Oleh : Muhammad
Abduh Tuasikal, MSc.
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ
هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ
تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
فَيَا
أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
فَقَالَ
اللهُ تَعَالَى:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
اللّهُمَّ
عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً،
وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً
وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Amma ba’du …
Ma’asyirol muslimin
rahimani wa rahimakumullah …
Marilah kita
tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَءَامِنُوا۟ بِرَسُولِهِۦ يُؤْتِكُمْ
كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِۦ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِۦ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang
yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah
kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia
mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Al-Hadid: 28).
Maksud ayat ini,
niscaya Allah memberikan kepada kalian dua bagian dari pahala dan balasan atas
keimanan kalian terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
keimanan kepada para rasul yang telah lalu, dan menjadikan untuk kalian cahaya
yang kalian gunakan sebagai petunjuk di kehidupan dunia dan kalian gunakan
sebagai penerang di atas titian pada hari Kiamat. (Al-Mukhtashar fii
At-Tafsiir)
Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita yang mengajak kita untuk
terus meningkatkan takwa, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Di antara bentuk takwa adalah
menjalankan shalat lima waktu. Karena orang yang bertakwa menurut Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma adalah,
المُتَّقُوْنَ الَّذِيْنَ يَحْذَرُوْنَ
مِنَ اللهِ عُقُوْبَتَهُ فِي تَرْكِ مَا يَعْرِفُوْنَ مِنَ الهُدَى ، وَيَرْجُوْنَ
رَحْمَتَهُ فِي التَّصْدِيْقِ بِمَا جَاءَ بِه
“Orang yang
bertakwa adalah orang yang menjaga diri dari siksa Allah karena meninggalkan
petunjuk yang mereka sudah mengetahuinya dan ia mengharap rahmat Allah karena
meyakini apa yang datang dari Allah.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:400).
Meninggalkan shalat
adalah termasuk meninggalkan petunjuk. Dalam hadits, orang yang meninggalkan
shalat diancam keras. Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ
الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara
kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa meninggalkan shalat,
maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, sahih).
Jamaah shalat Jumat
rahimani wa rahimakumullah …
Diantara kedudukan
shalat dalam Islam disebutkan dalam firman Allah yang memerintahkan keluarga
untuk shalat,
وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ
نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah
kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan
akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132).
Kedudukan shalat yang
lainnya, jika shalat itu lupa atau tertidur sehingga luput dari mengerjakannya,
tetap ada qadha’ shalat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا
رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا
ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى
“Jika salah seorang
di antara kalian tertidur dari shalat atau ia lupa dari shalat, maka hendaklah
ia shalat ketiak ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya): Kerjakanlah
shalat ketika ingat.” (QS. Thaha: 14) (HR. Muslim, no. 684)
Cara mengqadha’ shalat
jika yang lupa lebih dari satu shalat, bisa dengan petunjuk dari Syaikh
‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berikut ketika beliau mengatakan
dalam Manhajus Salikin,
وَمَنْ
فَاتَتْهُ صَلَاةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ قَضَاؤُهَا فَوْرًا مُرَتِّبًا
“Siapa yang luput
dari shalat, wajib baginya untuk mengqadha’nya segera secara berurutan.”
Berarti jika lupa
beberapa shalat misalnya shalat Zhuhur dan Ashar dan ingatnya di waktu Maghrib,
maka dikerjakan kedua shalat tersebut segera, lalu mengurutkan shalat Zhuhur
kemudian Ashar, lalu mengerjakan shalat Maghrib di waktunya.
Adapun keutamaan
shalat lima waktu di antaranya adalah orang yang mengerjakan shalat di hari
kiamat akan mendapatkan cahaya. Dalam hadits disebutkan,
بَشِّرِ
الْمَشَّائِينَ فِى الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“Berilah kabar
gembira bagi orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap bahwasanya kelak
ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no.
561 dan Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini
sahih).
Ingat, jika orang
menjaga shalat dengan baik, maka urusan lainnya juga pasti baik. Maka standar
menilai seseorang itu baik dilihat dari perhatian ia pada shalat lima waktu. Umar
bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu pernah menuliskan surat ke berbagai daerah
kekuasaan beliau, isinya adalah,
إِنَّ مِنْ أَهَمِّ أُمُوْرِكُمْ عِنْدِي
الصَّلاَةُ, فَمَنْ حَفِظَهَا حَفِظَ دِيْنَهُ , وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَنْ
سِوَاهَا أَضْيَعُ , وَلاَ حَظَّ فِي الإِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
“Sesungguhnya
perkara paling penting menurut penilaianku adalah shalat. Siapa saja yang
menjaga shalat, maka ia telah menjaga agamanya. Siapa saja yang melalaikan
shalat, maka untuk perkara lainnya ia lebih mengabaikan. Tidak ada bagian dalam
Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Ash-Shalah wa Hukmu
Taarikihaa, hlm. 12).
Jika shalat baik, maka
puasa, zakat, hingga haji pun akan ikut baik. Jika shalat jelek, untuk urusan
lainnya, sampai pun masalah ia sering bermaksiat, dapat dinilai dari shalat dia
yang tidak beres. Maka, jika ada yang punya masalah rumah tangga dengan istri,
suami, atau anak, coba perhatikan apakah shalatnya sudah benar ataukah belum.
Ada anjuran juga untuk
melaksanakan shalat berjamaah terutama bagi pria. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu
‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلُّوا
أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ
في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ
“Shalatlah kalian,
wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah
shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih,
HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781).
Alasan shalat
berjamaah yang afdal adalah di masjid, yaitu; (1) masjid adalah tempat yang
mulia dan suci, (2) shalat di masjid berarti menampakkan syiar Islam dan banyak
jamaah.
Maka dalam keadaan
aman tanpa ada uzur, Imam An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menjelaskan,
إِذَا صَلَّى الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ
بِرَفِيقِهِ، أَوْ زَوْجَتِهِ، أَوْ وَلَدِهِ، حَازَ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ،
لَكِنَّهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ. وَحَيْثُ كَانَ الْجَمْعُ مِنَ الْمَسَاجِدِ
أَكْثَرَ فَهُوَ أَفْضَل
“Ketika seorang
laki-laki shalat di rumah bersama temannya, atau istrinya, atau anaknya, maka
ia tetap memperolah keutamaan berjamaah. Akan tetapi, jika dilakukan di masjid,
itu lebih utama. Ingatlah bahwa jamaah semakin banyak di masjid, itu tentu
afdal”. (Raudhah Ath-Thalibin, 1:238)
Semoga dengan
mengetahui kedudukan shalat lima waktu, keutamaan shalat lima waktu, dan
pentingnya shalat berjamaah terutama untuk pria, moga kita bisa lebih
memperhatikan shalat kita dan mengajak yang lain untuk shalat.
Semoga Allah
memberikan taufik dan hidayah pada kita semua untuk memperhatikan shalat lima
waktu, lebih-lebih untuk pria memperhatikan shalat berjamaah di masjid.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar