Oleh: Sodikin
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ
الدَّيَّان، الْكَرِيْمِ الْمَنَّان، الرَّحِيْمِ الرَّحْمَن، أَحْمَدُهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى
الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنَ الذُّنُوْب العِظَام.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
لاَ نَبِيَّ بَعْدَه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن،
أَمَّا بَعْدُ؛
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Hadirin sidang shalat Jumat rahimakumullah,
Di dalam ajaran Islam, tidak ada satu pun manusia
di dunia ini yang bersih dari dosa, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Siapapun dia dan apapun status sosialnya; apakah dia seorang kiai,
habib, ustadz, raja, pejabat, ahli hukum, hingga rakyat jelata; semuanya pasti
pernah melakukan perbuatan dosa. Inilah yang dapat kita pahami dari sabda
Rasulullah SAW:
كُلُّ
بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ…
“Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan…”(H.R.
At-Tirmidzi)
Hanya para Rasul yang senantiasa dituntun Allah
ta’ala dalam tindakan dan perbuatan mereka sehingga terselamatkan dari dosa,
dan diantaranya adalah Nabi tauladan kita, Nabiyullah Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman:
مَا
ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى ! وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ! إِنْ هُوَ إِلَّا
وَحْيٌ يُوحَى
“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula
keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya,
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” QS.
An-Najm (53): 2-4.
Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang sesuai
fitrah manusia memberikan solusi bagi orang-orang yang melakukan dosa, yaitu
taubat. Tidak ada lagi perbuatan terbaik bagi pendosa kecuali bertaubat. Inilah
yang dituntunkan junjungan kita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam
sabdanya:
… وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ
“… dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah
yang bertaubat.” H.R. At-Tirmidzi
Hadirin sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah
subhanahu wata’ala,
Taubat berasal dari kata تَوْبا
– يَتُوْبُ – تَابَ – تَوْبَةً taaba – yatuubu – tauban –
taubatan yang artinya adalah ruju’ atau kembali, yaitu “kembali dari perbuatan
maksiat menuju perbuatan taat.”
Diibaratkan seseorang yang melakukan perjalanan
kemudian tersesat, jika dia meneruskan perjalanannya maka dia akan semakin
tersesat. Langkah terbaik yang harus dia lakukan adalah merubah arah kembali ke
jalan semula dan melanjutkan perjalanan ke arah yang benar.
Hadirin sidang shalat Jumat rahimakumullah…
Seseorang bisa kembali lagi ke jalan yang benar
atau bertaubat, setidaknya, jika memenuhi tiga syarat.
Pertama, mengetahui
dan meyakini bahwa dirinya telah menempuh jalan yang salah atau tersesat, baik
tahu dari dirinya sendiri atau diberitahu orang lain. Seseorang bisa melakukan
taubat jika dia mengetahui bahwa dirinya telah melakukan perbuatan salah atau
dosa. Jika seseorang tidak mengetahui kesalahannya, mustahil dia bisa kembali
ke jalan yang benar.
Dia akan terus berkubang dalam dosa dan
kesesatannya. Kesadaran bahwa seseorang telah berbuat salah ditunjukkan oleh
hatinya melalui penyesalan, dan ditunjukkan oleh lisannya dengan mengucapkan
kalimat istighfar. Sebagaimana penyesalan dan istighfar Nabi Adam ‘alaihissalam
dan isterinya ketika melanggar larangan Allah ta’ala.
قَالَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Adam dan Hawa berkata: “Ya Tuhan kami, kami
telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi.” Q.S. Al A’raf (7): 23.
Untuk itu dibutuhkan ilmu bagi seorang Muslim
untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah supaya dirinya bisa
bertaubat. Selain itu, juga dibutuhkan kerendahan hati yang mendorong dirinya
bersedia bertaubat setelah melakukan kesalahan. Dalam sebuah riwayat yang
dinisbatkan kepada Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengajarkan
untuk melantunkan doa:
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً
وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
”Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan
kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami
jalan untuk menjauhinya.”
Hadirin sidang shalat Jumat rahimakumullah…
Kedua, bersedia
memutar arah, kembali meniti jalan yang benar. Taubat bisa diwujudkan dalam
diri seseorang jika dia, dengan rendah hati, bersedia berjalan kembali ke arah
yang benar.
Memang taubat akan selalu menemui halangan dan
hambatan. Bisa jadi, cibiran dan cemoohan masyarakat hadir menyertai perjalanan
taubatnya. Bahkan yang lebih menyakitkan, lingkungan baru yang ingin dia
masuki, terkadang menunjukkan sikap penolakan. Semua itu harus dilalui bagi
orang yang hendak sungguh-sungguh bertaubat.
Itulah yang dialami Nabi Adam ‘alaihissalam ketika
berjalan menuju taubatnya; dibuang dari surga, berjalan tertatih-tatih di dunia
dan terpisah dari isteri tercinta. Sampai akhirnya Allah-pun menerima
taubatnya.
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا
بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ
اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
“Allah berfirman kepada Adam dan Hawa:
“Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi
sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu
barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka”. Q.S.Thaha (20): 123.
Hadirin sidang shalat Jumat rahimakumullah…
Ketiga, mengetahui
jalan yang benar untuk melanjutkan perjalanan dan berhati-hati terhadap godaan.
Seseorang yang sudah bertaubat sekalipun tidak serta merta terbebas menjalani
hidup tanpa godaan. Iblis, bersama hawa nafsu, tidak akan pernah berhenti
menggoda supaya kita kembali menjalani perbuatan dosa dan kesalahan,
sebagaimana yang dulu pernah dilakukan. Oleh karena itu, Allah subhanahu
wata’ala mengingatkan hamba-Nya untuk selalu berhati-hati, jangan sampai
kembali tergoda melakukan dosa yang sama.
… وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ
يَعْلَمُونَ
“…Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui.” Q.S. Ali Imran (3): 135.
Betapa mulia sikap seorang Muslim yang berani
bertaubat, yaitu berani kembali ke jalan yang benar dengan menghadapi semua
rintangan dan hambatannya. Wajarlah jika Allah subhanahu wata’ala memuliakan
orang yang bertaubat.
Hadirin sidang shalat Jumat rahimakumullah…
Sebenarnya, tidak ada kata terlambat untuk
bertaubat. Tidak boleh ada keengganan bagi seseorang untuk bertaubat dengan
alasan apapun, seperti sudah terlanjur banyak dosa, usia telah lanjut, Allah
tidak mungkin mengampuni, dan alasan-alasan lainnya. Barangsiapa yang bertaubat
dengan sungguh-sungguh, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Allah ta’ala
berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا
عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Az Zumar (39): 53.
Taubat seorang hamba baru dianggap terlambat oleh
Allah subhanahu wata’ala ketika berada dalam dua keadaan. Pertama,
taubat ditolak ketika seseorang sudah berada dalam keadaan sakaratul maut.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ
اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang
hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan”. HR. At-Tirmidzi.
Kedua, taubat tidak
akan diterima ketika matahari terbit dari sebelah barat.
مَنْ
تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ.
“Barangsiapa taubat sebelum matahari terbit
dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya” H.R. Muslim.
Hadirin sidang shalat Jumat rahimakumullah,
Dengan taubat yang sungguh-sungguh inilah, Allah
akan mengampuni dosa-dosa kita, melimpah berkah dan ridha-Nya serta akan
memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Untuk itu,
mari kita semua segera bertaubat, jangan sampai terlambat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Sumber: https://www.islampos.com/khutbah-jumat-bertaubat-sebelum-terlambat-138108/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar