Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا
النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ
الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Bangsa Indonesia memiliki satu hari yang
bersejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yaitu lahirnya pertemuan
para pemuda dari berbagai daerah. Mereka mencari solusi terbaik bagi kemerdekaan
Republik Indonesia. Hari itu kita kenal sebagai Hari Sumpah Pemuda yang jatuh
tiap tanggal 28 Oktober.
Semangat juang para pemuda dalam perjuangan untuk
meraih kemerdekaan patut kita acungi jempol. Dengan keadaan yang serba darurat
dan fasilitas yang minim, tidak mengendorkan semangat berkorban yang berkobar
di dada.
Jauh sebelum itu semua, telah lahir dari rahim
sejarah Islam, pemuda-pemuda ideal, sehingga Rasul ﷺ pernah bersabda, “Para pemuda bersekutu
denganku dan orang tua memusuhiku.” Perjuangan dakwah Rasul ﷺ tidak bisa dilepaskan dari
dukungan kawula muda. Di sana muncul Babul `Ilm (pintu ilmu) Sayidina Ali
bin Abi Thalib, Sayidina Usamah bin Zaid, Sayidina Abdullah bin Abbas sang Turjumanul
Qur`an (juru bicara Al-Quran) dan masih banyak lagi.
Ali misalnya, ia menjadi pahlawan di beberapa
peperangan. Bahkan perang Khaibar menjadi saksi bisu atas kepahlawanannya.
Pernah diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Demi jiwa anak Abu Thalib yang
berada di tangan-Nya, seandainya aku terkena seribu hantaman pedang, hal itu
lebih ringan ketimbang aku harus mati di atas ranjang.” Lain pula dengan Usamah
bin Zaid. Dia dipercaya sebagai panglima pasukan yang diutus melawan negara super power saat itu, Romawi.
Begitu juga dengan Abdullah bin Abbas. Kedalaman ilmunya dan ketajaman pikirannya
menjadikan sosok yang satu ini begitu terasa istimewa.
Namun, lambat laun para pemuda muslim mulai
terseret ke pusaran yang merusak nilai-nilai keluhuran. Hari ini, kita saksikan
dengan mata kepala kita betapa banyak kasus tawuran antara pemuda, pemakaian
dan pengedaran Narkoba, dan hubungan seks bebas. Keadaan semacam ini melahirkan
bencana sosial dan moral.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Jamaah shalat
Jumat,
Berkaitan dengan Hari Sumpah Pemuda, kita temukan
setidaknya lima karakteristik pemuda ideal itu. Pertama, memiliki
keberanian. Pemuda ideal adalah pemuda yang berani
menyatakan yang haq (benar) itu haq (benar) dan yang batil (salah) itu batil (salah). Lalu, siap bertanggung jawab serta menanggung risiko ketika
mempertahankan keyakinannya.
Contohnya adalah pemuda bernama Nabi Ibrahim yang
menghancurkan berhala-berhala kecil, lalu menggantungkan kapaknya di leher
berhala yang paling besar, untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa
menyembah berhala itu (tuhan selain Allah ﷻ) sama sekali tidak ada manfaatnya.
Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan
serta keyakinan. Artinya, seorang pemuda yang baik tidak pernah berhenti
belajar dan menuntut ilmu.
Ketiga, selalu berusaha untuk mencari komunitas dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti
pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah ﷻ pada surah al-Kahfi [18] ayat 13-25. Jadi,
berkelompok bukan untuk hura-hura atau sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Para pemuda ideal mempunyai karakter persatuan,
keguyuban, dan menyukai kebersamaan. Sayangnya, kebersamaan dan loyalitas yang
diberikan oleh sebagian pemuda kita justru untuk melakukan tindakan-tindakan
negatif. Maraknya Geng Motor yang meresahkan masyarakat merupakan secuil
contohnya. Ditambah aksi kriminal dengan melakukan pembegalan yang sarat dengan
kekerasan dan kezaliman.
Ashhabul-Kahfi berjamah dalam menentang
kemunkaran dan memperjuangkan agama serta keyakinannya sampai titik darah
terakhir. Loyalitas yang mereka berikan adalah wujud persembahan dan ketulusan
seorang hamba pada Tuhannya.
Keempat, selalu
berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada
perbuatan asusila. Hal ini seperti kisah Nabi Yusuf dalam surah Yusuf [12] ayat
22-24. Kisah Nabi Yusuf sangat layak dijadikan pegangan para pemuda. Di usia
yang masih muda belia, Yusuf berhasil menjadi pujaan wanita di zamannya karena
ketampanan wajahnya yang menyihir. Berbagai godaan dan rayuan mesra ia tampik
sembari berlindung kepada Allahﷻ.
Kelima, tidak pernah menyerah dengan rintangan
dan hambatan. Hal itu dicontohkah pemuda Muhammadﷺ yang menjadikan tantangan
sebagai peluang hingga ia menjadi pemuda yang bergelar Al-Amin (terpercaya)
oleh masyarakatnya.
Sejak kecil, Nabi Muhammad ﷺ telah bekerja dengan kedua
tangannya, membanting tulang memeras keringat sebagai ikhtiyar mencari karunia
Allah ﷻ yang
terhampar di muka bumi. Beliau tidak duduk manis, berpangku tangan menunggu
uluran tangan orang lain namun justru beliau membantu mengurangi beban
penderitaan orang lain.
Sosok pemuda seperti Nabi Muhammad ﷺ yang seharusnya diteladani
oleh para remaja, para pemuda kita, sehingga mempunyai etos kerja dan usaha
yang profesional, yang baik dan mumpuni. Lewat etos kerja dan usaha itulah,
dalam usia yang sangat muda gemblengan Rasulullah ﷺ telah mampu memberikan kontribusi yang
luar biasa terhadap Islam dan umat Islam.
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober,
sosok pemuda ideal yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh yang kami sebutkan di atas
diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda Indonesia. Eksistensi pemuda
memang sangat penting. Jatuh bangunnya sebuah peradaban tergantung pada potensi
yang dimiliki para pemudanya. Tidak heran jika Sayyidna Abdullah bin Abbas
suatu saat pernah berkata,
مَا
بَعَثَ اللهُ نَبِياًّ إِلاَّ وَهُوَ شَابٌّ وَلاَ أُوْتِيَ العِلْمَ عاَلِمٌ
إِلاَّ وَهُوَ شَابٌّ
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali
ia seorang pemuda dan tidak pula seseorang diberi ilmu oleh Allah kecuali ia
adalah pemuda.”
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ
القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar