Oleh : Amien Nurhakim
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً يُوَافِي
نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي
لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِك. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِك. وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ
أَرْسَلَه. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيرْاً وَنَذِيْراً.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَاماً دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي
كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: ۚ وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ
السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ
الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا
لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
subahanahu wa ta’ala,
Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada
jamaah sekalian untuk memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan bershalawat kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta senantiasa menjaga dan
meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Semoga dengan ketakwaan tersebut, kita diberikan
solusi pada masalah yang sedang dihadapi, kita juga dilimpahi rezeki yang tidak
kita sangka-sangka, sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Ath-Thalaq (65): 2 dan
3,
وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ ۚ
"Siapa pun yang bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya."
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
subahanahu wa ta’ala,
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah terlepas
dari pada perbuatan dosa. Tiap hari atau bahkan tiap waktu, kita secara sadar
maupun tidak, sering melakukan perbuatan yang sejatinya menimbulkan dosa, baik
melalui tindakan maupun lisan.
Meskipun begitu, jamaah sekalian, kita dituntut
untuk selalu bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meminta ampunan
serta menyadari bahwa kita merupakan hamba yang lemah dalam menahan diri untuk
tidak melakukan dosa dan bermaksiat.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
subahanahu wa ta’ala,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda:
كُلُّ
بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Semua bani Adam pernah melakukan kesalahan,
dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera bertobat.” HR. Ibnu
Majah.
Hadits secara tegas menyatakan bahwa merupakan sifat
manusiawi bani Adam untuk berbuat kesalahan, namun yang terbaik di antara
mereka adalah ketika berbuat salah langsung menyadari kesalahannya dan meminta
ampun kepada Allah.
Para jama’ah sekalian, kita semua harus yakin
bahwa Allah merupakan Tuhan yang Maha Pengampun atas segala dosa yang kita
perbuat, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam salah satu riwayat
disebutkan bahwa meskipun dosa kita banyak hingga memenuhi langit, niscaya
Allah akan mengampuni kita selama mau bertobat kepada-Nya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ
أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمْ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ
عَلَيْكُمْ
“Sekiranya kalian melakukan kesalahan hingga
kesalahan kalian mencapai langit dan bumi, kemudian kalian bertaubat, niscaya
taubat kalian akan di terima.” HR. Ibnu Majah.
Meskipun Allah Maha Pengampun, jangan sampai
kemurahan Allah pada hamba-Nya dijadikan kesempatan untuk melegitimasi
kelalaian kita. Sebagai seorang hamba tentu kita harus menjaga diri dari perbuatan
dosa.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
subahanahu wa ta’ala,
Sebagai hamba yang lemah dan tidak dapat
menghindari maksiat dan perbuatan dosa, maka kita harus menyegerakan tobat
bahkan mulai dari sekarang. Jangan sampai kita bertobat dan meminta ampunan
pada Allah di usia tua nanti, dengan anggapan bahwa kita masih muda dan sehat.
Dalam Al-Quran, Allah banyak sekali menyebut
diri-Nya sebagai dzat yang menerima tobat hamba-Nya, yang mengampuni segala
dosa hingga maha pengasih lagi penyayang. Akan tetapi, tobat dan permintaan
ampun kepada Allah hanya diterima apabila sebelum datang dua waktu: pertama
ketika ajal datang menjemput dan yang kedua ketika hari kiamat tiba.
Terkait waktu yang pertama, yaitu tobat tidak
diterima ketika ajal menjemput, Allah ta’ala berfirman dalam Qs. An-Nisa' (4):
18,
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ
إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ
أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari
orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada
seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya
bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang
mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan
siksa yang pedih.”
Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan ayat ini dalam
karyanya, al-Tafsir al-Munir, “Diterimanya tobat seorang hamba dan ampunan
Allah merupakan nikmat dan kebaikan bagi orang-orang yang berbuat dosa dan
terjerumus ke dalamnya selama tidak terus menerus melakukan perbuatan tersebut.
Para hamba Allah melakukan suatu kemaksiatan
disebabkan karena adanya faktor hawa nafsu dan godaan setan, sehingga mereka
pun bertobat sebelum nyawa berada di ujung kerongkongan, bahkan tobat masih
diterima di saat seorang hamba menyaksikan malaikat yang mengambil ruhnya.”
(Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, [Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir,
1418], jilid IV, hal. 294).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
subahanahu wa ta’ala,
Adapun waktu yang kedua, di mana tobat seorang
hamba tidak diterima lagi ialah ketika hari kiamat tiba. Hal ini sebagaimana firman
Allah ta’ala dalam Qs. Al-An'am (6): 158,
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ
تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ
رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا
لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ
انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah
kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan
(siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat
dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri
yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam
masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu
(pula).”
Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya
menjelaskan bahwa ayat di atas menegaskan bahwa tobat dan iman seseorang yang
baru ia lakukan di hari kiamat tidaklah berguna, sebagaimana tidak bergunanya
iman Fir’aun ketika baru menyadari kuasa Allah di saat ia tenggelam di laut
merah. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, [Beirut: Dar al-Fikr
al-Mu’ashir, 1418], jilid IV, hal. 294).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
subahanahu wa ta’ala,
Dari penjelasan yang telah dipaparkan tadi,
hendaknya kita mulai berbenah diri dan muhasabah untuk merenungkan kembali
hal-hal yang sudah kita lakukan selama ini. Mulailah kita bersitigfar dan
meminta maaf pada keluarga, kerabat hingga teman dan orang-orang yang mungkin
pernah kita sakiti hatinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ
مِائَةَ، مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah,
karena sesungguhnya aku juga bertobat kepada-Nya sehari seratus kali.” HR.
Muslim.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي
اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ
وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber: https://nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-bertobat-sebelum-datang-dua-waktu-VnDhM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar