اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ
الَّذِىْ جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ
بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا ,وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ
بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ:
﴿الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ﴾. ويقولُ: ﴿يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ.
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Ungkapan rasa syukur selalu kita ucapkan pada
Allah yang telah memberikan kepada kita kesehatan dan kesempatan, sehingga kita
bisa berkumpul untuk melaksanakan ibadah salat Jumat. Syukur adalah rasa terima
kasih seorang Hamba kepada Tuhannya. Dan lebih dari itu, syukur hakikatnya
adalah kesadaran diri.
Salawat kita haturkan keharibaaan nabi yang sangat
mulia. Seorang manusia yang memiliki sumbangsih besar pada dunia. Manusia
pertama yang memperkenalkan Hak Asasi.
Seorang Rasul yang baik akhlak dan perilakunya.
Seorang manusia sejati, yang mengajarkan kepada manusia untuk memuliakan
manusia. Dialah Baginda Nabi, Muhammad SAW. Akhlak tauladan Rasul tampaknya,
sangat penting untuk direnungi manusia modern saat ini. Dengan lafadz:
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
Sebagai khatib, sudah menjadi sebuah kewajiban
bagi kami secara pribadi untuk mengajak kita semua, mari sama-sama kita
tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Hanya dengan Iman dan
takwa hidup akan bahagia dunia dan akhirat kelak.
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Di negeri ini, banyak manusia hidup rakus. Tamak.
Yang penting perut kenyang. Menumpuk harta semaunya. Tak peduli dengan orang di
sekitarnya. Keserakahan bagian ritus tak terelakkan di era modern. Manusia
berlomba demi harta, pangkat, dan jabatan.
Imbasnya pun nyata; korupsi, nepotisme, dan kolusi
yang kian meningkat. Tak heran di belahan negeri ini, saban hari kita saksikan
pejabat negara terjangkit kasus korupsi. Tak mengherankan, banyak pejabat
negara yang mencari kekayaan dan menimbun harta dari jabatan. Setiap hari kita
bersua dengan pengusaha mengekploitasi sumber daya alam rakyat kecil. Lintasan
detik, kita bersua, orang kecil menangis akibat ditipu manusia tak
bertanggungjawab.
Itulah realitas hidup. Bila hati dan nurani
dikuasai nafsu dunia yang bejat. Yang terpampang di pelupuk mata, hanya harta
belaka. Rasul mengibaratkan mencintai dunia berlebihan, bak minum air laut.
Setelah diminum, bukan menghilangkan dahaga, tetapi semakin haus. Itulah dunia.
Tak pernah terpuaskan.
Dalam salah satu riwayat, Malaikat Jibril
berdialog dengan Nabi. Jibril membuka kata,”Mintalah sesuka mu, wahai
Muhammad,” tutur Jibril. Nabi terdiam, tak ada respons. “Seandainya engkau
ingin, gunung Uhud yang besar itu niscaya akan mampu diubah menjadi emas,”
lanjut Jibril.
Namun Nabi menolak permintaan Jibril itu. Nabi
tahu, dunia ini tak akan pernah mencukupkan manusia. Seandaipun seseorang mampu
mengubah gunung Uhud menjadi emas, ia tak akan terpuaskan. Manusia juga ingin
gunung-gunung yang lain diubah menjadi emas. Tak ada rasa puas.
Wajar saja kemudian Nabi memberikan nasihat kepada
umat manusia. Agar menjaga dua hal utama; perut dan antara dua paha. Coba lihat
perut manusia. Ukurannya tak sampai dua jengkal tangan. Tak sampai dua hasta.
Barangkali hanya sejengkal. Namun, daya simpan perut luar biasa besar. Jikalau
seluruh isi dunia ini dimasukkan dalam perut, niscaya akan muat.
Itulah perut manusia. Singkat dan pendek. Tapi
daya tampungnya tak kunjung habis. Dapat harta, ingin jabatan. Dapat jabatan,
ingin yang lebih tinggi lagi. Tak ada habisnya. Tak ada pula puasnya.
Dalam salah satu hadis Nabi bersabda;
يقول ابن آدم مالي مالي قال وهل لك يا
ابن آدم من مالك الا ما اكلت فافنيت او لبست فابليت او تصدقت فامضيت
“Anak Adam berkata; “harta ku harta ku”. Engkau
tidak memiliki sesuatau dari harta mu, wahai anak Adam, kecuali apa yang telah
engkau makan lalu dia hilang, apa yang engkau pakai, lalu ia usang, dan apa
yang engkau sedekahkan lalu dia berlalu”,
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Lantas bagaimana sikap manusia agar tak tamak,
rakus, dan gila harta? Islam punya alternatif. Para ulama tasawuf menyebutnya
zuhud. Yang berarti tidak suka duniawi secara berlebihan. Bahasa populer zuhud;
hidup minimalis. Atau bisa juga hidup sederhana.
Imam al Ghazali menafsirkan zuhud dengan istilah
meninggakal dunia, gemar meninggalkan sesuatu yang membawa kasih sayang dunia,
dan sebaliknya suka terhadap akhirat. Pada hakikatnya, zuhud kata Al-Ghazali
mengekang hawa nafus manusia. Lantas menyalurkannya pada pelbagai hal yang baik
dan benar, dengan menerapkan perilaku hidup yang sederhana.
Selanjutnya, Syekh Abdul Qadir Isa dalam kitab Haqaiq
ath Tashawuf, menjelaskan zuhud adalah sikap hati. Letaknya berada dalam qalbu
manusia. Zuhud itu mengosongkan hati selain terhadap Allah. Tak tergantung pada
materil duniawi—bukan berarti tak membutuhkan dunia.
Rasulullah menyuruh manusia untuk zuhud terhadap
duniawi bukan tak punya tujuan. Pasalnya, dengan zuhud manusia akan mencapai
derajat hamba yang bertakwa dan dicintai Allah. Hamba yang dicintai oleh Allah,
akan menggapai kebajikan yang tiada tara dari Tuhan.
Penting sekiranya kita garis bawahi, zuhud itu
bukan berarti tak membutuhkan harta. Zuhud bukan pula hidup dalam garis
kemiskinan dan faqir. Zuhud juga bukan berarti memakai pakaian yang bertambal.
Dan celana sobek. Hidup dalam garis faqir. Tidak!
Zuhud itu sikap hati. Tak cinta berlebih pada
dunia. Al Manawi dalam kitab Faidh Qadir Syarah al Jami ash Shagir memberikan
statmen tegas;” Zuhud itu kosong hati dari dunia, bukan kosong tangan dari
dunia,”. Artinya, hidup tidak tamak pada nafsu dunia. Tentu dengan hidup
sederhana.
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Hidup sederhana merupakan sikap tidak
memperturutkan hawa nafsu secara berlebihan. Tetapi dipenuhi juga dalam batas
kewajaran manusia. Seseorang mencari rezeki untuk mencukupkan kebutuhan pokok
dan ditambah kebutuhan lain, tanpa bermegah-megah. Terelbih bila diberikan
jabatan, maka tak mempergunakan untuk memperkaya diri.
Zuhud adalah hidup tak berlebihan dan
bermegah-megah, sekalipun ia mampu melakukan itu. hidup sederhana tidak
mau berboros harta, tetapi tidak mau pula kekurangan harta. Tidak mau terlalu
menyolok, tetapi mesti dalam batasan kewajiban. Itulah sikap hidup sederhana.
Setidaknya ada tiga macam kesenangan dunia yang
Allah berikan ujian pada manusia. Tiga hal ini sering kali dijumpai manusia
dalam hidupnya. Tak sedikit manusia lalai dalam menanggung tiga hal ini. Cobaan
manusia itu, yakni; anak keturunan, harta, dan nafsu syahwat terhadap lawan
jenis. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran (3): 14;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ
مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga)”.
Itulah cobaan hidup manusia. Sepanjang hidup
manusia akan berhadapan dengan tiga hal itu. Bila tak mampu mengendalikan tiga
hal itu, manusia akan menjadi budak dunia. Lebih ganas lagi, kehadirannya
menjadi malapetaka dan bala bagi manusia lain. Seseorang yang cinta dunia
berlebihan, akan lebih buas dari binatang buas sekalipun. Waspadalah!
Demikian khutbah Jumat yang singkat ini. Semoga
kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dan semoga kita mampu
mengalahkan diri sendiri. Agar kelak menjadi manusia yang dicintai Allah.
رَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Sumber : https://bincangsyariah.com/khazanah/khutbah-jumat-mewujudkan-hidup-sederhana-dengan-zuhud/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar