Oleh : Dr. Muzakkir Usman, M.Ed
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أما بعد :
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ
الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ
مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Ma’asyiral Muslimin
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Segala puji bagi Allah
SWT, Pemilik segala hikmah, yang dengan Kalam-Nya menghadirkan cahaya di
kegelapan, ibarat mentari yang menerangi hamparan alam. Dialah yang menurunkan
Al-Qur’an sebagai peta jalan menuju kebahagiaan sejati.
Kita bersaksi bahwa
tiada Tuhan selain Allah, dan kita bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah
utusan-Nya, pembawa lentera yang tak pernah redup hingga akhir zaman.
Shalawat dan salam
senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan perjuangannya
menjadikan Al-Qur’an sebagai penjaga akidah, pembimbing akhlak, dan pengatur
seluruh sendi kehidupan.
Mari kita teguhkan
hati dan langkah, menjadikan Al-Qur’an sebagai tali penghubung dengan Allah,
pedoman yang tak pernah salah, demi terbentuknya pribadi Muslim yang kaffah,
utuh dalam iman, ilmu, dan amal. Dalam Surat Al Jumuah ayat 2, Allah SWT
berfirman:
هُوَ
الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه
وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ
لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
“Dialah yang
mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari
(kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Quran) dan
Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang
nyata”.
Allah dalam ayat ini
menjelaskan bahwa Rasulullah SAW diutus kepada bangsa Arab untuk menyampaikan
risalah Allah SWT berupa wahyu Al Qur’an. Dengan wahyu Al Quran ini, manusia
akan bertransformasi dari وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ
لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ menjadi manusia yang
tercerahkan jiwanya.
Ma’asyiral Muslimin
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Terdapat tiga proses
yang harus dilalui oleh seorang hamba untuk mendapatkan pencerahan melalui Al
Quran. Proses yang Pertama adalah tilawah (يَتْلُوْا
عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه), yaitu membaca ayat–ayat
Allah yang terdapat di dalam Al Quran. Inilah proses pertama yang dilakukan
oleh Rasulullah SAW kepada bangsa Arab, yaitu membacakan ayat ayat yang turun
kepada beliau.
Rasulullah membaca
ayat ayat pertama dari surah Al ‘Alaq kepada Khadijah, Sahabat Abu Bakar, Ali
bin Abi Thalib, dan para assabiqunal awwalun kaum muslimin. Begitu
seterusnya, hingga ayat yang terakhir pada surat Al Maidah, ayat yang ke 3.
ٱلْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ
ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا
“Pada hari ini
telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Tahapan tilawah ini,
dilakukan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidupnya, baik setiap kali sebuah ayat
atau surah turun, atau mengulang ngulang bacaan ayat ayat yang telah diturunkan
kepada beliau. Inilah tugas pertama yang diemban oleh Rasulullah terhadap Al
Quran, yaitu membacakan ayat ayat tersebut kepada kaumnya, agar kaumnya
mendengarkan bacaan tersebut.
Ma’asyiral Muslimin
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Lalu, tahapan yang Kedua,
dan ini adalah tujuan daripada dibacakannya ayat ayat Al Quran, yaitu tazkiyah.
Pada tahapan ini, ayat ayat yang dibacakan oleh Rasulullah SAW menjadi
instrumen untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seorang hamba, agar jiwa
tersebut tercerahkan dengan ayat ayat yang dibacakan.
هُوَ
الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه
وَيُزَكِّيْهِمْ
“Dialah yang
mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari
(kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
menyucikan (jiwa) mereka……”
Inilah siklus penting
dari turunnya Al Quran sebagai sebuah mukjizat yang masih bisa dirasakan
kehebatannya oleh seorang hamba. Dari ayat ayat yang dibaca, ia menjadi
instrumen penting untuk membersihkan jiwa seorang hamba, lalu
mentransformasikan jiwa tersebut dari yang belum tercerahkan menjadi jiwa yang
tercerahkan.
Ketika Al Quran ini
sering dibaca, dengan يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ (mereka membacanya dengan bacaan yang
sebenarnya), maka ia akan menjadi sebuah kekuatan untuk mentransformasi seorang
hamba baik secara intelektual, spiritual, emosional, sosial bahkan finansial.
Akan terjadi proses pemberdayaan sosok manusia (human empowerment), dari
inferior menjadi manusia superior.
Bukankah seorang hamba
ketika ia membaca ayat ayat tentang kekuasaan Allah, maka ia akan menjadi
manusia cerdas, yang tadinya tidak mengetahui bahwa alam semesta dan isinya ini
adalah ciptaan Allah, bertransformasi menjadi sosok yang mengerti bahwa
Sesungguhnya hanya Dialah Allah yang mempergilirkan siang dan malam ini dengan
kekuasaan-Nya.
قُلْ
أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكُمُ ٱلَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ
ٱلْقِيَٰمَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ يَأْتِيكُم بِضِيَآءٍ ۖ أَفَلَا
تَسْمَعُونَ
“Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus
sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar
terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”
Ketika ayat ini sampai
kepada seorang hamba, maka akal pikirannya akan melakukan pengembaraan
intelektual untuk merenungkan pergiliran siang dan malam, dan mengungkap sebuah
fakta yang disampaikan melalui Al Quran bahwa peristiwa pergiliran siang dan
malam hanya bisa terjadi karena kekuasaan Allah.
Ma’asyiral Muslimin
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Pada aspek spiritual,
Ayat ayat Al Quran memberdayakan spiritual manusia, dari sosok seorang hamba
yang tidak mengenal Tuhan (jahil), bahkan anti Tuhan (dhalalah),
menjadi manusia yang tunduk dan taat beribadah hanya kepada Allah.
وَلِلّٰهِ
غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّه فَاعْبُدْهُ
وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَࣖ
“Milik Allahlah
(pengetahuan tentang) yang gaib (di) langit dan (di) bumi. Kepada-Nyalah segala
urusan dikembalikan. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Tuhanmu
tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan”.
Aspek spiritual
seorang hamba akan tercerahkan, ketika membaca ayat ayat ini dengan “haqqo
tilaawatih”, bahwa Allah yang mengetahui segala yang gaib baik di langit
maupun di bumi, dan hanya kepadalah segala urusan dikembalikan.
Karena alasan
kekuasaan Allah inilah, maka tidak ada penolakan pada diri hamba kecuali untuk فَاعْبُدْهُ
وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ. Akan lahir kesadaran, bahwa
kalau Allah saja yang Maha Mengetahui hal hal yang gaib baik di langit dan di
bumi, maka kepada siapa lagi seorang hamba harus menyembah kecuali hanya kepada
Allah, dan kepada siapa lagi seorang hamba menggantungkan segala urusan selain
hanya kepada Allah Ta’ala.
Seperti itu jugalah
ayat ayat al Quran mentazkiyah seorang manusia secara emosional, sosial, dan
finansial. Tadinya ia orang yang gampang marah, suka menyakiti hati orang lain,
bahkan bakhil. Dengan membaca ayat ayat Al Quran, terjadi proses tazkiyah, yang
mentransformasi jiwa yang pemarah, suka menganiaya, dan kikir, menjadi jiwa
yang penyayang, lembut, dan dermawan.
Lihatlah sosok sahabat
amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anh yang terkenal dengan amarah
yang meledak ledak dan emosi yang tidak stabil. Kemana mana ia acungkan
pedangnya, seakan akan hidupnya hanyalah untuk menebas leher setiap wajah yang
bertemu dengannya. Begitu Umar mendengarkan ayat ayat Al Quran, hatinya tercerahkan.
Sosok Amirul mukminin pun berubah dari pribadi yang suka mencari lawan, menjadi
sosok yang memanggul beras untuk keluarga miskin.
Pun juga lihatlah umat
Islam yang berbondong bondong mendonasikan hartanya ketika ayat ayat infak
turun dan dibacakan kepada mereka. Satu diantaranya adalah sahabat Abu Thalhah radhiyallahu
‘anh. Ketika turun surah Ali ‘Imran ayat 92:
لَنْ
تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا
مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ
“Kamu tidak akan
memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu
cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha
Mengetahui”.
Maka, Abu Thalhah
bergegas mendatangi Rasulullah SAW dan menginfakkan kebun kurma yang paling dicintainya
yang berada dekat dengan Masjid Nabawi.
Ma’asyiral Muslimin
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Lalu, siklus yang Ketiga
adalah وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ, yaitu mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah
(Sunnah).
Proses tazkiyah
terhadap jiwa manusia, bukan merupakan proses yang bersifat short term (jangka
pendek), melainkan long term (jangka panjang). Ibarat seorang marbot, ia
membersihkan masjid bukan hanya sekali, tetapi berulang ulang, agar kebersihan
masjid sebagai tempat ibadah selalu terjaga.
Pun juga dengan jiwa
manusia, ia harus selalu dibersihkan agar senantiasa tercerahkan. Maka proses
tilawah, harus senantiasa dilakukan ditambah dengan mempelajari kandungan Al
Quran tersebut, juga mempelajari sunnah Rasulullah SAW baik perkataan maupun perbuatan,
agar tazkiyatun nafs terus berlangsung.
Maka, seorang hamba
harus terus mengisi hari harinya dengan membaca Al Qur’an, mempelajari
kandungannya, dan memperkaya maknanya melalui sunnah sunnah Rasulullah SAW,
untuk mentazkiyah jiwanya menjadi seorang pribadi muslim yang kaffah.
Sungguh tidak bisa
dibayangkan, ketika Al Quran dijauhkan dari kehidupan seorang hamba. Ia tidak
pernah dibaca, apalagi dipelajari. Maka lahirlah manusia manusia yang
terbelakang secara intelektual. Kepintarannya ibarat kacang hanya sampai
kulitnya, tidak pernah menyentuh hal hal yang substantif. Betapa banyak ilmuwan
barat hari ini, yang berhasil mengungkap keajaiban sains sampai menemukan
partikel yang mereka namakan partikel Tuhan, tapi tidak pernah menemukan Tuhan
yang sebenarnya yaitu Allah Ta’ala.
Kita tidak bisa
membayangkan, kalau Al Quran tidak pernah dibaca dan dipelajari, maka akan
muncul manusia manusia serakah, bakhil, kikir, tamak, dan rakus yang secara
sistemik menggerogoti kekayaan suatu negeri karena ayat ayat tentang zakat,
infak, dan sedekah tidak pernah mereka dengar.
Maka, kalau ingin
menjadi sosok pribadi muslim yang kaffah, cerdas intelektual, sehat spiritual,
sehat sosial dan emosional, serta melek literasi finansial yang sebenarnya,
baca dan pelajarilah Al Quran, agar Quran mentransformasi jiwa yang gersang
menjadi jiwa yang tenang.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber : https://hidayatullah.or.id/khutbah-jumat-tiga-fungsi-al-quran-dalam-membentuk-pribadi-muslim-kaffah/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar