Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا
لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ
رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ
وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Segala puji bagi Allah, kita telah berada dalam
dua Id. Hari Idul Adha adalah Id yang pertama, Hari Jumat kali ini adalah Id
yang kedua.
Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syamiy,
ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada
Zaid bin Arqam,
أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ
صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ
أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ
“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua Id (hari Id bertemu dengan hari Jumat)
dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa
yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat Id dan memberi
keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat”, jawab Zaid lagi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat
Jumat, maka silakan.” (HR. Abu Daud, no. 1070; An-Nasa’i, no. 1592; Ibnu
Majah, no. 1310. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)
Bukan berarti shalat Zhuhur jadi gugur.
Perhatikan hadits berikut.
Dari seorang tabi’in bernama ‘Atha’ bin Abi
Rabbah, ia berkata,
صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى
يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى
الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ
عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ
السُّنَّةَ.
“Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh
pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di pagi hari. Kemudian ketika
tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat
sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba,
kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az- Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas
pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).”
(HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Dalil di atas menjadi dalil boleh memilih antara
shalat Jumat dan shalat Id. Akan tetapi, mengerjakan kedua shalat tersebut
lebih baik. Bagi yang memilih tidak shalat Jumat karena di pagi harinya telah
shalat Id, maka hendaklah mengganti dengan shalat Zhuhur.
Semoga shalawat kepada Muhammad, juga keluarga
Muhammad sebagaimana shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, di mana Nabi
Ibrahim juga adalah Khalilullah, kekasih Allah. Yang seharusnya beliau menjadi
suri tauladan dalam bertauhid sebagaimana kita juga mencontoh pada hari ini
syariat qurban yang beliau lakukan, di mana awalnya berasal dari mimpi yang ia
benarkan.
Ia diperintah untuk menyembelih putra
tersayangnya yaitu Ismail. Lantas ia penuhi perintah tersebut dan Ismail pun
bersabar menjalaninya. Karena kepatuhan dan kesabaran mereka, akhirnya Allah
mengganti ujian tersebut dengan disembelihnya seekor kibasy domba jantan.
Sebagaimana kita mencontoh beliau dalam hal berqurban, harusnya dalam beraqidah
dan berakhlak beliau pun dicontoh. Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ
مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا
بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ
وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا
وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari
daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan
telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada
bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada
dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya
Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah
kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS.
Al-Mumtahanah: 4)
Disebutkan di sini, Nabi Ibrahim punya sifat,
beliau berlepas diri kesyirikan dan pelakunya. Beliau membenci kesyirikan.
Demikianlah ajaran para Nabi mereka ingin menegakkan tauhid pada diri mereka
dan umatnya. Mereka tidak menghamba pada selain Allah. Para Nabi selalu
ingatkan untuk menjauhkan diri dari thagut. Lihatlah dakwah para Nabi,
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thaghut itu.” (QS. An-Nahl: 36).
Thagut adalah sesuatu yang hamba melampaui batas
terhadapnya. Sihir, dukun dan paranormal termasuk dalam thagut. Maka inilah
yang diingatkan oleh setiap Nabi untuk beribadah pada Allah semata
(mentauhidkan Allah) dan menjauhkan diri dari thagut.
Sifat Nabi Ibrahim lainnya yang patut dicontoh
adalah sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,
إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ
الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang
dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali
bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabbnya).” (QS.
An-Nahl: 120)
Nabi Ibrahim punya empat sifat dalam ayat ini:
Kata Ibnu Katsir, ummah berarti suri
tauladan. Ibnu Mas’ud memaksudkan dengan mu’allimul khair,
yaitu mengajarkan kebaikan. Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa ummah adalah mengajarkan
agama pada manusia. Kita patut mencontoh hal ini menjadi teladan mulai dari
tengah keluarga kita, kemudian ke ruang lingkup yang lebih luas.
Al-qanit adalah
khusyu’ dan ta’at sebagaimana diartikan oleh Ibnu Katsir. Sedangkan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah mengartikannya dawamuth tha’ah, yaitu terus menerus
taat pada Allah. Sehingga maksudnya ibadah dan mentauhidkan Allah bukan hanya
sesekali namun terus menerus.
Hanifah, adalah
berada di jalan yang lurus, menjauh dari syirik dan menuju kepada tauhid. Wa
lam yaku minal musyrikin, Ibrahim tidak termasuk orang musyrik. Berarti beliau
tidak mewariskan tradisi-tradisi kesyirikan yang sudah mendarah daging.
Demikian khutbah pertama ini, moga contoh-contoh
yang baik dari Nabi Ibrahim ini bisa kita ikuti.
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Amma ba’du
Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani
wa rahimakumullah …
Jika demikian kita hendaknya bisa mencontoh Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam dalam:
·
Berqurban
·
Mentauhidkan
Allah, dengan berlepas dari kesyirikan dan pelakunya
·
Menjadi suri
tauladan yang baik
·
Terus menerus
dalam ibadah
·
Berada di
jalan yang lurus
·
Tidak berbuat
syirik pada Allah
Semoga bermanfaat. Semoga kita menjadi hamba yang
benar-benar mentauhidkan Allah. Jangan lupa di hari Jumat ini, kita dianjurkan
untuk bershalawat. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas
shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Dan jangan lupa doa di hari Jumat ini
termasuk doa yang diijabahi oleh Allah.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنَّا
نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ
الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا
لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا،
وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا،
وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ،
قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ
اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Sumber : https://rumaysho.com/16336-khutbah-jumat-contohi-nabi-ibrahim-dalam-bertauhid.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar