اَلْحَمْدُ
للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ،
وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ
بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ
خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها
الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ
المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم،
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ
اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ
النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Ma’asyiral Muslimin
rahimakumullah.
Kita memuji Allah atas
keagungan-Nya dan mensyukuri segala nikmatnya. Termasuk suasana yang tenang,
aman dan damai menjelang Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum beberapa hari ke
depan. Mari kita sambut pesta demokrasi tersebut dengan suasana hati yang
menyenangkan dan penuh kegembiraan. Oleh karenanya, segala macam bentuk gangguan,
halangan, dan rintangan harus dicegah dan dihindari.
Pergiliran
kepemimpinan adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak.
Allah Subhanahu wa ta’ala
berfirman:
وَتِلْكَ
الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ
“Dan masa (kejayaan
dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat
pelajaran)“, QS. Ali Imran (3): 140.
Pemilu merupakan
proses pengalihan kekuasaan dan kepemimpinan nasional. Kita ingin setiap
pergantian kekuasaan terlaksana dengan jujur, adil, dan damai. Sebagai elemen
bangsa terbesar, wajib bagi kita ummat Islam untuk menyukseskannya. Perbedaan partai
yang kita pilih hendaknya tidak menimbulkan pertentangan, permusuhan, apalagi
dendam. Karenanya, hindari provokasi, jauhkan adu domba, dan politik pecah belah.
Kita tetap harus
menjamin bahwa perbedaan itu tidak membahayakan ketenangan dan ketentraman
masyarakat, asal disertai argumen yang kuat dan benar serta dialog yang baik
dan terbuka.
Jama’ah Jum’at
rahimakumullah.
Umat Islam harus pro
aktif, kita tidak boleh berpangku tangan. Ketika menyaksikan kecurangan,
pemalsuan, dan penyimpangan.
Kita harus berani menjadi saksi, membela kebenaran demi
kepentingan rakyat dan kemaslahatan bangsa. Jangan menjadi saksi tuli dan bisu,
nyatakan yang benar, singkirkan yang salah. Bagi kita, memilih
pemimpin itu bagian penting dari ajaran Islam. Jika ingin negara kita ini maju,
berdaulat, adil, dan makmur.
Maka wajib bagi kita
memilih pemimpin yang berkualitas, yaitu, pertama: memiliki integritas
(artinya bermoral dan beretika), dan, kedua, memiliki kapabilitas
(mempunyai kemampuan dan kompetensi). Dalam hal ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan
dua kriteria pemimpin melalui ungkapan Nabi Yusuf Alaihissalam ketika menyatakan
kesiapan untuk menjadi pejabat negeri Mesir.
قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ
الْاَرْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ ﴿يوسف ۵﴾
“Dia (Yusuf)
berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku
adalah orang yang pandai menjaga (amanah) dan berilmu pengetahuan”, QS.
Yusuf (12):
55.
Allah Subhanahu wa
ta’ala telah memberi rumus yang sederhana, jika bangsa ini menginginkan
perubahan yang lebih baik, maka harus memilih pemimpin yang terbaik sebagaimana
digambarkan dalam ayat tadi.
Perubahan ini harus dilakukan oleh kita, mulai
mensosialisasikan hingga memilih calon pemimpin di kotak suara. Kita harus aktif
dan tidak pasif karena kita yang menghendaki perbaikan. Perbaikan nasib bangsa
Indonesia terjadi oleh dan dari bangsa kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا
بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ
بِقَوۡم سُوٓء
ا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ
“Sesungguhnya Allah
tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya”, QS. Ar Ra’d (13): 11.
Ayat ini memberi
isyarat kepada kita agar bersungguh-sungguh melakukan segala bentuk ikhtiar,
usaha, dan aksi nyata di lapangan.
Jama’ah Jum’at
rahimakumullah
Bukankah setiap hari
kita selalu mengulang-ulang doa:
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا
وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُن وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami,
anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al Furqan (25): 74.
Di akhir do’a
tersebut, yaitu: “Waj’alna lil Muttaqina Imaman”. Artinya, kita berharap kepada Allah agar dipimpin
orang yang bertakwa, bukan sembarang orang.
Kita tidak rela
dipimpin orang yang tidak takut kepada Allah. Kepemimpinan negara ini tidak
boleh dipisahkan dari keimanan dan ketakwaan. Dalam Islam tidak dikenal
pemisahan antara urusan agama dengan urusan kehidupan dunia.
Pemimpin yang bertakwa
itu memiliki beberapa kriteria yaitu: Pertama: Shiddiq (selalu bersikap
benar). Kedua: Amanah (jujur dan bertanggung jawab). Ketiga: Tabligh (menyampaikan
kebenaran), dan Keempat: Fathanah (memiliki kecerdasan).
Pemimpin yang memiliki
rasa takut kepada Allah akan berusaha sekuat tenaga untuk mengoyomi,
melindungi, dan mensejahterkan rakyatnya. Dia tidak akan membiarkan rakyatnya
terdzalimi di bawah kepemimpinannya. Dia juga tidak rela jika kedapatan
rakyaknya miskin gara-gara sumber daya alamnya dieksplotasi secara
sewenang-wenang oleh sekelolmpok bangsanya sendiri dan sekelompok orang asing.
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabd,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ
مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya
seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, tempat orang-orang berperang di
belakangnya dan berlindung dengannya.”, HR. Muslim.
Jama’ah Jum’at
rahimakumullah.
Melalui pemilu nanti,
kita berharap terpilihnya pemimpin yang membela kepentingan rakyat dan peduli
terhadap kepentingan agama, rakyat, dan kaum muslimin. Allah telah memberi
telinga kepada kita untuk mendengar baik-baik semua berita dan informasi secara
cerdas dan cermat.
Allah juga memberi
kita mata untuk melihat rekam jejak para calon pemimpin. Kita juga diberi akal
untuk berfikir dan hati untuk merasa. Semua alat tersebut hendaknya digunakan
sebaik-baiknya untuk memilih pemimpin yang terbaik untuk negeri tercinta ini.
Ma’asyiral Muslimin
rahimakumullah.
Agar pemilu dan
pilpres berjalan dengan baik dan berkualitas, kita harus mendorong pemerintah
dan memberikan edukasi kepada Masyarakat beberapa hal berikut:
Pertama, menjadikan pemilu nanti tidak gaduh, harus berjalan damai, tenang,
aman, dan nyaman.
Kedua, pemilu harus jujur dan transparan, mulai dari pelaksana, pelaku,
pengawas, dan pesertanya.
Ketiga, jauhi permusuhan, adu domba, dan fitnah. Jangan saling menghujat dan
caci maki, apalagi saling membenci dan bermusuhan dengan saudara, teman atau
tetangga sendiri.
Keempat, bermunajat yang maksimal agar Allah menghadirkan pemimpin dan
wakil-wakil rakyat yang jujur, adil dan bertakwa. Agar masyarakat Indonesia ini
sejahtera lahir bathin dan bisa menjalankan ajaran agama dengan baik.
Pemilu adalah momentum
untuk mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik, lebih maju, adil, makmur,
sejahtera, beradab, dan bermartabat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Sumber : https://hidayatullah.or.id/khutbah-jumat-memilih-pemimpin-yang-berkualitas/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar