Minggu, 03 November 2024

ETOS KERJA MUSLIM: BERSEMANGAT DAN KERJA KERAS



Oleh: Ust. A. Taufiq Abdurrahman (Dewan Da’wah Kabupaten Bantul)

 

Kita umat manusia diciptakan oleh Allah di dunia adalah sebagai makhluk untuk memperhambakan diri kepadanya. Pada saat yang sama kita berfungsi sebagai khalifah, penguasa di muka bumi dalam rangka pengabdian kepada-Nya. Itulah sebutan mulia bagi manusia yang kita kenal dengan istilah “khalifatullah fil ardh”

 

Dalam Al-Qur’an kita dapati firman Allah tentang hakikat kedudukan manusia di dunia ini:

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?

 

Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs. Al-Baqarah: 30)

 

Pada ayat ini terdapat isyarat, bahwa selain memang manusia ini banyak yang suka berbuat kerusakan, akan tetapi Allah memiliki rencana dan tujuan khusus, bahwa manusia inilah yang menjadi “wakil”atau khalifah-Nya untuk membangun dunia, memakmurkan dan mewujudkan peradaban yang besar. Di tangan manusia-lah kemajuan peradaban kehidupan dunia ini akan ditentukan.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Semangat ajaran Islam adalah kerja dengan penuh semangat. Sehingga kita semua didorong untuk berlomba-lomba dalam beramal, berkarya atau berkreasi.

 

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٩﴾

Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui”, (Qs. Az Zumar: 39)

 

Islam membenci pengangguran karena kemalasan, dan sebaliknya menyukai orang-orang yang mau bekerja keras. Secara fiqih, bekerja mencari nafkah adalah wajib, sedangkan berpangku tangan hukumnya adalah haram. Orang yang menganggur berarti tidak memanfaatkan anugerah yang telah diberikan oleh Allah, berupa nikmat hidup, nikmat kekuatan dan kesehatan badan; dan lain sebagainya.

 

Secara fitrah, manusia adalah makhluk sempurna. Dia dibekali dengan bentuk fisik yang indah, dilengkapi akal, hati dan hawa nafsu. Selain itu manusia juga memiliki kompetensi diri yang unik, beragam, berbeda satu dengan yang lain. Setiap manusia memiliki potensi yang bisa digunakan untuk bekerja dalam berbagai bidang kehidupan. Berpangku tangan bukan hanya membuat orang tak mendapat penghasilan, tapi bisa juga menjerumuskannya pada perilaku buruk meminta-minta, bahkan merugikan orang lain, demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan:

 

إِنِّي لأَمْقُتُ أَنْ أَرَى الرَّجُلَ فَارِغًا، لا فِي عَمِلِ دُنْيَا، وَلا آخِرَةٍ

Sungguh aku benci kepada orang yang menganggur, yang tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat.” (HR at-Thabrani).

 

Pengangguran bisa berdampak negatif, baik pada diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar. Dampak psikologisnya akan timbul perasaan malu, depresi, sensitif, kecemasan, kemarahan, ketakutan, keputusasaan, penurunan harga diri, kesepian dan isolasi sosial, hingga peningkatan permusuhan.

 

Dalam lingkup keluarga, menganggur bisa memicu krisis dan penelantaran keluarga yang seharusnya dinafkahi. Mengabaikan kewajiban menafkahi keluarga adalah perbuatan dosa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

 

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang wajib ia beri nafkah”. (HR Abu Daud).

 

Islam senantiasa mendorong umatnya untuk berikhtiar. Menjadi pengangguran bagi orang yang mampu bekerja adalah perbuatan yang hina dengan berbagai madharat dan dampak negatifnya. Kewajiban manusia sebagai hamba adalah berusaha, sedangkan soal mencapai hasilnya bagaimana, itu adalah hal lain; kita serahkan sepenuhnya pada kuasa Allah. Besaran nafkah bisa disesuaikan dengan kemampuan maksimal yang ada, dan dengan skala prioritas pemenuhan kebutuhan pokok.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Allah memerintahkan manusia untuk bekerja sebagaimana firman-Nya:

 

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٠٥

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS At-Taubah: 105).

 

Dengan bekerja maka sesungguhnya seseorang sedang membangun ‘citra diri’ atau harga diri dalam pergaulan hidup di masyarakat. Kemampuan, keahlian dan hasil karya kita akan dinilai, tanggungjawabnya akan tampak, rekam jejak hidupnya akan dikenali. Apakah seseorang termasuk dalam golongan pejuang ataukah justru jadi pecundang.

 

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang bekerja keras akan mendapat berbagai kemuliaan dan mendapatkan penghormatan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

 

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Kadang kecapekan pulang kerja untuk menunaikan kewajiban memberi makan anak istri, atau capek belajar untuk menunaikan kewajiban sebagai amanah dari orang tua rasa; lelah tersebut, jika kita ikhlas, bisa menjadi penghapus dosa kita

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

 

مَنْ اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ

Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani).

 

مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ

Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah).

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Suatu ketika, saat Rasulullah SAW kembali dari perang Tabuk, beliau melihat seorang sahabat Sa’ad bin Muadz Al-Anshari yang tangannya melepuh, kulitnya gosong. Rasulullah bertanya, “Mengapa tanganmu itu, wahai Sa’ad?” Saad menjawab “Tanganku seperti ini, karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,” jawabnya sambil menunjukkan cangkulnya.

 

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendekatinya sambil berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka,” ucap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengambil dan mencium tangan Sa’ad. Demikianlah bagaimana penghargaan (apresiasi) dalam Islam bagi seorang pekerja keras!

 

Bagaimana cara mencari rezeki dalam Islam? Allah memberikan arahan:

 

فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ١٧

Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan” (QS al-Ankabut:17).

 

Menurut ayat ini, rezeki harus diusahakan. Allah mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja mencari rezeki di siang hari, dan pada malam harinya digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar bisa kerja lagi pada esok harinya.

 

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11).

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada ayat yag lain, Allah memberikan rambu-rambu:

 

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠

Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS Al-Jumu’ah: 10).

 

Dan sebagai seorang hamba, kita diingatkan bahwa kepemimpinan dunia ini hanya dijanjikan Allah bagi mereka yang memenuhi syarat:

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. An Nur: 55)

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Amal shaleh disini bermakna “kerja keras” dengan profesionalisme yang tinggi. Tanpa hal itu, maka seseorang hanya akan menjadi penonton di tengah hingar bingar pesatnya kemajuan peradaban dunia. Kita mungkin memang masih bisa hidup, tapi tanpa peran. Hidup kita tidak pernah diperhitungkan, karena memang tidak bernilai ! Dan apabila orang yang beriman tidak memiliki syarat tersebut, maka kepemimpinan akan diambil oleh orang yang tidak beriman tetapi memiliki syarat-syarat profesionalisme.

 

Kembali kepada surat al-Baqarah ayat 30 yang telah disampaikan di awal khutbah ini, bahwa manusia semestinya menjadi “khalifatullah fil ardh” – hal ini hanya akan dapat diperankan oleh orang yang bekerja dengan semangat kerja keras, professional, dan beriman. Maka marilah kita semua mempersiapkan diri untuk menjadi para professional yang bersemangat, optimis dan pantang menyerah. Semua sektor kehidupan bisa menjadi lahan untuk bekerja dan mendapatkan rezeki, asalkan halal. Kita siapkan anak-anak kita, generasi penerus kita agar bersemangat dalam belajar dan memperjuangkan cita-citanya sesuai dengan bakat dan kompetensinya agar menajdi calon pemimpin di muka bumi ini. Itulah semangat dan etos kerja seorang muslim.

 

https://mediadakwah.id/etos-kerja-muslim-bersemangat-dan-kerja-keras/

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODERASI BERAGAMA

Oleh : Muhammad Ali Wava S.Ag , Musrif MBS Al-Muttaqin Gedangsari, Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta     إِنَّ ال...