اَلْحَمْدُ
للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ.
أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ
سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ
بِأَبِي الْقَاسِمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِاَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِيٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى
وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ.
Jamaah Jumat yang
berbahagia,
Allah swt
memerintahkan kita untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Bentuk takwa bukan
saja bersifat vertikal, antara kita dan Allah Swt semata, melainkan juga
horizontal, yakni kita dengan makhluk Allah lainnya, khususnya dengan sesama
manusia. Ibarat kita titik koordinatnya, dua arah itu harus dijaga
keseimbangannya.
Kita tidak bisa
menafikan hubungan sesama manusia. Hal ini harus dijaga betul oleh kita sebagai
makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dan mesti membutuhkan orang lain.
Menjaga hubungan persaudaraan kemanusiaan ini harus dilakukan. Betapa tidak,
Allah swt sebagai Sang Pencipta telah memuliakan betul kita sebagai makhluk-Nya
yang diciptakan terbaik. Apalagi kita yang
وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ
خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ
“Dan sungguh, Kami
telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut,
dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di
atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
Jamaah Jumat yang
berbahagia,
Dalam ayat tersebut,
Allah swt dengan jelas menggunakan dua taukid atau penguatan sekaligus untuk
meyakinkan kita semua bahwa Dia betul-betul memuliakan manusia, yakni
menggunakan lam taukid dan qad yang bermakna taukid karena
bertemu dengan kalimat fiil madli. Artinya, Allah Swt betul-betul
memuliakan makhluk yang telah Ia ciptakan tersebut.
Kemudian, hal tersebut
dipertegas dengan berbagai macam pemberian untuk menunjang kebutuhan dan
memberikan hal yang lebih dibanding makhluk-mahluk lainnya. Betapa Allah begitu
memuliakan kita sebagai makhluknya. Tentu tidak sepatutnya, kita dengan sesama
manusia juga tidak saling memuliakan satu sama lain. Terlebih dalam ayat lain,
kita diminta untuk saling mengenal mengingat kita diciptakan dengan
berbeda-beda. Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat (49) ayat
13.
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا
وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia!
Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu
saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara k
Jamaah Jumat yang
berbahagia
Di Indonesia, kita
mengetahui ada yang bersuku dan berbahasa Sunda, sementara ada juga yang
bersuku Jawa dan berbahasa ibu Jawa juga. Ada pula yang bersuku Bugis, Minang,
Batak, Dani, Asmat, Dayak, dan masih banyak lagi. Dalam konteks internasional,
kita juga terdiri dari berbagai bangsa. Di Timur Tengah, kita mengenal ada
bangsa Arab. Di bagian Barat, ada bangsa Eropa dan Amerika. Bergeser ke arah
selatan, ada bangsa India. Sementara di bagian Timur, kita tahu ada bangsa
Jepang, China, dan Korea.
Begitu beragamnya kita
diciptakan. Berbagai perbedaan itu menyimpan potensi konflik yang cukup besar.
Jika tidak dikelola dengan baik, tentu saja hal tersebut akan mengkristal dan
menimbulkan peristiwa yang kontraproduktif. Karenanya, kita perlu menekankan
satu titik temu di antara berbagai perbedaan yang ada, mulai dari bangsa, suku,
agama, hingga bahasanya, yaitu kita adalah manusia.
Sudah sepatutnya kita
saling bersinergi, menjaga, menghormati, dan memuliakan satu sama lain agar
dapat menjalani hidup de
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : أَلا أُخْبِرُكُمْ
بِالْمُؤْمِنِ ؟ الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ
وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ،
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ
هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ
“Rasulullah saw
ketika haji wada’ bersabda: ‘Maukah kalian kuberitahu pengertian mukmin? Mukmin
adalah orang yang memastikan dirinya memberi rasa aman untuk jiwa dan harta
orang lain, sedangkan muslim ialah orang yang memastikan ucapan dan tindakannya
tidak menyakiti orang lain. Sementara mujahid adalah orang yang
bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah Swt., sedangkan orang yang
berhijrah (muhajir) ialah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.”
Oleh karena itu, di
mimbar ini, khatib mengajak jamaah sekalian, khususnya khatib pribadi, untuk
dapat menumbuhkan rasa persaudaraan sesama manusia. Dengan tumbuhnya sikap
demikian, niscaya kehidupan yang diimpikan bersama, penuh kedamaian,
kenyamanan, ketentraman dapat terwujud dengan baik.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا
فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Sumber: https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-jaga-persaudaraan-sesama-ukhuwah-insaniyah-OGyMB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar