Oleh : Abdul Halim
Tri Hantoro, S.Pd.I
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإنّ
أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى
الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد
Segala puji bagi Allah
Ta’ala, Dialah Dzat yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa yang telah menciptakan
langit yang bertingkat tanpa tiang, dan yang menciptakan bumi berlapis yang
terhampar. Semua makhluk baik yang di langit maupun di bumi tunduk menghambakan
diri kepada-Nya.
Allah berfirman,
كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغۡلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِيٓۚ إِنَّ
ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Aku telah
menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-ku pasti menang. “Sungguh, Allah Mahakuat,
Mahaperkasa.” (QS. Al-Mujadalah: 21)
Allah juga berfirman,
أَلَمۡ تَرَ
أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُۤ لَهُۥۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ
وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ
وَكَثِيرَ مِّنَ ٱلنَّاسِۖ…
“Tidakkah engkau
tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada
Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan
yang melata dan banyak di antara manusia…” (QS. Al-Hajj: 18)
Shalawat dan salam
semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pemimpin yang kuat nan tangguh, yang telah membebaskan manusia dari peradaban
hina nan nista yaitu peradaban jahiliyah menuju peradaban mulia dan beradab
yaitu peradaban Islam. Semoga keselamatan juga tercurah kepada para sahabat dan
segenap umatnya yang berpegang teguh kepada Islam sampai akhir zaman.
Mari kita semua
berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala di mana
saja berada, mengiringi setiap kelalaian dan perbuatan dosa dengan kebaikan,
niscaya ia akan menghapusnya.
Jamaah shalat Jumat
rahimakumullah,
Seorang mukmin
hendaknya menjadi pribadi yang kuat, bukan untuk bangga-banggaan, bukan juga
untuk menindas orang lain maupun berambisi pada kekuasaan. Akan tetapi kuatnya
seorang mukmin adalah untuk membela kebenaran. Allah menyifati hamba-Nya yang
bernama Thalut dengan sosok yang kuat untuk membela agama Allah subhanahu
wata’ala.
قَالَ إِنَّ
ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَيۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةً فِي ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ
يُؤۡتِي مُلۡكَهُۥ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Allah telah
memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah
memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas,
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)
Bahkan keberadaan
seorang mukmin sejati yang kuat lebih Allah sukai daripada seorang mukmin yang
lemah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ
مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat
itu lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wata’ala daripada mukmin yang
lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadits di atas
menjelaskan bahwa seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang
mukmin yang lemah sebab, mukmin yang kuat dapat melakukan sesuatu untuk kaum
muslimin. Dia dapat memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengan kekuatan
yang dimilikinya.
Mereka yang memiliki
kekuatan dapat memberikan manfaat besar dengan kekuatan terebut dalam
jihad fii sabilillah, merealisasikan kemaslahatan kaum muslimin, membela
Islam dan kaum muslimin, serta merendahkan musuh Islam dan berdiri menghadapi
musuh tersebut. Semua ini tidaklah mampu dilakukan oleh mukmin yang lemah.
Hanya saja setiap
mukmin baik kuat ataupun lemah itu memiliki kebaikan lantaran keimanan yang ada
pada dirinya. Masing-masing dapat memberikan andil untuk Islam sesuai dengan
kemampuannya. Allah berfirman,
وَأَعِدُّواْ
لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةِ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ
عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ
يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٍ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ
وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ
“Dan persiapkanlah
untuk menghadapi mereka orang-orang kafir) kekuatan apa saja yang kalian
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan
persiapan itu) kalian menggentarkan musuh-musuh Allah dan musuh kalian.” (QS.
Al-Anfal: 60)
4 Pilar Mukmin yang
Kuat
Jamaah shalat Jumat
rahimakumullah,
Tentunya adalah bukan
kekuatan fisik semata yang harus diraih oleh seorang mukmin, namun banyak aspek
kekuatan yang jika terwujud maka akan saling menopang satu sama lain sebagai
sarana membangun kekuatan umat menuju kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Syaikh
Muhammad Ali ash-Shabuni menjelaskan hadits di atas di dalam kitabnya Min
Kunuzis Sunnah, bahwa kekuatan yang harus ada pada diri seorang mukmin yang
kuat itu mencakup 4 pilar berikut ini.
Pilar Pertama: Quwwatul
Iman (Kekuatan Iman)
Pilar pertama yang
harus dibangun dalam mewujudkan pribadi mukmin yang kuat adalah kekuatan iman. Iman
yang kuat dalam diri seorang mukmin akan melahirkan keyakinan bahwa semua yang
terjadi di dunia adalah karena kehendak Allah, tanpa kehendak-Nya, semua itu
tidak akan terjadi. Dengan demikian ia tidak akan pernah merasa gentar dan
takut dalam menghadapi rintangan di atas jalan agama Allah.
Namun kekuatan iman
itu terwujud bukan dengan sendirinya, namun melalui proses yang kadang berat
lagi susah. Di antara upaya tersebut adalah senantiasa memiliki interaksi kuat
dengan al-Quran dan melazimi perintah-perintah Allah subhanahu wata’ala. Allah
berfirman,
إِنَّمَا
ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا
تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ
٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣ أُوْلَـٰٓئِكَ
هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّاۚ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar
hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat
imannya dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang
melaksanakan shalat dan yang menginfaqkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.” (QS.
Al-Anfal: 2-4)
Syaikh Abdur Razzaq
bin Abdul Muhsin Al-Badr menyebutkan di dalam kitab Asbab Ziyadatil Iman wa
Nuqshanihi setidaknya ada 3 cara untuk meningkatkan iman agar lebih kuat
tertancap dalam hati.
Cara pertama, mempelajari
ilmu yang bermanfaat, di antaranya membaca al-Quran dan mentadaburinya. memperhatikan
keindahan agama Islam, membaca sirah Nabi Muhammad dan membaca sirah salaf
shalih.
Cara kedua, memperhatikan
ayat-ayat kauniyah.
Cara ketiga, bersungguh-sungguh
dalam beramal saleh, baik dengan hati, lisan maupun anggota badan, termasuk
juga bersungguh-sungguh dalam berdakwah.
Pilar Kedua:
Quwwatul Ilmi (Kekuatan Ilmu)
Pilar kedua yang harus
ada pada sosok mukmin yang kuat adalah kekuatan ilmu. Islam adalah agama yang
sangat menjunjung tinggi ilmu dan menghormati orang-orang yang berilmu. Allah
meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu hingga beberapa
derajat di atas orang yang beriman saja tetapi tidak berilmu.
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ
وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٍۚ
“Allah akan
mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang
yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu menjadi dasar
keutamaan manusia dan menjadi penentu kemuliaannya. Penunjukan nabi Adam ‘alaihissalam
sebagai khalifah tidak lain adalah karena potensi ilmunya, sehingga ia dapat
mengungguli makhluk Allah yang lain yakni para malaikat. (lihat: Al-Baqarah:
30) Dalam Islam, ilmu tidak hanya sekedar untuk pengetahuan saja melainkan
untuk kebaikan dan ibadah. Ilmu harus melahirkan amal atau tindakan. Kita harus
berbuat dan beramal atas dasar ilmu yang dimiliki.
Dalam kitab Rijal Haula
Rasul dikisahkan, pada suatu majelis sahabat Abu Darda’ sedang berdiskusi
dengan sahabat lainnya tentang hari akhirat. Tiba-tiba beliau menangis, hingga
air matanya meleleh. Maka sahabat lain pun bertanya mengapa dia menangis. Abu
Darda’ menjawab, “Aku takut kelak di akhirat ditanya, Apakah kamu memiliki ilmu
dan apakah kamu mengamalkan ilmu yang kamu miliki?”
Kisah di atas
mengantarkan kita pada beberapa hikmah yang sangat agung. Di antaranya,
Hikmah pertama: Sahabat
Abu Darda’ adalah seorang yang tidak hanya alim, namun juga taqwa, memiliki
rasa takut akan kedudukan Allah subhanahu wata’ala. Dan inilah memang ciri
daripada seorang ulama. (lihat: Fathir: 28)
Hikmah kedua: Obyek
diskusi seorang ahli ilmu tidak hanya melulu urusan dunia, akan tetapi yang
lebih penting justru adalah perkara akhirat untuk meningkatkan keimanan dan
memperkuat daya ingat terhadap kematian.
Hikmah ketiga: Ilmu
merupakan salah satu aspek yang membentuk kualitas agama seseorang (taqwa).
Dari sinilah, ilmu
benar-benar menjadi kekuatan apabila ia amalkan dan dijadikan sebagai sarana
untuk memperoleh kemuliaan di akhirat.
Pilar Ketiga:
Quwwatul Jasad (kekuatan fisik)
Jamaah shalat Jumat
rahimakumullah,
Mukmin yang kuat harus
memiliki jasad yang kuat. Kalau kita membaca sejarah para pendahulu yang mulia,
manakah di antara sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tak
pandai berperang?
Carilah di antara
mereka, mana yang tidak bisa menunggang kuda, memanah, atau bermain pedang. Secara
umum, hampir seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai
keahlian fisik. Memang mereka sangat terkenal dengan ahli ibadah, ahli membaca
al-Quran, ahli tahajud, rajin puasa sunnah, namun di sisi lain mereka adalah
orang-orang yang kuat fisiknya. Maka menempa fisik agar menjadi kuat adalah
bagian dari perintah agama yang langsung disampaikan melalui lisan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam.
إِنَّ
وَلَيْسَ اللَّهْوُ إِلَّا فِي ثَلَاثَةٍ: تَأْدِيبِ الرَّجُلِ فَرَسَهُ،
وَمُلَاعَبَتِهِ امْرَأَتَهُ، وَرَمْيِهِ بِقَوْسِهِ، وَنَبْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ
الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ، فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ كَفَرَهَا
“Sesungguhnya tiga
hal yang tidak termasuk perbuatan sia-sia; seorang laki-laki yang melatih
kudanya, suami yang mencandai istrinya dan latihan memanah. Barang siapa
meninggalkan memanah setelah dia mengetahuinya karena benci, maka itu namanya
kufur nikmat.” (HR. Nasa’i)
Pilar Keempat:
Quwwatul Iqtishad (kekuatan ekonomi)
Jamaah shalat Jumat
rahimakumullah,
Pilar keempat dalam
membangun pribadi mukmin yang kuat adalah kekuatan ekonomi. Sahabat Utsman bin
Affan radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi yang kaya raya dan juga
dermawan. Ia banyak menyumbangkan harta bendanya untuk tegaknya panji-panji Islam.
Dalam perang Tabuk melawan romawi, Utsman menyediakan 300 ekor unta dan 1000
dinar dari kantong pribadinya untuk biaya peperangan.
Ada kisah lain yang
menggambarkan kedermawanan seorang Utsman bin Affan ketika ia berhasil membeli
sebuah sumur yang dimiliki oleh orang Yahudi di Madinah untuk keperluan kaum
muslimin. Utsman membeli sumur itu dengan harga 12.000 dirham dan itu pun masih
separuh harga, belum semuanya. Karena si Yahudi baru bersedia menjual
separuhnya.
Melihat perjalanannya
kemudian orang Yahudi itu menjual seluruhnya, dan Utsman pun menambah seharga
8000 dirham sehingga semua sumur tersebut milik kaum muslimin. Sumur tersebut
dikenal dengan nama Bi’ru Raumah yang hingga hari ini masih mengeluarkan
airnya.
Demikianlah gambaran
sederhana manakala seorang mukmin itu kuat dalam hal ekonomi, maka ia dapat
mengentaskan permasalahan yang notabene mendera kaum muslimin di berbagai
belahan bumi. Allah berfirman,
وَمَا
تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرِ فَلِأَنفُسِكُمۡۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ
ٱللَّهِۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا
تُظۡلَمُونَ
“Dan apa saja harta
yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalannya itu untuk kamu
sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari
keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu
akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.”
(QS. Al-Baqarah: 272)
Jamaah shalat Jumat
rahimakumullah,
Dengan membangun empat
pilar tersebut; Iman, Ilmu, Fisik, dan Ekonomi, insyaallah akan tercipta
karakter sosok mukmin yang kuat.
Demikian materi
khutbah Jumat tentang pilar pribadi mukmin yang kuat yang dapat kami sampaikan
pada siang hari ini. Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk senantiasa
menjadi hamba-Nya yang kuat sehingga mampu memberikan andil untuk kemenangan
Islam dan kemuliaan kaum muslimin. Aamiin.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Sumber : https://www.dakwah.id/materi-khutbah-jumat-membangun-karakter-mukmin-yang-kuat/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar