Oleh : Azmi Abubakar
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا
بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
الْكِرَامِ، أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ
السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا
الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ،
وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى
اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji dan syukur kita persembahkan kepada
Allah SWT atas segala karunia dan rahmatNya yang senantiasa diberikan kepada
kepada hamba-hambaNya. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Baginda
Rasulullah saw, sumber keteladanan, manusia yang paling mulia di muka bumi ini.
Pada kesempatan mulia ini, khatib berwasiat kepada
seluruh jamaah wabil khusus kepada khatib pribadi untuk senantiasa meningkatkan
serta menguatkan ketakwaan kita kepada Allah sw dalam wujud menjalankan segala
perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Semoga kita senantiasa akan
dapat menjalani kehidupan dengan baik dengan modal takwa yang kita punya.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada Jumat kali ini, khatib mengajak kita semua kembali
untuk terus istiqamah mengambil keteladanan dari Rasulullah Saw dalam kehidupan
kita. Dalam perjalanan sejarah umat manusia, ada umat yang tunduk dan
beriman,tapi banyak juga yang membangkang, sehingga datang bala dari Allah swt.
Tercatat dalam Al-Qur’an bagaimana kisah siksaan yang Allah berikan kepada kaum
Tsamud, kaum ‘Ad sampai kepada kaum Luth. Umat-umat ini sudah Allah musnahkan
dari muka bumi karena akhlak jahiliyah mereka melampaui batas.
Harus diakui bahwa manusia cenderung ingin
mendapatkan kebaikan, dan memperlakukan orang lain dengan baik, akhlak demikian
menjadi fitrahnya setiap manusia. Kefitrahan tersebut menjadi hilang karena
ketidakmampuan mendengar dan melihat setiap kebenaran. Pada tingkat yang lebih
ekstrem, ada beberapa Rasul yang menjadi korban pembunuhan oleh umatnya sendiri.
Sejarah menunjukkan, fase setelah Masehi, bangsa
Arab yang mendiami Makkah tumbuh menjadi negeri yang maju dalam perdagangan.
Tetapi akhlak manusia saat itu semakin jauh dari fitrah. Persia dan Romawi yang
mengapit Makkah malah lebih buruk daripada itu. Di sini peperangan antar cucu
Adam kerap terjadi. Siapa yang kuat dia akan berkuasa dan yang berkuasa akan
terus menginjak bawahannya.
Allah telah mempersiapkan kehadiran seorang Rasul
yang teristimewa, sebagai penyeru terakhir untuk seluruh alam, dialah
Rasulullah Muhammad saw. Perjalanan dakwah yang beliau emban sungguh sangat
besar tantangannya. Beliau memikul tanggung jawab yang besar untuk seluruh umat
manusia. Nabi Muhammad saw di beri tugas yakni sebagaimana hadits dari Abu
Hurairah ra yakni:
إِنَّمَا
بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk
menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Allah mempersiapkan Rasulullah menjadi insan yang
kamil karena tanggung jawab yang sedemikian besar. Rasulullah memiliki akhlak
yang santun dan lembut, berkasih sayang, dan ini hakikat dari akhlak Islam.
Allah memberikan pujian langsung kepada Rasulullah melalui firmanNya dalam
Surat Al-Qalam ayat 4:
وَاِنَّكَ
لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
”Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi
pekerti yang agung.”
Berbagai rujukan sirah mengabadikan momen indah
dan mengharukan tentang akhlaknya Rasulullah, hingga fase hidup di Madinah dan
wafatnya Rasulullah. Para sahabatnya mengambil langsung teladan akhlak dari
Rasulullah. Ada Sayyidina Abubakar yang bergelar siddiq, karena kejujurannya,
ada Umar bin Khattab yang memiliki garis hitam di wajahnya disebabkan seringnya
menangis mengingat kematian, ada Sayyidina Utsman yang santun dan pemalu, dan
sayyidina Ali yang berani dan memiliki tingkat kasih sayang yang tinggi kepada
kaum mukmin. Allah berfirman:
لَقَدْ
جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ
عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Telah datang seorang Rasul dari kalanganmu,
berat menanggung penderitaanmu, ingin kamu mendapatkan keamanan dan berkasih
sayang kepada orang yang beriman.” (QS. At-Taubah; 128).
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Sebagai rujukan utama dalam akhlak, meneladani
Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan bukanlah suatu yang mustahil, karena
Rasul bukan malaikat. Beliau manusia biasa yang di dalam dirinya ada mutiara
akhlak yang agung. Beliau senatiasa menangis jika datang firman Allah yang
menyebut umat Rasulullah banyak di neraka, lantas beliau memohon kepada Allah
agar umatnya banyak di surga.
Rasulullah seorang yang rendah hati, seorang
penghulu segala Rasul, dipuji oleh Tuhan, tapi berjalan dimuka bumi tanpa
meninggikan kepala. Bahkan ketika Fathul Makkah, beliau menundukkan kepalanya
sebagai tanda penghormatan kepada kota Makkah. Rasulullah tidak pernah
menyimpan dendam kepada penduduk Makkah yang telah mengusirnya, tidak ada
terlintas amarah kepada penduduk Taif yang dulu melempari dirinya tanpa ampun
sampai berdarah lututnya.
Beliau memaafkan semuanya, dan maaf dalam Islam
yang paling hebat itu adalah dengan “fa’fu wasfahu” yakni maafkan dan lupakan
semua kesalahan. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ
اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا
مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى
الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi
Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh
karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila
engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang bertawakal.”
Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita betapa
seorang Rasulullah itu mempunyai kelembutan agar manusia tertaut hatinya
menerima dakwah. Sekiranya Rasul keras, tentu banyak orang akan berpaling.
Suatu hari seorang Badui kencing di masjid, lalu para sahabat datang untuk
menahannya. Rasul datang memperlakukan sang Badui tadi dengan penuh kelembutan.
Betapa Badui itu jatuh cinta kepada Rasul dan hanya mau mendangar apa yang
Rasulullah nasihatkan.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah, Demikianlah
keluhuran akhlak Rasulullah yang harus kita teladani. Kita diingatkan bahwa
akhlak merupakan warisan agama untuk kehidupan masa depan. Rasulullah menjadi
acuan utama dalam segala aspek kehidupan. Rasul sebagai ayah, suami,
masyarakat, panglima perang, pedagang, dan lain sebagainya. Semua teladan itu
muaranya adalah Rasulullah, semoga kita terus mencoba meneladani akhlak dan
kehidupan Rasulullah saw. Amin ya Rabbal Alamin.
Sumber: https://nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-meneladani-akhlak-rasulullah-9MFpI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar