Selasa, 09 September 2025

WAJIBNYA SALAT BERJAMAAH



 

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين وسلم تسليماً كثيرا ، أما بعد: أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ، ثم اعلموا رحمكم الله أن من أفضل شعائر الإسلام ومزايا هذا الدين العظام صلاةَ الجماعة في المساجد مع المسلمين ، وهي واجبة على الرجال في الحضر والسفر وفي حال الأمن وحال الخوف وجوباً عينيا ، والدليل على ذلك الكتاب والسنة وعمل المسلمين قرناً بعد قرن ، ومن أجل ذلك – عباد الله – عُمرت المساجد ورُتِّبت الأئمة والمؤذنون ، وشرع لها النداء بأعلى صوت ” حي على الصلاة حي على الفلاح “

 

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampunan dan bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga selawat Allah dan salam penghormatan-Nya terlimpah untuknya dan keluarganya serta seluruh Sahabatnya. Adapun berikutnya, wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā, karena barang siapa yang bertakwa, niscaya Allah akan Menjaganya dan Membimbingnya kepada kebaikan dalam urusan agama dan dunianya.

 

Kemudian, ketahuilah —Semoga Allah Merahmati Anda— bahwa salah satu syiar Islam yang paling utama dan ciri khas agama ini yang paling agung adalah salat berjamaah di masjid bersama kaum muslimin yang lain.

 

Salat berjamaah ini hukumnya adalah Farḏu ʿAin (kewajiban individu) bagi lelaki, baik saat mukim maupun safar dan saat aman maupun kondisi ketakutan. Dalilnya adalah Kitab, Sunah, dan perbuatan umat Islam dari masa ke masa. Wahai hamba-hamba Allah, untuk tujuan itulah masjid dibangun, para imam dan muazin diorganisir, dan disyariatkan mengumandangkan “H̱ayya ʿalaṣ Ṣalāh, H̱ayya ʿalal Falāẖ” dengan suara lantang.

 

وقال الله تعالى آمراً نبيه صلى الله عليه وسلم أن يقيم صلاة الجماعة في حال الخوف ﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ﴾ [النساء:١٠٢] , والأمر للنبي صلى الله عليه وسلم أمر لأمته ما لم يدل الدليل على خصوصيته به ، فدلت هذه الآية الكريمة على وجوب صلاة الجماعة حيث لم يرخَّص للمسلمين بتركها في حال الخوف ، فلو كانت غيرَ واجبة لكان أولى الأعذار لتركها عذرَ الخوف ؛ فإن صلاة الجماعة في حال الخوف يُترك فيها كثير من الواجبات في الصلاة مما يدل على تأكد وجوبها ، وقد اغتُفر في صلاة الخوف حركاتٌ كثيرة وتنقلات وحمل أسلحة ومراقبةٌ لتحركات العدو وانحراف عن القبلة ، كل هذه الأمور اغتفرت من أجل الحصول على صلاة الجماعة ، فهذا – عباد الله – من أعظم الأدلة على وجوبها وتأكدها .

 

Allah Subẖānahu wa Taʿālā berfirman menyuruh Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar menegakkan salat berjamaah dalam kondisi takut dalam peperangan (yang artinya), “Apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (para sahabat dan dalam keadaan takut ketika peperangan) lalu engkau hendak melaksanakan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) bersamamu dengan menyandang senjatanya. Apabila mereka (yang salat bersamamu) telah sujud (menyempurnakan satu rakaat), hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). Lalu, hendaklah datang golongan lain yang belum salat agar mereka salat bersamamu dan hendaklah mereka bersiap siaga dengan menyandang senjatanya.” (QS. An-Nisa’: 102).

 

Perintah untuk Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah perintah untuk umatnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa perintah tersebut adalah kekhususan bagi beliau. Ayat mulia ini menunjukkan wajibnya salat berjamaah, karena kaum muslimin tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya padahal dalam kondisi takut.

 

Andaikata salat berjamaah tidak wajib, niscaya kondisi takut itu akan menjadi halangan yang paling pantas untuk meninggalkannya karena sedang dalam keadaan mencekam. Banyak kewajiban salat digugurkan dalam salat berjamaah dalam kondisi takut, hal ini juga menjadi salah satu argumentasi yang menguatkan kewajibannya. Dimaafkan dalam salat Khauf (Salat dalam kondisi takut) banyak bergerak dan bergeser, memanggul senjata, mengawasi pergerakan musuh, dan berpaling dari arah kiblat. Semua ini dimaafkan demi terlaksananya salat berjamaah. Maka dari itu, wahai hamba-hamba Allah, ini adalah salah satu di antara dalil paling kuat dan tegas yang menunjukkan kewajibannya.

 

عباد الله : ومن الأدلة على وجوب صلاة الجماعة ما ورد في الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (( أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ )) , فقد وصف صلى الله عليه وسلم في هذا الحديث المتخلفين عن صلاة الجماعة بالنفاق ، وهذا أيضا وصفهم في القرآن الكريم ، قال الله تعالى عن المنافقين: ﴿ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا ﴾ [النساء:١٤٢] , وقال الله تعالى عنهم: ﴿ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ ﴾ [التوبة:٥٤]

 

Wahai hamba-hamba Allah, di antara dalil yang menunjukkan wajibnya salat berjamaah adalah sebuah hadis yang termaktub dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat subuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui (ganjaran) yang ada pada keduanya, tentulah mereka akan mendatanginya walau harus dengan merangkak. Sungguh, aku berkeinginan untuk menyuruh salat hingga salat ditegakkan lalu memerintah seseorang untuk mengimami orang-orang salat, kemudian aku pergi bersama beberapa orang membawa kayu bakar untuk mendatangi orang-orang yang tidak ikut salat berjamaah lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api.

 

Dalam hadis ini Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyifati orang yang meninggalkan salat berjamaah sebagai munafik. Ini juga sifat mereka dalam al-Quran yang mulia. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman tentang orang-orang munafik (yang artinya), “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah Membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas. Mereka bermaksud riyāʾ (ingin dipuji) di hadapan manusia, sementara mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142)

 

Allah Subẖānahu wa Taʿālā juga berfirman tentang mereka (yang artinya), “Mereka tidak melaksanakan salat melainkan dengan bermalas-malasan dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan (terpaksa).” (QS. At-Taubah: 54)

 

ثم هدد صلى الله عليه وسلم المتخلفين عن صلاة الجماعة بأن يحرِّق عليهم بيوتهم بالنار، وهذه عقوبة شنيعة ؛ فوصفهم بالنفاق أولا ، وهددهم بالتحريق بالنار ثانيا ، مما يدل دلالة صريحة على عظم جريمة المتخلف عن صلاة الجماعة وأنه مستحق لأعظم العقوبات في الدنيا والآخرة ، وفي صحيح مسلم ((أنّ رجلا أعمى قال: يَا رَسُولَ اللَّهِ ؛ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ قَالَ نَعَمْ ، قَالَ فَأَجِبْ)) ؛ فهذا رجل أعمى أبدى أعذارا ًكثيرة ومع هذا لم يُسقط عنه صلى الله عليه وسلم حضور صلاة الجماعة , فما حال الذي يتخلف عنها من غير عذر وهو مجاورٌ للمسجد ، وأصوات المؤذنين تخترق بيته من كل جانب !! يُدعى فلا يجيب ، ويؤمر فلا يمتثل ، ويعصي فلا يتوب ، وقد ثبت في السنن عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ – أي النداء إلى الصلاة – فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ ))

“Kemudian Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengancam orang-orang yang meninggalkan salat berjamaah bahwa rumah mereka akan dibakar. Ini adalah hukuman yang sangat keras!

 

Pertama, mereka dicap sebagai munafik dan, kedua, diancam akan dibakar rumah mereka. Ini termasuk dalil yang menunjukkan dengan jelas besarnya kesalahan orang yang meninggalkan salat berjamaah dan bahwa pelakunya berhak mendapatkan hukuman besar di dunia ini dan akhirat.

 

Dalam Sahih Muslim disebutkan bahwa seorang lelaki buta berkata, “Wahai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, aku tidak punya seseorang yang bisa menuntunku ke masjid,” lantas dia meminta keringanan agar dia bisa salat di rumah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lantas memberikan dia keringanan, tapi ketika orang tersebut pergi, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memanggilnya lagi lalu bersabda kepadanya, “Apakah kamu bisa mendengar panggilan salat (azan)?” Dia jawab, “Iya.” Beliau berkata, “Jika begitu, maka penuhi panggilan itu.” Orang buta ini memiliki banyak alasan yang gamblang, meskipun demikian, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menggugurkan darinya kewajiban menghadiri salat berjamaah.

 

Lantas, bagaimana dengan seseorang yang meninggalkannya tanpa ada uzur, sementara rumahnya bersebelahan dengan masjid? Padahal suara muazin membara di berbagai penjuru rumahnya! Dia dipanggil tapi tidak memenuhi panggilan itu, disuruh tapi tidak patuh, bermaksiat dan tidak pernah tobat!?

 

Ada sebuah hadis sahih dalam kitab-kitab Sunan bahwa Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendengar panggilan—yakni seruan azan untuk salat—, tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, kecuali jika ada uzur.” (HR. Ibnu Majah no. 793)

 

عباد الله : لقد بلغ من اهتمام صدر هذه الأمة بصلاة الجماعة ما رواه ابن مسعودٍ رضي الله عنه قال : (( لَقَدْ رَأَيْتُنَا – يعني أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم – وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا- أي الصلاة – إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ )) ؛ يعني إذا كان الرجل منهم لا يستطيع المشي لمرضٍ أو كِبر أخذوا بعضديه وساعدوه على المشي حتى يقيموه في صف المسلمين للصلاة ، فما بال الذي يتخلف عن الصلاة اليوم وهو صحيحٌ قوي الجسم ليس به علة ولا عنده عذر !! .

Wahai hamba-hamba Allah, generasi awal umat ini sangat memperhatikan salat berjamah sampai pada titik sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan, “Kami—para Sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam— melihat bahwa tidak ada yang meninggalkannya—yakni salat berjamaah—melainkan seorang munafik yang jelas kemunafikannya. Sungguh, sampai-sampai dulu ada seseorang yang harus dituntun dengan diimpit oleh dua orang agar ia bisa berdiri di tengah-tengah saf.”

 

Artinya, jika ada seorang di antara mereka yang tidak dapat berjalan karena sakit atau berusia lanjut, mereka akan memegang tangannya dan membantunya berjalan hingga mereka menempatkannya di saf kaum muslimin untuk salat. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang meninggalkan salat hari ini, padahal dia sehat dan badannya kuat, tanpa ada sakit maupun halangan!!?

 

عباد الله : ومكان صلاة الجماعة هو المساجد التي ﴿ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ ﴾ [النور:٣٦] , يقول الإمام ابن القيم رحمه الله : ” ومن تأمل السنة حقَّ التأمل تبين له أن فِعلها في المساجد فرضٌ على الأعيان إلا لعارضٍ يجوز معه ترك الجماعة ، فترْك حضور المساجد لغير عذر كترك أصل الجماعة لغير عذر ، وبهذا تتفق الأحاديث وتجتمع الآثار ” انتهى كلامه رحمه الله . وجاء في فتوى اللجنة الدائمة للإفتاء بالمملكة العربية السعودية حرسها الله قولهم: ” وأما فعلها جماعة فواجبٌ وجوباً عينيا ، والأصل في ذلك الكتاب والسنة ” , ثم ذكروا حفظهم الله ورحم من مات منهم جملة من الأدلة من الكتاب والسنة على ذلك .

Wahai hamba-hamba Allah, adapun tempat salat berjamaah adalah di masjid yang “… di sana telah diperintahkan oleh Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya, ….” (QS. An-Nur: 36) 

Imam Ibnul Qayyim —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan, “Barang siapa merenungkan Sunah dengan sebenar-benarnya renungan, niscaya akan jelas baginya bahwa mengerjakannya di masjid-masjid adalah kewajiban masing-masing individu kecuali jika ada uzur yang membolehkannya meninggalkan salat berjamaah.

 

Jadi, tidak mendatangi masjid tanpa uzur hukumnya seperti tidak mendatangi salat berjamaah itu sendiri tanpa alasan. Dengan inilah hadis-hadis dikompromikan dan riwayat-riwayat disatukan.” Selesai kutipan dari perkataan beliau —Semoga Allah Merahmatinya.

 

Dalam fatwa Komite Tetap Penerbit Fatwa Kerajaan Arab Saudi —Semoga Allah Menjaganya— disebutkan bahwa mereka mengatakan, “Adapun melakukannya secara berjamaah, maka hukumnya wajib Farḏu ʿAin. Dasarnya adalah Kitab dan Sunah.” Kemudian mereka —Semoga Allah Menjaga mereka dan Merahmati mereka yang sudah meninggal— menyebutkan sejumlah dalil dari Kitab dan Sunah yang menunjukkan hal itu.

 

عباد الله : وقد ورد في فضل الصلاة مع الجماعة أحاديث كثيرة لا يسع المقام لذكرها ، منها ما رواه البخاري ومسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ )) ، وثبت في صحيح مسلم من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ ؛ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ )) . وفي الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ ))

Wahai hamba-hamba Allah, ada banyak hadis yang menyebutkan tentang keutamaan salat berjamaah yang tidak mungkin disebutkan semua dalam kesempatan ini; di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jika seseorang berwudu lalu menyempurnakan wudunya, kemudian dia keluar dari rumahnya menuju masjid, sementara dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan salat berjamaah, maka tidak ada satu langkah pun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan baginya satu derajat dan akan dihapuskan baginya satu kesalahannya.”

 

Ada juga hadis sahih dalam Shahih Muslim dari hadis Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan Menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat beberapa derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudu pada saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah saat ke masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah salat, itulah Ribāṯ! Itulah Ribāṯ!” Dalam Shahihain juga disebutkan bahwa bahwa Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang berangkat di waktu pagi atau sore hari untuk ke masjid, maka Allah akan Mempersiapkan baginya hidangan di surga setiap pagi atau sore hari.”

 

فنسأل الله جلّ وعلا أن يجعلنا وإياكم من المقيمين الصلاة المحافظين عليها في جماعة المسلمين ، وأن يهدينا جميعاً إليه صراطا مستقيما ، اللهم اهدنا إليك صراطا مستقيما , اللهم لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا ، وثبتنا على الحق والهدى يا ذا الجلال والإكرام . أقول ما تسمعون وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم.

Maka dari itu, kami memohon kepada Allah Jalla wa ʿAlā agar Menjadikan kami dan Anda semua termasuk orang-orang yang mendirikan salat dan memeliharanya secara berjamaah bersama kaum muslimin dan Membimbing kita semua ke jalan yang lurus.

 

Ya Allah, Tunjukilah kami jalan yang lurus kepada-Mu, jangan Engkau Sesatkan hati kami setelah Engkau Memberinya hidayah, dan Teguhkan kami dalam kebenaran dan petunjuk, wahai Zat Pemilik kemuliaan dan keagungan. Aku cukupkan perkataan yang telah Anda dengar, dan aku meminta ampun kepada Allah untukku, Anda, dan seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Mintalah ampun kepada-Nya niscaya Dia Mengampuni kalian, karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Sumber : https://khotbahjumat.com/6476-khotbah-jumat-dalil-dalil-wajibnya-salat-berjamaah-di-masjid.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODERASI BERAGAMA

Oleh : Muhammad Ali Wava S.Ag , Musrif MBS Al-Muttaqin Gedangsari, Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta     إِنَّ ال...