Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا
النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ
الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Jamaah Shalat Jumat Hafidzakumullah
Hari kemerdekaan yang selalu kita peringati setiap
tanggal 17 Agustus menjadi ajang untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Bagaimana
tidak, di saat bangsa Palestina masih berjuang memerdekakan diri dari
penjajahan Zionis Israel, di kala etnis Rohingya belum bisa sepenuhnya bebas
menjalani kehidupan, kita sudah puluhan tahun mendapatkan anugerah berupa
kemerdekaan. Terhitung sejak 17 Agustus 1945. Nikmat mana lagi yang kita
dustakan?
Tugas kita sekarang adalah bagaimana kita mengisi
dan mewarnai kemerdekaan dengan amal-amal baik, dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Kita rawat dan pertahankan kemerdekaan dengan menyemai kesalehan di
tiap ucapan dan perbuatan. Karena itu, mengisi kemerdekaan bisa dilakukan
dengan menjauhi segala praktik keburukan dan berhati-hati dalam mengikuti
ajakan hawa nafsu. Jauh-jauh hari Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan kepada kita:
لاَيُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَواهُ تَبَعَاً لِمَا جِئْتُ بِهِ
”Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di
antara kalian hingga hawa nafsunya mau mengikuti apa yang aku bawa.” (HR.
Baihaqi)
Hadits ini bisa kita angkat untuk mengisi
kemerdekaan. Sebab tidak sedikit orang-orang yang mengisi kemerdekaan dengan
hal-hal yang bertentangan 180 derajat dari tujuan perjuangan kemerdekaan.
Pertama, jangan
biarkan diri kita dikuasai hawa nafsu yang menyeret kepada perbuatan dosa dan
maksiat. Kita harus mampu menjaga diri dari perbuatan dosa. Kita harus mampu
menjaga diri untuk tidak terus-menerus melakukan maksiat, lebih-lebih dalam
memperingati hari kemerdekaan.
Kalau kita masih senang berbuat dosa, kita masih gemar
berbuat maksiat, artinya kita masih dijajah. Kita belum merdeka sepenuhnya.
Kita masih dijajah oleh hawa nafsu. Allah SWT berfirman:
اَرَءَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ
“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang
menjadikan keinginannya sebagai tuhannya.” (QS. al-Furqan : 43)
Rasulullah ﷺ bersabda : “Mujahid adalah orang yang berjihad
(bersungguh-sungguh) melawan hawa nafsunya, sedangkan orang yang lemah adalah
orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan kepada Allah.” Beliau ﷺ juga bersabda, “Seburuk-buruk
hamba adalah hamba hawa nafsu yang menyesatkannya, dan seburuk-buruknya hamba
adalah hamba ketamakan yang mengendalikannya.”
Kaum Muslimin
Kedua, jangan malu dan
malas untuk selalu bertobat. Orang yang bertobat adalah seorang pejuang karena
ia tengah berjuang meraih ampunan Tuhannya, yaitu Allah SWT yang Maha Menerima
Tobat hamba-Nya. Orang yang betul-betul merdeka tidak ingin takluk oleh kendali
hawa nafsu. Orang yang merdeka akan lebih memilih untuk membebaskan diri dari
perbudakan hawa nafsu dengan senantiasa memohon ampunan kepada Allah SWT.
Ketahuilah, sebesar apa pun dosa yang pernah kita
kerjakan, maka ampunan dan pemaafan Allah jauh lebih luas, lebih agung, dan
lebih besar. Dosa itu teramat kecil jika dibandingkan dengan besarnya ampunan
Allah.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki datang kepada
Nabi ﷺ dan dia
berkata, “Aduhai dosa.” Dia ucapkan dua atau tiga kali. Nabi bersabda
kepadanya, “Katakanlah,
اللّهُمَّ
مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوْبِيْ، وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ
عَمَلِيْ
“Ya Allah ampunan-Mu lebih luas daripada
dosaku, dan rahmat-Mu lebih saya harapkan daripada amalku.”
Maka dia pun mengatakannya. Kemudian Nabi berkata
kepadanya, “Ulangi lagi.” Maka dia mengulanginya. kemudian Nabi berkata
kepadanya, ulangi lagi, dia pun mengulanginya. “Berdirilah, Allah telah
mengampunimu,” kata Nabi kepadanya.” (HR. al-Hakim)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ketiga, milikilah
sifat qona’ah. Apa qona’ah itu? Qona’ah adalah merasa cukup dengan apa yang
Allah berikan kepada seseorang. Selama kita merasa cukup, kita sudah merdeka.
Tapi jika kita masih terus merasa kurang, sudah kaya masih merasa kurang, milik
orang lain ingin kita miliki, melihat orang bahagia kita susah, melihat orang
susah kita bahagia, maka kita masih terjajah oleh hawa nafsu dan itu berarti
kita belum sepenuhnya menjadi orang yang merdeka.
Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan,
“Sikap qona’ah bukan sikap yang mematikan etos kerja seseorang, tidak mau
berusaha di dunia, dan tidak mau menjalani proses. Bukan sama sekali seperti
itu. Sikap qona’ah justru melindungi diri kita dari mencari harta dunia sampai
lupa akan akhirat. Sikap qona’ah menjadi perisai diri dari mengagungkan dunia
sampai menyita waktu hingga meninggalkan kewajiban.”
Hamid al-Lafaf berkata, “Siapa yang mencari
kekayaan dengan sikap qona’ah, maka dia telah menemukan jalan yang benar. Siapa
yang mencari harta dengan tujuan mengumpulkannya atau tidak cukup dengan yang
ada, maka dia telah mendapatkan jalan yang salah.”
Hadirin yang Dimuliakan Allah
Mari kita isi kemerdekaan dengan nilai-nilai
religius. Mari kita sambut hari kemerdekaan dengan melanjutkan perjuangan para
pendahulu kita dengan menghindari perbuatan dosa serta maksiat, perbanyak
memohon ampun kepada Allah, dan menyikapi gemerlap kehidupan dunia yang
menyilaukan dengan sikap qona’ah.
Insya Allah dengan ketiga sikap di atas, nikmat
kemerdekaan ini menjadi berkah dan langgeng sampai hari akhir kelak.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ
القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar