Oleh : Abu Utsman
Kharisman
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ
باِللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} .{يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيباً}
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً،
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Saudaraku kaum
muslimin, rahimakumullah…
Segala puji bagi Allah
Ta’ala, atas berkat taufiq dan pertolongan-Nya, kita bisa menghadiri ibadah
shalat Jumat ini. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan-Nya.
Marilah para bapak dan
saudara-saudara sekalian, jangan hanya kita mendatangi masjid-masjid saat
shalat Jumat saja. Namun semestinya, setiap panggilan kumandang adzan shalat 5
waktu, kita penuhi panggilan Allah itu dengan melaksanakan shalat berjamaah. Sungguh,
ketika Allah mengundang kita melalui lantunan adzan: Hayya alas Sholaah…Dialah
yang paling berhak untuk kita tunaikan undangannya. Jika kita biasa begitu
bersegera memenuhi panggilan dan undangan atasan kita, atau pejabat yang kita
hormati, sesungguhnya panggilan dan undangan Allah lebih layak untuk kita
perhatikan dan datangi.
Saudaraku kaum
muslimin, rahimakumullah…
Allah Ta’ala
memerintahkan kita untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya ketakwaan,
serta meminta kepada kita agar jangan meninggal kecuali dalam keadaan sebagai
seorang muslim. Sebagaimana ayat pertama yang tadi saya baca di permulaan
khotbah.
Bagaimana cara agar
kita meninggal dalam keadaan muslim? Salah satu upaya yang bisa kita tempuh
adalah dengan menjaga shalat berjamaah 5 waktu di masjid bagi para muslim
laki-laki. Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا،
فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِن
“Barangsiapa yang
suka berjumpa dengan Allah esok dalam keadaan sebagai seorang muslim, hendaknya
ia menjaga shalat-shalat ini ketika dikumandangkan adzan (dengan shalat
berjamaah di masjid)”, H.R Muslim.
Sehingga dari atsar
Ibnu Mas’ud itu kita mendapatkan faidah ilmu bahwa jika seseorang muslim
laki-laki ingin istiqomah di atas Islam hingga meninggalnya, teruslah berusaha
untuk melaksanakan shalat berjamaah 5 waktu di masjid selama tidak ada udzur
baginya.
Saudaraku….
Shalat di rumah adalah
shalat untuk kaum wanita muslimah. Mereka lebih utama shalat di rumah
dibandingkan shalat di masjid. Shalat di rumah juga adalah untuk melaksanakan
shalat sunnah. Sedangkan shalat wajib bagi laki-laki tempatnya adalah di masjid
kecuali jika ia mengalami udzur karena sakit, hujan, safar, dan udzur-udzur
syar’i lainnya.
Sekhusyu’-khusyu’nya
ibadah seorang laki-laki di rumah tidak akan bisa menandingi shalat berjamaah
di masjid. Bahkan, tidak akan sempurna shalat wajib yang dilakukan seorang
laki-laki di rumahnya apabila ia mendengar kumandang adzan dan mampu untuk
menghadirinya, tapi ia memilih shalat di rumah, padahal ia tidak memiliki
udzur. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ
لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
“Barangsiapa yang
mendengar adzan, kemudian tidak mendatanginya (untuk sholat berjamaah di
masjid, pent) maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ia memiliki udzur”,
H.R Ibnu Majah dari Ibnu Abbas.
Banyak di antara kita
yang sudah mengetahui bahwa shalat berjamaah yang dilakukan di masjid memiliki
kelipatan 25 atau dalam sebagian riwayat 27 kali lipat. Sedangkan jika
seseorang laki-laki shalat di rumahnya, sehebat-hebatnya shalat yang ia lakukan
hanyalah mendapatkan kelipatan 1 kali saja.
Kita anggap seorang
muslim yang shalat di rumah, benar-benar khusyu’ secara sempurna, dan tata cara
shalatnya sempurna benar seperti yang dicontohkan Nabi, maka ia hanya mendapat
pahala 1 saja. Berbeda dengan seorang yang shalat berjamaah di masjid, meskipun
seandainya pahalanya tidak sempurna, misalkan ia hanya mendapat 1/3 bagian dari
shalatnya, namun jika dikalikan 27 maka ia mendapatkan pahala 9. Masih jauh
lebih baik dan lebih besar pahala shalat berjamaah di masjid dengan segala
keterbatasannya, jika dibandingkan shalat sendirian di rumah.
Bayangkan, betapa
banyak kerugian kita melewatkan kelipatan-kelipatan 25 atau 27 shalat kita jika
kita selalu shalat wajib di rumah. Sungguh seorang yang cerdas dan berakal akan
berjuang untuk mendapatkan kelipatan-kelipatan yang banyak bagi pahala
shalatnya. Dalam sehari semalam saja, apabila kita selalu shalat di rumah,
meninggalkan shalat berjamaah di masjid, maka kita telah melewatkan sebanyak
135 kali kelipatan shalat kita yang didapat dari 27 dikalikan 5 waktu shalat.
Padahal shalat adalah
modal utama kita saat nanti saat berjumpa dengan Allah Ta’ala. Karena yang
pertama kali dihisab pada seseorang adalah amalan shalatnya.
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ
“Sesungguhnya amal
pertama kali yang dihisab (diperhitungkan) pada seorang manusia pada hari
kiamat adalah shalatnya”, H.R Abu Dawud.
Dengan meninggalkan
shalat berjamaah di masjid, begitu banyak modal kita yang terkurangi.
Berlipat-lipat pahala kita tinggalkan begitu saja. Apabila dalam urusan dunia,
kita mungkin mengejar kelipatan keuntungan yang besar dari bisnis maupun usaha
kita, lalu bagaimana dengan modal kita di akhirat nanti? Akankah kita abaikan?
Apakah kita rela keuntungan-keuntungan besar itu terlewatkan begitu saja
sedangkan usia kita begitu pendek? Tidak, demi Allah.
Maka mari saudaraku
kaum muslimin, datangi undangan Allah di setiap panggilan adzan 5 waktu.
Shalatlah berjamaah di masjid karena Allah. Makmurkan masjid dengan ibadah dan
amal sholih. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan keikhlasan dan kesesuaian amal
kita dengan sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam.
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ
أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang
(pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada
Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut
(kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk
golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”, Q.S at Taubah ayat 18.
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar