Oleh: Ust. A. Taufiq Abdurrahman (Dewan
Da’wah Kabupaten Bantul)
Kita umat manusia diciptakan oleh Allah di dunia
adalah sebagai makhluk untuk memperhambakan diri kepadanya. Pada saat yang sama
kita berfungsi sebagai khalifah, penguasa di muka bumi dalam rangka pengabdian
kepada-Nya. Itulah sebutan mulia bagi manusia yang kita kenal dengan istilah
“khalifatullah fil ardh”
Dalam Al-Qur’an kita dapati firman Allah tentang
hakikat kedudukan manusia di dunia ini:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ
فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang
yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui”. (Qs. Al-Baqarah: 30)
Pada ayat ini terdapat isyarat, bahwa selain
memang manusia ini banyak yang suka berbuat kerusakan, akan tetapi Allah
memiliki rencana dan tujuan khusus, bahwa manusia inilah yang menjadi
“wakil”atau khalifah-Nya untuk membangun dunia, memakmurkan dan mewujudkan
peradaban yang besar. Di tangan manusia-lah kemajuan peradaban kehidupan dunia
ini akan ditentukan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Semangat ajaran Islam adalah kerja dengan penuh
semangat. Sehingga kita semua didorong untuk berlomba-lomba dalam beramal,
berkarya atau berkreasi.
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى
مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٩﴾
“Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai
dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan
mengetahui”, (Qs. Az Zumar: 39)
Islam membenci pengangguran karena kemalasan, dan
sebaliknya menyukai orang-orang yang mau bekerja keras. Secara fiqih, bekerja
mencari nafkah adalah wajib, sedangkan berpangku tangan hukumnya adalah haram.
Orang yang menganggur berarti tidak memanfaatkan anugerah yang telah diberikan
oleh Allah, berupa nikmat hidup, nikmat kekuatan dan kesehatan badan; dan lain
sebagainya.
Secara fitrah, manusia adalah makhluk sempurna.
Dia dibekali dengan bentuk fisik yang indah, dilengkapi akal, hati dan hawa
nafsu. Selain itu manusia juga memiliki kompetensi diri yang unik, beragam,
berbeda satu dengan yang lain. Setiap manusia memiliki potensi yang bisa
digunakan untuk bekerja dalam berbagai bidang kehidupan. Berpangku tangan bukan
hanya membuat orang tak mendapat penghasilan, tapi bisa juga menjerumuskannya
pada perilaku buruk meminta-minta, bahkan merugikan orang lain, demi memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan:
إِنِّي لأَمْقُتُ أَنْ أَرَى الرَّجُلَ
فَارِغًا، لا فِي عَمِلِ دُنْيَا، وَلا آخِرَةٍ
“Sungguh aku benci kepada orang yang
menganggur, yang tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat.” (HR
at-Thabrani).
Pengangguran bisa berdampak negatif, baik pada
diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar. Dampak psikologisnya akan
timbul perasaan malu, depresi, sensitif, kecemasan, kemarahan, ketakutan,
keputusasaan, penurunan harga diri, kesepian dan isolasi sosial, hingga
peningkatan permusuhan.
Dalam lingkup keluarga, menganggur bisa memicu
krisis dan penelantaran keluarga yang seharusnya dinafkahi. Mengabaikan
kewajiban menafkahi keluarga adalah perbuatan dosa, sebagaimana hadits
Rasulullah SAW yang berbunyi:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ
مَنْ يَقُوتُ
“Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia
melalaikan orang yang wajib ia beri nafkah”. (HR Abu Daud).
Islam senantiasa mendorong umatnya untuk
berikhtiar. Menjadi pengangguran bagi orang yang mampu bekerja adalah perbuatan
yang hina dengan berbagai madharat dan dampak negatifnya. Kewajiban manusia
sebagai hamba adalah berusaha, sedangkan soal mencapai hasilnya bagaimana, itu
adalah hal lain; kita serahkan sepenuhnya pada kuasa Allah. Besaran nafkah bisa
disesuaikan dengan kemampuan maksimal yang ada, dan dengan skala prioritas
pemenuhan kebutuhan pokok.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Allah memerintahkan manusia untuk bekerja
sebagaimana firman-Nya:
وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ
عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ
ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٠٥
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah
dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu
akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS
At-Taubah: 105).
Dengan bekerja maka sesungguhnya seseorang sedang
membangun ‘citra diri’ atau harga diri dalam pergaulan hidup di masyarakat.
Kemampuan, keahlian dan hasil karya kita akan dinilai, tanggungjawabnya akan
tampak, rekam jejak hidupnya akan dikenali. Apakah seseorang termasuk dalam
golongan pejuang ataukah justru jadi pecundang.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang
bekerja keras akan mendapat berbagai kemuliaan dan mendapatkan penghormatan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً
عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ
يَمْنَعَهُ
“Sungguh seorang dari kalian yang memanggul
kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta
kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (HR al-Bukhari
dan Muslim).
Kadang kecapekan pulang kerja untuk menunaikan kewajiban
memberi makan anak istri, atau capek belajar untuk menunaikan kewajiban sebagai
amanah dari orang tua rasa; lelah tersebut, jika kita ikhlas, bisa menjadi
penghapus dosa kita
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,
مَنْ اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ
يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek
(lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu
diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani).
مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ
مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ
وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ
“Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang
laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang
dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya
adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Suatu ketika, saat Rasulullah SAW kembali dari
perang Tabuk, beliau melihat seorang sahabat Sa’ad bin Muadz Al-Anshari yang tangannya
melepuh, kulitnya gosong. Rasulullah bertanya, “Mengapa tanganmu itu, wahai
Sa’ad?” Saad menjawab “Tanganku seperti ini, karena aku mengolah tanah dengan
cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,” jawabnya
sambil menunjukkan cangkulnya.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mendekatinya sambil berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh
oleh api neraka,” ucap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengambil
dan mencium tangan Sa’ad. Demikianlah bagaimana penghargaan (apresiasi) dalam
Islam bagi seorang pekerja keras!
Bagaimana cara mencari rezeki dalam Islam? Allah
memberikan arahan:
فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ
وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ١٧
“Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian
beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan
dikembalikan” (QS al-Ankabut:17).
Menurut ayat ini, rezeki harus diusahakan. Allah
mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Allah memberi kesempatan kepada
manusia untuk bekerja mencari rezeki di siang hari, dan pada malam harinya
digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar bisa kerja lagi pada
esok harinya.
وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا
وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا
“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan
Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada ayat yag lain, Allah memberikan rambu-rambu:
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ
فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ
ٱللَّهَ كَثِيرا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠
“Apabila telah ditunaikan shalat maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS Al-Jumu’ah: 10).
Dan sebagai seorang hamba, kita diingatkan bahwa
kepemimpinan dunia ini hanya dijanjikan Allah bagi mereka yang memenuhi syarat:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا
اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي
ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً
يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang
yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. An
Nur: 55)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Amal shaleh disini bermakna “kerja keras” dengan
profesionalisme yang tinggi. Tanpa hal itu, maka seseorang hanya akan menjadi
penonton di tengah hingar bingar pesatnya kemajuan peradaban dunia. Kita
mungkin memang masih bisa hidup, tapi tanpa peran. Hidup kita tidak pernah
diperhitungkan, karena memang tidak bernilai ! Dan apabila orang yang beriman
tidak memiliki syarat tersebut, maka kepemimpinan akan diambil oleh orang yang
tidak beriman tetapi memiliki syarat-syarat profesionalisme.
Kembali kepada surat al-Baqarah ayat 30 yang telah
disampaikan di awal khutbah ini, bahwa manusia semestinya menjadi
“khalifatullah fil ardh” – hal ini hanya akan dapat diperankan oleh orang yang
bekerja dengan semangat kerja keras, professional, dan beriman. Maka marilah
kita semua mempersiapkan diri untuk menjadi para professional yang bersemangat,
optimis dan pantang menyerah. Semua sektor kehidupan bisa menjadi lahan untuk
bekerja dan mendapatkan rezeki, asalkan halal. Kita siapkan anak-anak kita,
generasi penerus kita agar bersemangat dalam belajar dan memperjuangkan
cita-citanya sesuai dengan bakat dan kompetensinya agar menajdi calon pemimpin
di muka bumi ini. Itulah semangat dan etos kerja seorang muslim.
https://mediadakwah.id/etos-kerja-muslim-bersemangat-dan-kerja-keras/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar