Oleh : Abdul Ghofar Hadi
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ
نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ
بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي
بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ
كِتَابِهِ الْكَرِيْم، أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat
Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengatur
segala urusan, dan menetapkan setiap takdir. Tiada sesuatu pun yang terjadi di
alam semesta ini kecuali atas kehendak-Nya.
Dialah yang melimpahkan nikmat-nikmat-Nya tanpa
batas, meskipun kita sering lalai untuk mensyukurinya. Kepada-Nya kita memohon
pertolongan, dan hanya kepada-Nya pula kita berserah diri.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah kebenaran yang mengeluarkan umat manusia dari
kegelapan menuju cahaya. Beliaulah suri teladan agung dalam akhlak dan ibadah,
yang mengajarkan kita makna sejati dari keimanan dan ketakwaan. Semoga shalawat
itu juga terlimpah kepada keluarga beliau, para sahabat yang mulia, serta
seluruh pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Hadirin rahimakumullah, dalam kehidupan ini, iman
kepada Allah dan Islam sebagai agama yang haq adalah modal utama yang tidak
ternilai. Ia adalah pelita dalam kegelapan, pemandu di tengah kesesatan, serta
bekal paling berharga dalam menghadapi kematian yang pasti akan datang. Marilah
kita renungkan bersama betapa pentingnya menjaga iman sebagai pedoman hidup,
sebab tanpanya, jiwa akan gersang, dan perjalanan hidup kehilangan arah.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Setiap hari Jum’at, kita diingatkan dengan wasiat
takwa, sebuah pesan abadi yang menjadi rukun khutbah, namun lebih dari itu, ia
adalah inti dari hidup beriman. Takwa bukan sekadar kata; ia adalah sebaik-baik
bekal untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Tanpa takwa, kehidupan akan kehilangan
arah, ibarat perahu yang terombang-ambing tanpa kompas. Iman adalah fondasinya.
Ia bagaikan udara yang tidak bisa tergantikan; tanpa iman, jiwa manusia
tercekik, kehilangan hidupnya yang sejati.
Iman adalah keyakinan yang menghujam ke dalam,
kepercayaan yang kokoh kepada Allah, kepada Nabi-Nya, kepada kitab-kitab-Nya,
kepada para Rasul, kepada hari akhir, dan kepada qadha serta qadar-Nya. Iman
menuntut totalitas. Ia memanggil kita untuk bersungguh-sungguh, tidak setengah
hati, tidak pula ragu. Iman adalah keseriusan, usaha tanpa henti untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Allah memberikan informasi yang berisi sindiran
dan peringatan kepada orang-orang yang beriman tapi tidak ikhlas, hanya beriman
sekedarnya di “pinggiran”. Mereka beribadah kepada Allah jika mendapatkan apa
yang diinginkannya. Sebaliknya, bila keinginannya tidak tercapai, ia pun
menuding Islam sebagai penyebab dari kegagalannya. Hal itu tercantum dalam Qs.
al Hajj (22): 11,
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ
عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ
فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ
هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ
”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah
Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh
kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh
suatu bencana berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di
dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” QS
Al-Hajj [22]:11.
Mari kita renungkan asbabun nuzul firman Allah
dalam Surah Al-Hajj ayat 11 sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu
Abbas ini, yang turun untuk memperingatkan manusia tentang keimanan yang rapuh,
keimanan yang terombang-ambing oleh nikmat dan musibah. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Al-Bukhari, dahulu ada orang yang masuk Islam
dengan harapan duniawi. Ketika ia diberi anak laki-laki dan hartanya bertambah,
ia memuji agamanya. Tetapi, ketika ia diuji, ia berbalik mencela agama itu.
Begitu pula, mengenai kisah seorang Yahudi yang
masuk Islam, tetapi ketika ia kehilangan penglihatannya, hartanya habis, dan
anaknya meninggal, ia menyalahkan Islam atas musibah yang menimpanya. Demikian
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Athiyyah dari Ibnu Mas’ud.
Betapa sering manusia mengukur agama dengan
timbangan duniawi! Mereka memuji Allah ketika diberikan nikmat, tetapi berbalik
menyalahkan takdir ketika ujian datang. Padahal, bukankah Allah telah
menegaskan bahwa dunia adalah ladang ujian? Keimanan bukanlah transaksi untuk
mengharap dunia, melainkan keyakinan yang kokoh pada ketetapan-Nya, baik dalam
suka maupun duka.
Tidakkah kita malu kepada Allah? Nikmat yang kita
terima begitu melimpah, tetapi sedikit saja ujian, kita berkeluh kesah. Maka,
jadilah hamba yang sabar, yang selalu bersyukur dalam nikmat dan berserah diri
dalam musibah. Karena hanya mereka yang teguh, yang akan memperoleh kemenangan
hakiki di akhirat kelak.
Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Al-Qurtubi dan Ibn Al-Katsir menyampaikan bahwa
yang dimaksud dari Surah Al-Hajj ayat 11 ini adalah orang-orang munafik.
Merekalah orang-orang yang sangat merugi di dunia dan di akhirat. Kerugian yang
dimaksud orang yang beriman di pinggiran pada surat al Hajj ayat 11 adalah
kerugian bagi orang-orang yang jika dia ditimpa oleh suatu bencana, berupa
peristiwa yang tidak baik, atau lenyapnya sesuatu yang dicintai. Mereka “berbaliklah
dia ke belakang,” maksudnya dia murtad (keluar) dari agamanya.
Jika murtad maka “Rugilah ia di dunia dan
akhirat.” Tentang kerugian di dunia, maka usahanya gagal. Tidak ada yang
berhasil ia rengkuh melainkan bagian yang telah ditetapkan baginya. Adapun
mengenai kerugian akhirat, maka sangat jelas. Ia terhalangi dari surga yang
luasnya seluas langit dan bumi. Dan dia dipastikan masuk neraka. Maka itulah
kerugian yang nyata dan jelas.
Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Mengambil pelajaran dari Surah Al-Hajj ayat 11 ini
bahwa dalam beriman tidak bisa hanya sekedarnya, setengah-setengah, asal-asalan
atau ikut-ikutan. Posisi orang seperti itu ibarat di pinggiran atau tepian. Artinya,
iman yang belum teguh karena kurang yakin atau masih ada keraguan dalam
beriman, pancaran imannya belum masuk di relung hati yang paling dalam. Mudah
terombang-ambing dan bimbang saat menghadapi godaan dan tantangan dalam
perjalanan imannya.
Di sinilah pentingnya selalu memupuk keimanan
kepada Allah yang diawali ilmu dan dijaga dengan terus belajar atau memperdalam
ilmu. Pertama, melalui membaca buku-buku, mengikuti majelis-majelis
taklim, aktif di forum-forum diskusi yang membahas keimanan dan keislaman. Perintah
Allah yang pertama dalam al-Qur’an adalah iqra! “bacalah” sebagai pondasi dalam
keimanan. Kunci dari memahami Islam dan beriman dengan baik adalah membaca atau
terus belajar, upgrade pengetahuan.
اِقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan” Q.S. Al’alaq [96]: 1.
Kedua, memiliki guru,
murabbi, atau musyrif yang membimbing keimanannya. Lingkungan saat ini cukup
sistematis yang menjadikan iman tidak tumbuh dengan baik. Belum lagi sistem
kehidupan, sistem pendidikan, sistem ekonomi dan budaya kurang mendukung
pertumbuhan iman. Maka, penting adanya seorang guru atau murabbi yang
menguatkan proses dan menempa iman secara intens. Selama ini belum ada yang
membina, mengurus, memantau, mengevaluasi dengan penuh tanggung jawab untuk
pertumbuhan keimanan kita.
Ketiga, berteman dengan lingkungan pergaulan
yang baik. Selama ini, banyak orang terjebak dalam
pergaulan yang menggerus keimanannya. Terkadang teman-teman komunitasnya
membuat lalai dari ibadah. Istilah anak-anak sekarang memilih circel yang
mendukung untuk menguatkan keimanan. Rasulullah dalam hadist telah memberikan
nasehat terkait pertemanan dalam keimanan. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
المرء
على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama seseorang sesuai dengan agama teman
dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” HR.
Abu Daud dan Tirmidzi.
Allah memberikan gambaran yang sangat jelas
tentang pertemanan sangat berpengaruh hingga kehidupan di akherat. Allah
berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى
يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا
وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ
الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim
menggigit kedua tanganya seraya berkata: “Aduhai kiranya aku dulu mengambil
jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil
fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al
Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong
manusia” Qs. Al Furqan (25):27-29.
Di ayat ini, Allah menggambarkan seseorang yang
telah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia
sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Iman adalah barang yang mahal, tidak mudah untuk
menjaga dan menumbuhkannya karena jaminannya surga. Maka tidak bisa hanya
beriman di pinggiran tapi harus serius, kaffah, sungguh-sungguh dalam beriman. Caranya,
adalah dengan senantiasa memperdalam keilmuan, memiliki guru atau murabbi yang
membimbing dan mencari lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ
بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ
بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ
بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ
وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه
و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ
تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا
الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا
اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ
سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ
نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ
تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
Do’a Penutup
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا
الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا
يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ
سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ
وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ
حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ
!!!عِبَادَاللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا
اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Sumber : https://hidayatullah.or.id/khutbah-jumat-tidak-beriman-di-tepian-dan-3-kiat-dalam-memupuk-keimanan/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar