itu,
apakah ia masih memiliki sesuatu di rumahnya. Sahabat itu menjawab bahwa ia
tidak memiliki suatu apapun, kecuali sebuah mangkok tua. Nabi berkata padanya,
besok kamu bawa mangkok itu, akan aku lelangkan kepada sahabat yang lain. Esok
harinya sahabat itu membawa mangkok tersebut dan diserahkan kepada Nabi. Nabi
mengumumkan pada para sahabat, siapa yang akan menolong temannya dengan jalan
membeli mangkok miliknya.Beberapa sahabat berkenan membelinya, akhirnya
diambillah harga yang paling tinggi senilai dua dirham.
Nabi menyerahkan kepada pemilik mangkok itu satu
dirham untuk membeli makanan bagi keluarganya. Kata Nabi, yang satu dirham lagi
kau belikan kapak besar lalu bawa kemari. Setelah diberikan kepada Nabi, Nabi
memasangkan gagangnya lalu berkata,
“Sekarang kamu pergi cari kayu dan jual ke
pasar. Selama lima belas hari aku tidak mau melihatmu.” Sahabat itu kemudian
bekerja sesuai dengan yang disarankan Nabi. Setelah itu ia kembali kepada Nabi
dengan membawa keuntungan sepuluh dirham. Nabi bersabda padanya, “Hal ini lebih
baik bagimu daripada meminta belas kasihan orang lain yang akan menjadi noda
pada wajahmu di hari kiamat.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Betapa kerasnya Islam mengarahkan umatnya agar mau
bekerja keras dan bekerja secara profesional serta mencela mereka yang besikap
pemalas, yang suka meminta belas kasihan orang lain. Tergambar dalam hadits
berikut ini, Abu Abdirrahman Auf bin Malik al-Asyja’i berkata:
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ
أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللَّهِ وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ فَقُلْنَا
قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ
اللَّهِ فَقُلْنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ أَلاَ
تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا قَدْ
بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَعَلَى مَا نُبَايِعُكَ قَالَ عَلَى أَنْ
تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ
وَتُطِيعُوا وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً وَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا
فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا
يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ (رواه مسلم)
“Ketika kami sedang duduk bersama beberapa
orang sahabat, jumlah kami kira-kira tujuh, delapan atau sembilah orang, datang
pada kami Rasulullah saw seraya bersabda, “Tidakkah kamu berbaiat kepadaku?”.
Kami menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu.”
Kemudian Nabi saw bersabda lagi, “Tidakkah kamu berbaiat kepadaku?”. Maka kami
segera mengulurkan tangan untuk berbaiat sambil berkata, “Kami telah berbaiat,
wahai Rasulullah, maka baiat apa lagi yang harus kami sampaikan?”.
Nabi menjawab, “Berbaiat untuk menyembang Allah
dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kemudian shalat lima waktu
serta taat kepada Allah.” Kemudian Nabi saw merendahkan suaranya sambil
bersabda, “Dan jangan meminta-minta suatu apapun kepada orang lain.” Betapa
kesungguhan para sahabat menerima baiat Nabi tadi, perawi hadits meriwayatkan
bahwa ia melihat sebagian dari mereka yang jatuh cambuk kendaraannya dan ia
tidak meminta pertolongan kepada siapa pun untuk mengembalikannya”. (HR.
Muslim: No.1729)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Sungguh amat tercela orang yang selalu
meminta-minta belas kasihan orang lain, ia akan menghadap kepada Allah di hari
kiamat dengan muka bagaikan tengkorak.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ
يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ
مُزْعَةُ لَحْمٍ (رواه البخاري ومسلم)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Rasulullah
saw bersabda, “Seorang tidak henti-hentinya meminta belas kasihan kepada
orang lain, hingga nanti ia akan datang pada hari kiamat dengan bentuk muka
yang tidak berdaging (seperti tengkorak).” (HR. Bukhari: No. 1381 dan
Muslim: No. 1725)
Keterangan di atas menjelaskan kepada kita betapa
besarnya bimbingan ajaran Islam agar manusia memiliki iman dan takwa yang
sempurna, beretos kerja tinggi dan mengarah pada profesionalisme. Dengan
demikian kehadirannya di dunia ini akan bermakna, memberikan andil yang baik
bagi peradaban umat manusia dan dapat melahirkan karya-karya besar yang
bermanfaat bagi sesama makhluk-Nya
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Demikian khutbah jumat pada hari ini, semoga kita
bisa mengambil sesuatu yang bermanfaat dari apa yang sudah saya sampaikan tadi.
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar