إِنَّ
الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِ لله
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله
فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله
إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا
اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي
النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.
الله أَكْبَرُ،
الله أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ، ولله الْحَمْدُ. الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا،
وَالْحَمْدُ لله كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
Kaum Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah,
Hari ini, kaum
Muslimin insya Allah akan mengawali bulan Dzulhijah 1432 H. Di mana di dalamnya terdapat 10
Hari pertama yang terkandung sekian keutamaan. Sepuluh hari yang sarat dengan
kebaikan. Kebaikan padanya bernilai utama di sisi Allah. Dari Ibnu Abbas radhiallahu
‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا
الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هذَا الْعَشْرِ، قَالُوْا: وَلَا
الْجِهَادُ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ
وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ.
“Tidak ada amal
pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal-amal di sepuluh hari ini.”
Mereka berkata, “Tidak pula jihad?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki
yang berangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak pulang
dengan sesuatu (dari keduanya atau mati syahid).” (HR. al-Bukhari, Shahih
al-Bukhari, no. 969).
Kaum Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah,
Salah satu ibadah
utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci yang merupakan salah
satu rukun Islam yang lima. Begitu identiknya haji dengan hari dan bulan ini
sehingga orang-orang mengatakan hari raya haji dan bulan haji. Haji adalah
ibadah tua seumur bapak para nabi, Ibrahim ‘alaihissalam. Dialah pembangun
Ka’bah Baitullah dan setelah itu dia mengumumkan haji ke seluruh penjuru bumi. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala,
وَإِذْ
يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلَ رَبَّنَا
تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah),
ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il
(seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (Al-Baqarah: 127).
Firman Allah Subhanahu
Wata’ala,
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ
مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah
yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang
di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
(Ali Imran: 96).
Firman Allah Subhanahu
Wata’ala,
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً
وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ
“Dan berserulah
kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu
dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap
penjuru yang jauh.” (Al-Hajj: 27).
Kaum Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah,
Salah satu hikmah
Allah dalam mensyariatkan ibadah adalah Dia menjadikannya beragam, dimana hal
ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang merupakan rukun Islam, syahadat
merupakan ibadah hati karena ia merupakan keyakinan dasar yang kemudian
dilafazkan dengan lisan, sementara shalat adalah gerakan jasad, ia merupakan
ibadah badani, lain lagi puasa yang merupakan sikap menahan diri, lalu zakat
yang merupakan ibadah hartawi dan yang kelima adalah haji yang menggabungkan
semua sisi dari empat ibadah sebelumnya.
Dari sinilah, maka
haji termasuk ibadah yang terakhir diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada
tahun 9 Hijriyah. Hal ini karena haji memerlukan segala perkara yang diperlukan
oleh empat rukun sebelumnya. Ia memerlukan landasan iman yang tertanam dalam
syahadat, ia memerlukan tenaga jasmani dan harta yang ada pada shalat dan
zakat, dan ia memerlukan sikap menahan diri yang dikandung oleh puasa.
Maka dari itu, ibadah
haji sarat dengan nilai-nilai luhur, padat dengan jihad dan pengorbanan, penuh
dengan pendidikan dan penempaan diri. Kita menengok kepada syarat wajib haji,
ia adalah istitha’ah. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ
إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan haji
adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
(Ali Imran: 97).
Kesanggupan atau
kemampuan di mana dasarnya menurut para ulama adalah kesanggupan finansial,
kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan
usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi manakala harta yang telah diraih
itu, yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa, mesti dirogoh dari
kantong untuk membiayai diri, demi rukun Islam yang agung ini, belum lagi
kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat.
Dibutuhkan jihad
melawan kecintaan berlebih kepada harta agar jiwa rela dan lapang
mengorbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Dibutuhkan pula
jihad melawan kecintaan berlebih kepada sikap santai dan rehat, sebab haji
memang mengharuskan kelelahan, baik kelelahan perjalanan dan kelelahan
pelaksanaan.
Kaum Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah
Kita menengok lebih
dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji. Kita bisa mendapatkan bahwa ia
merupakan pendidikan jihad agar jiwa menghormati dan menghargai batasan-batasan
Allah, menahan diri dengan tidak melanggarnya. Seperti kita ketahui, haji
ditunaikan dalam keadaan ihram, dan dalam ihram ini terdapat
pantangan-pantangan yang harus dijaga, seperti pakaian berjahit, topi atau
kopyah, mencukur rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, memakai
minyak wangi, bersetubuh, menikah dan menikahkan.
Semua ini adalah
perkara-perkara yang harus dijauhi semasa ihram, padahal sebagian darinya
adalah perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang sepele, seperti
menutup kepala dengan penutup atau memotong kuku. Sementara sebagian lagi
merupakan perkara yang disukai oleh jiwa seperti minyak wangi dan bersetubuh.
Akan tetapi semua itu adalah batasan-batasan Allah yang tidak patut disepelekan
atau dipandang sebelah mata.
Kita kembali menengok,
aturan-aturan di atas mengakibatkan sangsi dan hukuman bagi pelanggarnya, mulai
dari bersedekah dan berpuasa, sampai dengan mengalirkan darah dengan
menyembelih hewan ternak, sebuah pendidikan kedisiplinan dan tanggung jawab
serta kesiapan memikul resiko kelalaian dan kekhilafan, dan itu pun dalam
bentuk perbuatan yang kebaikannya kembali kepada diri sendiri atau kepada
sesama. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَالْبُدْنَ
جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ
اللهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا
وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ . لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن
يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ
عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Dan telah Kami
jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh
kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika kamu
menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila
telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan
kamu bersyukur.
Daging-daging unta
dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah
menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahNya
kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Hajj: 36-37).
Kaum Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah,
Mari kita lihat dan
cermati tempat di mana haji ini dilaksanakan, sebuah tempat yang berpusat di
daerah Haram yang memiliki hukum-hukum khusus yang berbeda dengan yang lain,
salah satunya jika di daerah selainnya keinginan berbuat keburukan belum
diperhitungkan, maka berbeda dengan di daerah Haram, ia diperhitungkan bahkan
diancam siksa yang pedih. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ
عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan siapa yang
bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami
rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (Al-Hajj: 25).
Oleh karena itu, ayat
Al Quran yang lain mengajarkan orang yang berhaji agar menghindari
perkara-perkara yang dapat mengurangi atau menghapus keutamaan ibadah haji.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ
فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Barangsiapa yang
menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh
bersetubuh, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”
(Al-Baqarah: 197).
Dan haji yang demikian
melebur dosa-dosa pelakunya sehingga dia pulang dalam keadaan sama dengan pada
saat dilahirkan oleh ibunya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لله، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ
كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
“Barangsiapa
berhaji karena Allah, lalu dia tidak melakukan bersetubuh dan tidak melakukan
perbuatan fasik, niscaya dia pulang seperti hari di mana dia dilahirkan oleh
ibunya.” (Muttafaq ‘alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 732; dan Mukhtashar
Shahih Muslim no. 641).
Juga sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam kepada Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu pada saat dia masuk
Islam,
أَمَا
عَلِمْتَ يَاعَمْرُو! أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ
الْهِجْرَةَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَاكَانَ
قَبْلَهُ.
“Apakah kamu belum
mengetahui wahai Amr, bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya, hijrah
menghapus apa yang sebelumnya, dan haji menghapus apa yang sebelumnya.”
(HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 64).
Kaum Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah,
Kita kembali menengok
rangkaian manasik haji: thawaf, sa’i, wukuf, melempar jumrah dan lain-lain.
Semua ini merupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktivitas fisik yang
melelahkan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ber-talbiyah,
ditambah dengan kepadatan manusia yang memiliki beragam bahasa dan tradisi,
berkumpul di satu tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang
kadang-kadang berbeda jauh dengan cuaca di negeri sendiri.
Semua itu tidak jarang
menimbulkan problem tersendiri yang menuntut usaha keras dan kesabaran dalam
menyikapinya, maka tidak berlebihan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mendudukkan haji dalam deretan amalan-amalan utama setelah iman
dan jihad di jalan Allah. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
أَنَّ
رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ:
إِيْمَانٌ بِ لله وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي
سَبِيْلِ الله. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ.
“Bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang amal apakah yang paling utama?
Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya, “Lalu apa?”
Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau
menjawab, “Haji mabrur.” (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no.
25).
Tantangan dalam ibadah
haji yang dihadapi dan pengorbanan yang diberikan bertujuan melatih dan
mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin diperinci satu
demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup menyadarkan kita
akan hikmah mulia dari ibadah haji. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
لِيَشْهَدُوا
مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى
مَارَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا
الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ
“Supaya mereka
menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah
pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada
mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya, dan
(sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
(Al-Hajj: 28).
Semoga saudara-saudara
kita yang berangkat haji dikaruniai Haji Mabrur yang memberi pengaruh baik
dalam kehidupan dan perilaku mereka, dan bagi saudara-saudara kita yang belum
berangkat semoga Allah memudahkan jalannya agar mereka juga bisa menyaksikan
keagungan-Nya melalui ibadah yang agung ini.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber : https://khotbahjumat.com/578-haji-jihad-dan-pengorbanan.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar