Rasulullah saw mengabarkan bahwa keimanan itu ada banyak cabang atau bukti. Cabang yang tertinggi adalah kalimah thayyibah; Lailahaillallah, sedangkan cabang yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Tidak jarang kita lebih memperhatikan amal yang besar dan membiarkan amal kecil. Padahal, amal kecil seperti menyingkirkan duri jalanan, selama didasari keimanan, akan menjadi bukti keimanan itu sendiri bahkan dapat mengantarkan kepada rida dan ampunan Allah.
إِنّ
الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا
بَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ،
Sidang Jumat yang
dirahmati Allah,
Puji dan syukur
marilah kita panjatkan ke hadirat Allah swt. Alhamdulillah, berkat limpahan
rahmat dan inayah-Nya, kita masih mendapatkan nikmat iman-Islam, nikmat sehat,
panjang umur, dan nikmat kekuatan, sehingga hati kita masih terpanggil
menjalankan perintah Allah, dan duduk bersimpuh di tempat yang insya Allah
penuh berkah ini.
Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Baginda Alam, Nabi Besar Muhammad saw. Beserta keluarga
dan para sahabatnya, hingga kepada kita yang senantiasa berharap rida dan
syafaatnya pada hari Kiamat.
Melalui mimbar yang
mulia ini, khatib selalu berpesan kepada diri pribadi khususnya dan kepada
jamaah Jumat umumnya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah
swt. Sebab, hanya dan takwa yang menjadi benteng dan keselamatan diri kita
kelak.
Sidang Jumat yang
dirahmati Allah,
Rasulullah mengabarkan
kepada kita semua bahwa keimanan itu memiliki tujuh puluh cabang atau bukti.
Cabang yang tertinggi adalah kalimat tauhid, yaitu Lâilâhaillallâh, sedangkan
bagian terendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Hal itu sejalan dengan
sabdanya:
الْإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ،
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Iman itu lebih
dari 70 atau 60 cabang. Cabang paling utama adalah perkataan Lâ ilâha illallâh,
dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu
itu termasuk cabang dari iman.” (HR Muslim)
Kaitan dengan cabang
atau bukti iman yang terendah, Nabi saw. sudah mengisahkan, ada seorang pria
yang dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya karena telah menyingkirkan sebuah
dahan berduri di jalan yang biasa dilalui banyak orang. Hadits yang
mengisahkannya adalah sebagai berikut:
بَيْنَمَا
رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ،
فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Saat seorang pria
sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi
jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan
mengampuni dosa-dosanya,” (HR. Ahmad).
Pada redaksi yang
lain, disebutkan:
مَرَّ
رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ
هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
“Dikisahkan ada
seorang pria melewati dahan sebuah pohon di badan jalan. Ia lantas berkata,
‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini agar tidak menghalangi kaum
Muslimin. Berkat amal itu, ia dimasukkan ke surga,” (HR. Muslim).
Sidang Jumat yang
dirahmati Allah,
Dua hadits di atas
mengisahkan kepada kita bahwa seorang pria mendapati dahan berduri di jalan
yang menghalangi diri dan pengguna jalan lain. Ia kemudian segera memotong
dahan tersebut dan menyingkirkannya dari badan jalan. Tujuannya agar tidak
membahayakan orang-orang yang melintas, terutama sesama muslim. Maka Allah pun
mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Berkat amalnya itu,
Rasulullah saw. melihatnya sedang mendapatkan kenikmatan di dalam surga.
Dari kisah di atas,
kita mengetahui bahwa pria itu hanya mengerjakan amal kecil, namun dibalas
Allah dengan balasan besar nan istimewa. Sungguh besar dan luasnya rahmat serta
karunia Allah. Pantas Rasululullah saw. selalu mengingatkan, “Singkirkanlah
duri dari jalan kaum Muslimin.”
Di sisi lain, beliau
juga memperingatkan kita agar jangan pernah mengganggu apalagi mencelakakan
sesama muslim, sebagaimana yang terungkap dalam hadits berikut:
مَنْ ضَارَّ ، ضَارَّ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ شَاقَّ ، شَقَّ
اللَّهُ عَلَيْهِ
“Siapa saja yang
membahayakan (orang lain), maka Allah akan menimpakan bahaya padanya. Siapa
saja yang menyusahkan orang lain, maka Allah akan menimpakan kesusahan padanya.”
(HR. Abu Dawud).
Dan masih banyak lagi
kisah dan riwayat serupa yang berbicara soal ini, seperti halnya kisah yang
dialami oleh Sahabat Umar bin Khathab yang meraih rida Allah karena melepaskan
burung dari tangan anak-anak. Kemudian, kisah Imam al-Ghazali yang meraih rida
Allah karena menyayangi seekor lalat yang menghisap tinta yang akan
dituliskannya. Bahkan, ada pula kisah seorang wanita sundal yang berhasil
mendapat ampunan Allah karena amalnya memberi minum kucing yang tengah
kehausan. Dan masih banyak lagi kisah lainnya.
Intinya, semua
menunjukkan betapa mulianya kaum Muslimin yang mengamalkan dan menjunjung
tinggi nilai-nilai kebaikan selama didasari oleh keimanan kepada Allah.
Sehingga sudah sepantasnya, kita selalu menebar kebaikan walaupun itu kecil.
Ingatlah bahwa sekecil apa pun amal kebaikan kita, akan tampak terlihat kelak
di hadapan Allah, sebagaimana termaktub dalam surat az-Zalzalah ayat 7-8.
Alih-alih mengganggu
dan menyusahkan orang lain, kita sudah saatnya banyak mempermudah orang lain.
Alih-alih mengotori dan merusak jalan, maka sebaiknya kita menjaga
kebersihannya. Sebab, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Sidang Jumat yang
dirahmati Allah,
Dari uraian dan kisah
hadits di atas dapat ditarik sejumlah pelajaran penting, antara lain adalah:
·
Bagian atau
bukti tertinggi keimanan adalah mengikrarkan kalimat tauhid Lailahaillallah,
sedangkan bagian terendah adalah menyingkirkan duri atau gangguan di jalan.
·
Betapa
besarnya keutamaan amal baik walau hanya menyingkirkan sebuah duri di jalanan.
·
Betapa
luasnya rahmat Allah. Betapa agungnya balasan dari-Nya. Dia telah memberikan
balasan surga kepada seorang hamba-Nya yang takwa dan selalu berbuat kebaikan.
Sekecil apapun amal kebaikan itu.
·
Orang yang
kurang peduli dengan kebersihan jalan, bisa menjadi ciri lemahnya internalisasi
dan implementasi nilai-nilai agama.
·
Pohon yang
mengganggu boleh ditebang, dipotong, atau dirapikan. Sementara pohon yang
memberikan manfaat, seperti pohon rindang dan menjadi pelindung, sebaiknya
dipelihara.
·
Jangan
bertindak semena-mena terhadap alam dan tumbuhan. Sebab, dampak buruknya akan
kembali kepada manusia itu sendiri, seperti bencana longsor, banjir, dan susah
air bersih di musim kemarau.
·
Orang yang
semena-mena menebang pohon yang berguna juga diperingatkan Rasulullah saw.
dalam haditsnya, “Orang yang memotong sebuah pohon, yang dengannya Allah
melindungi kepalanya, maka ia akan berada dalam siksa api neraka.” (HR.
al-Baihaqi).
·
Jangan pernah
menyepelekan kebaikan, sekecil apa pun, baik kepada sesama muslim, sesama
manusia, maupun sesama makhluk Allah. Sebab, Allah tidak melihat kecilnya
seorang hamba selama amal yang dilakukannya didasari keimanan. Lagi pula, rida
Allah itu dirahasiakan, bisa saja ada pada amal besar bisa juga amal kecil.
Lebih jelasnya, dapat dilihat kitab Al-Qashash an-Nabawi, karya Umar Sulaiman,
Terbitan Darun-Nafais, halaman 241.
Demikian uraian
khutbah ini. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk menunaikan amal yang
dapat mengundang rida dan ampunan Allah swt. Amin ya robbal alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمُ
Sumber : https://uim-makassar.ac.id/2024/08/09/khutbah-jumat-jangan-remehkan-kebaikan-sekecil-apapun/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar