Oleh : Amien Nurhakim
الحَمْدُ للهِ، الحَمْدُ للهِ الَّذِي
شَرَحَ صُدُورَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ بِالْهُدَى، وَنَكَتَ فِي قُلُوبِ أَهْلِ
الطُّغْيَانِ فَلَا تَعِي الْحِكْمَةَ أَبَدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ شَهَادَةَ مَنْ آمَنَ بِهِ وَلَمْ يُشْرِكْ بِهِ أَحَدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ
نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللهَ؛ فَإِنَّ
تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ، وَطَاعَتَهُ أَعْلَى نَسَبٍ، فَقَدْ قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan juga
kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah
dengan sungguh-sungguh. Takwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam urusan ibadah
ritual maupun dalam interaksi sosial kita sehari-hari.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita hidup di zaman di mana ikatan sosial semakin
rapuh. Kita menyaksikan banyak fenomena yang menunjukkan lunturnya empati
berupa perundungan di sekolah, ujaran kebencian di media sosial, permusuhan
antarwarga hanya karena perbedaan pilihan, bahkan kadang sesama tetangga tidak
saling peduli. Semua ini menunjukkan betapa pentingnya kita menumbuhkan kembali
empati dan kasih sayang sebagai inti dari kehidupan beragama.
Allah Ta’ala menegaskan dalam Qs. al-Hujurat (49):
11,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu
lebih baik daripada mereka.”
Dalam Tafsirul Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhaili
jilid 26, halaman 253 dijelaskan bahwa larangan ini mencakup laki-laki maupun
perempuan, individu maupun kelompok, karena siapa tahu yang diremehkan justru
lebih mulia di sisi Allah. Beliau mengutip sebuah ungkapan: “Janganlah engkau
hina orang miskin, bisa jadi suatu hari engkau yang tunduk kepadanya, dan zaman
telah mengangkat derajatnya.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Islam menekankan bahwa kemuliaan seseorang bukan
karena harta, warna kulit, atau status sosialnya, tetapi karena ketakwaan dan
kebersihan hati. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ
يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan
harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian,” HR. Muslim, Ibnu
Majah.
Artinya, hal yang membuat kita mulia adalah
keikhlasan hati, kebaikan amal, dan ketakwaan, bukan simbol atau gelar dunia.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Al-Qur’an juga melarang kita saling mencela dan
menghina dengan kata-kata. Allah berfirman:
وَلَا
تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Janganlah kalian saling mencela dan janganlah
saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” QS. al-Hujurat (49): 11.
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir
menjelaskan bahwa melukai perasaan seorang mukmin dengan celaan sama saja
seperti mencela diri sendiri, karena umat Islam ibarat satu tubuh. Itulah
sebabnya Rasulullah SAW bersabda:
“المُؤْمِنُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ، إِنِ اشْتَكَى
رَأْسُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ، وَإِنِ اشْتَكَى عَيْنُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ
“Orang-orang beriman itu seperti satu tubuh,
bila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan
demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra)
Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim, jilid 8,
halaman 395 menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil betapa besar hak sesama
muslim, serta dorongan agar mereka saling berempati, berlemah lembut, dan
saling mendukung dalam kebaikan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita lihat kondisi sekitar kita. Betapa
banyak orang yang diejek karena kondisi ekonominya, dilecehkan karena fisiknya,
atau dibully karena penampilannya. Padahal, Allah dengan tegas melarang sikap
merendahkan seperti itu. Bahkan Nabi SAW memperingatkan bahwa menyakiti
tetangga saja bisa menghilangkan kesempurnaan iman. Dalam hadits shahih beliau
bersabda:
وَاللَّهِ لَا
يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: مَنْ يَا
رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak
beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Para sahabat bertanya: Siapa, wahai
Rasulullah? Beliau menjawab: Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari
gangguannya.” HR. Bukhari-Muslim
Inilah kerusakan sosial yang terjadi di
tengah-tengah kita, yaitu ketika tidak ada lagi rasa aman, saling percaya, dan
kepedulian antarwarga.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebaliknya, Islam mengajarkan kita untuk
menumbuhkan empati, menolong yang lemah, dan menjaga ikatan sosial. Allah
berfirman dalam Qs. al-Ma’idah (5): 2,
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan
ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir jilid
6, halaman 69 menafsirkan ayat ini sebagai prinsip umum kehidupan sosial.
Segala bentuk kebaikan yang dituntunkan syariat termasuk dalam birr wa taqwa,
sementara segala perbuatan yang menyakiti, merusak, atau melanggar hak orang
lain termasuk itsm wa ‘udwan yang harus dijauhi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Empati yang dapat mempererat ikatan sosial kita
sebagai warga bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya menjenguk tetangga yang
sakit, membantu tetangga yang terkena musibah, menyapa dengan salam jika
bertemu, atau sekadar tersenyum.
Mari kita jadikan khutbah hari ini sebagai
pengingat bahwa retaknya ikatan sosial hanya bisa diperbaiki dengan empati.
Jangan sekali-kali kita remehkan orang lain, jangan kita saling mengejek,
jangan saling memanggil dengan gelar yang buruk. Sebaliknya, tebarkan kasih
sayang, perkuat solidaritas, dan bangun masyarakat yang saling peduli.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang
saling menyayangi, saling menguatkan, dan saling mendoakan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ،
وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ
الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar