Oleh: Abdul Aziz,
Lc
Khutbah Jumat I:
Mengenal Empat Prinsip Etos Kerja dalam Islam
الحَمْدُ
لِلّهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ
نتَزَوَّدَ بِهَ لِيوْم الحِسَابِ وَبِالْعِبَادَةِ لَهُ إِظْهَارًا لِلشُّكْرِ
عَلى جَمِيْعِ الْمَصَالِحِ وَالْمَنَافِعِ الّتِي خَلَقَهَا لِجَمِيْعِ
عِبَادِهِ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ
رَبُّ النَّاسِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ النَّاسِ وَالْمُصْطَفَى لِإِرْشَادِ أُمَّتِهِ
لِمَا يَرْضَاه رَبُّهُ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin sidang Jumat
Hafidzakumullah!
Bekerja merupakan
keniscayaan dalam hidup. Dalam suasana zaman yang semakin sulit, kaum beriman
dituntut mampu survive dan bangkit membangun peradaban seperti sedia kala.
Syarat untuk itu tidak cukup lagi ditempuh dengan kerja keras, tetapi harus
kerja cerdas. Tidak ada lain bagi kaum beriman kecuali harus mengkaji pandangan
Islam tentang etos kerja.
Meski makhluk hidup di
bumi sudah mendapat jaminan rezeki dari Allah, namun kemalasan tidak punya
tempat dalam Islam. Fatalisme atau paham nasib tidak dikenal dalam Islam.
Firman Allah,
$]%øÍ (#qäótGö/$$sù yZÏã «!$# XøÎh9$# çnrßç6ôã$#ur (#ráä3ô©$#ur ÿ¼ã&s! (
Ïmøs9Î) cqãèy_öè? ÇÊÐÈ
“…maka carilah rezeki di
sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada
Allah kamu akan dikembalikan” (Qs Al-Ankabut [29]: 17).
Menurut ayat itu,
rezeki harus diusahakan. Dan seakan mengonfirmasi ayat di atas, firman Allah di
ayat lain tegas menyatakan, cara mendapat rezeki adalah dengan bekerja.
#sÎ*sù ÏMuÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãϱtFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.ø$#ur ©!$# #ZÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ
“Jika shalat telah
ditunaikan, maka menyebarlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah, dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung” (Qs Al-Jumu’ah [62]:
10).
Ayat lain bahkan
menyatakan, dijadikannya siang terang agar manusia mencari rezeki dari Allah
(Qs Al-Isra: 12), terlihatnya bahtera berlayar di lautan agar manusia mencari
karunia Allah (Qs An-Nahl: 14), adanya malam dan siang agar manusia
beristirahat pada waktu malam dan bekerja pada waktu siang (Qs Al-Qashash: 73).
$uZù=yèy_ur @ø©9$# u$pk¨]9$#ur Èû÷ütGt#uä (
!$tRöqysyJsù spt#uä È@ø©9$# !$uZù=yèy_ur spt#uä Í$pk¨]9$# ZouÅÇö7ãB (#qäótGö;tGÏj9 WxôÒsù `ÏiB óOä3În/§ (#qßJn=÷ètGÏ9ur yytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Ïtø:$#ur 4
¨@à2ur &äóÓx« çm»oYù=¢Ásù WxÅÁøÿs? ÇÊËÈ
“dan Kami jadikan malam
dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan
tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu
mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami
terangkan dengan jelas”, Qs Al-Isra (17): 12.
uqèdur Ï%©!$# t¤y tóst7ø9$# (#qè=à2ù'tGÏ9 çm÷ZÏB $VJóss9 $wÌsÛ (#qã_Ì÷tGó¡n@ur çm÷YÏB Zpuù=Ïm $ygtRqÝ¡t6ù=s? ts?ur ù=àÿø9$# tÅz#uqtB ÏmÏù (#qäótFö7tFÏ9ur ÆÏB ¾Ï&Î#ôÒsù öNà6¯=yès9ur crãä3ô±s? ÇÊÍÈ
“dan Dia-lah, Allah yang menundukkan
lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan),
dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu
melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari
karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”, Qs An-Nahl (16): 14.
`ÏBur ¾ÏmÏGyJôm§ @yèy_ â/ä3s9 @ø©9$# u$yg¨Y9$#ur (#qãZä3ó¡oKÏ9 ÏmÏù (#qäótGö;tGÏ9ur `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù ö/ä3¯=yès9ur tbrãä3ô±n@ ÇÐÌÈ
“dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan
untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya
kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu
bersyukur kepada-Nya”, Qs Al-Qashash (28): 73.
Masih banyak ayat
serupa. Intinya, rezeki Allah hanya akan diperoleh dengan etos kerja tinggi.
Bagaimana teknis pelaksanaan etos kerja sebagaimana perintah Allah di atas?
Hadirin sidang Jumat
Hafidzakumullah!
Menurut riwayat
Al-Baihaqi dalam ‘Syu’abul Iman’ ada empat prinsip etos kerja yang
diajarkan Rasulullah. Keempat prinsip itu harus dimiliki kaum beriman jika
ingin menghadap Allah dengan wajah berseri bak bulan purnama.
Pertama, bekerja secara halal (thalaba ad-dunya halalan). Halal dari
segi jenis pekerjaan sekaligus cara menjalankannya. Antitesa dari halal adalah
haram, yang dalam terminologi fiqih terbagi menjadi ‘haram lighairihi’
dan ‘haram lidzatihi’. Analoginya, menjadi anggota DPR adalah halal.
Tetapi jika jabatan DPR digunakan mengkorupsi uang rakyat, status hukumnya
jelas menjadi haram. Jabatan yang semula halal menjadi haram karena ada faktor
penyebabnya. Itulah ‘haram lighairihi’.
Berbeda dengan preman.
Dimodifikasi bagaimanapun ia tetap haram. Keharamannya bukan karena faktor dari
luar, melainkan jenis pekerjaan itu memang ‘haram lidzatihi’.
Kedua, bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain
(ta’affufan an al-mas’alah). Kaum beriman dilarang menjadi benalu bagi orang
lain. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang muda dan kuat tetapi
pekerjaannya mengemis. Beliau kemudian bersabda, “Sungguh orang yang mau
membawa tali atau kapak kemudian mengambil kayu bakar dan memikulnya di atas
punggung lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi atau
ditolak” (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian,
setiap pekerjaan asal halal adalah mulia dan terhormat dalam Islam. Lucu jika
masih ada orang yang merendahkan jenis pekerjaan tertentu karena dipandang
remeh dan hina. Padahal pekerjaan demikian justru lebih mulia dan terhormat di
mata Allah ketimbang meminta-minta.
Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi).
Mencukupi kebutuhan keluarga hukumnya fardlu ain. Tidak dapat diwakilkan, dan
menunaikannya termasuk kategori jihad. Hadis Rasulullah yang cukup populer, “Tidaklah
seseorang memperoleh hasil terbaik melebihi yang dihasilkan tangannya. Dan
tidaklah sesuatu yang dinafkahkan seseorang kepada diri, keluarga, anak, dan
pembantunya kecuali dihitung sebagai sedekah” (HR Ibnu Majah).
Tegasnya, seseorang
yang memerah keringat dan membanting tulang demi keluarga akan dicintai Allah
dan Rasulullah. Ketika berjabat tangan dengan Muadz bin Jabal, Rasulullah
bertanya soal tangan Muadz yang kasar. Setelah dijawab bahwa itu akibat setiap
hari dipakai bekerja untuk keluarga, Rasulullah memuji tangan Muadz seraya
bersabda, “Tangan seperti inilah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.
Keempat, bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala
jarihi). Penting dicatat, Islam mendorong kerja keras untuk kebutuhan diri
dan keluarga, tetapi Islam melarang kaum beriman bersikap egois. Islam
menganjurkan solidaritas sosial, dan mengecam keras sikap tutup mata dan
telinga dari jerit tangis lingkungan sekitar.
(#qãZÏB#uä «!$$Î/ ¾Ï&Î!qßuur (#qà)ÏÿRr&ur $£JÏB /ä3n=yèy_ tûüÏÿn=øÜtGó¡B ÏmÏù (
tûïÏ%©!$$sù (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qà)xÿRr&ur öNçlm; Öô_r& ×Î7x. ÇÐÈ
“Hendaklah kamu beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian harta yang Allah telah
menjadikanmu berkuasa atasnya.” (Qs Al-Hadid [57]: 7).
Lebih tegas, Allah
bahkan menyebut orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan nasib kaum miskin
dan yatim sebagai pendusta-pendusta agama (Qs Al-Ma’un: 1-3).
|M÷uäur& Ï%©!$# Ü>Éjs3ã ÉúïÏe$!$$Î/ ÇÊÈ Ï9ºxsù Ï%©!$# íßt zOÏKuø9$# ÇËÈ wur Ùçts 4n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÈ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan
agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi
Makan orang miskin” Qs Al-Ma’un (107): 1-3.
Itu karena tidak
dikenal istilah kepemilikan harta secara mutlak dalam Islam. Dari setiap harta
yang Allah titipkan kepada manusia, selalu menyisakan hak kaum lemah dan papa.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ
هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Kini #belajaralquran
dan #belajartafsir lebih mudah dengan www.quran.islami.co, baca selengkapnya
di: https://islami.co/khutbah-jumat-mengenal-empat-prinsip-etos-kerja-dalam-islam/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar