اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ
سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أمَّا بَعْدُ، فَإِنِّيْ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْن
قَالَ اللهُ تعالى: وَاِذَا قِيْلَ
انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ
وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Pada awal khutbah, mari kita tingkatkan ketakwaan
kita dengan sebenar-benarnya takwa. Utamanya dengan menjalankan perintah Allah
dan menjauhi larangan-Nya.
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia
Pendidikan membuka gerbang menuju masa depan yang
lebih cerah, membebaskan dari jeratan kebodohan dan kemiskinan, serta
mengantarkan menuju peradaban yang lebih adil dan sejahtera. Tanpa ilmu,
manusia bagaikan terombang-ambing di lautan tanpa kompas. Ilmu menjadi kompas
yang menuntun manusia untuk memilih jalan yang benar, membedakan mana yang baik
dan buruk, serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan.
Di sisi lain, pendidikan bagaikan fondasi kokoh
bagi kemajuan bangsa. Peran sentralnya dalam membentuk sumber daya manusia
(SDM) berkualitas tak perlu diragukan lagi. Sejatinya, melalui pendidikan,
manusia Indonesia dapat digali potensinya, dibekali ilmu pengetahuan dan
keterampilan, serta ditanamkan nilai-nilai luhur yang akan mengantarkan menjadi
individu yang unggul dan berdaya saing.
SDM berkualitas adalah motor penggerak inovasi.
Dengan pendidikan yang mumpuni, manusia Indonesia akan mampu melahirkan ide-ide
kreatif dan inovatif yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. SDM
yang unggul akan menjadi pionir dalam berbagai bidang, mulai dari sains dan
teknologi hingga seni dan budaya, dan membawa bangsa Indonesia ke kancah
internasional.
Lebih dari itu, pendidikan juga menjadi kunci
untuk membuka gerbang pertumbuhan ekonomi. SDM yang terdidik dan terampil akan
menjadi aset berharga bagi bangsa. Mereka mampu mengisi berbagai sektor
pekerjaan dan mendorong produktivitas nasional. Hal ini pada akhirnya akan
meningkatkan pendapatan individu dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab bersama
untuk memastikan bahwa setiap insan Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang
berkualitas. Pemerintah, institusi pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat
harus bersinergi untuk mewujudkan cita-cita ini. Dengan komitmen dan kerja sama
yang kuat, kita dapat membangun bangsa Indonesia yang maju, sejahtera, dan
bermartabat melalui pendidikan.
Dalam Islam, pendidikan memiliki peran penting dan
fundamental dalam kehidupan manusia. Pendidikan dipandang sebagai kunci utama
untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pendidikan dalam Islam tidak
hanya terbatas pada ilmu pengetahuan agama, tetapi juga mencakup berbagai
bidang ilmu lainnya, seperti sains, teknologi, dan sosial. Hal ini karena Islam
memandang bahwa semua ilmu pengetahuan berasal dari Allah swt dan bermanfaat
bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an
surat Al-Mujadalah (58): 11,
يَرْفَعِ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah
Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Profesor Quraish Shihab dalam kitab Tafsir
Al-Misbah jilid IV halaman 80 menjelaskan, surat Al-Mujadalah ayat 11
menyingkap tentang derajat orang beriman dan berilmu. Ayat ini menegaskan bahwa
orang yang berilmu memiliki tingkatan derajat yang lebih tinggi dibandingkan
mereka yang hanya beriman.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa ilmu yang dimiliki
seseorang berperan besar dalam meraih ketinggian derajatnya. Bukan semata-mata
faktor eksternal di luar ilmu yang menjadi penentu. Tentu saja, yang dimaksud
dengan “orang yang diberi ilmu” (وَالَّذِيْنَ
اُوْتُوا الْعِلْمَ) adalah mereka yang beriman
dan menghias diri dengan ilmu pengetahuan.
Pada sisi lain, ayat juga membagi kaum beriman
menjadi dua kelompok besar: pertama hanya beriman dan beramal saleh; dan kedua
beriman, beramal saleh, dan memiliki ilmu pengetahuan. Derajat kelompok kedua
ini lebih tinggi. Bukan hanya karena nilai ilmu yang mereka sandang, tetapi
juga karena amal dan usaha mereka dalam menyebarkan ilmu tersebut kepada orang
lain. Baik secara lisan, tulisan, maupun melalui keteladanan.
Ilmu yang dimaksud dalam ayat ini bukan hanya ilmu
agama, melainkan ilmu apa pun yang bermanfaat. Dalam Al-Qur’an surat Fathir (35):
27-28, Allah Swt memaparkan berbagai macam makhluk ciptaan-Nya dan fenomena
alam:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ
السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِه ثَمَرٰتٍ مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهَا وَمِنَ
الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيْضٌ وَّحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهَا وَغَرَابِيْبُ
سُوْدٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُه
كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
غَفُوْرٌ (28)
“(27) Tidakkah engkau melihat bahwa
sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan (air) itu Kami
mengeluarkan hasil tanaman yang beraneka macam warnanya. Di antara
gunung-gunung itu ada bergaris-garis putih dan merah yang beraneka macam
warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. (28) (Demikian pula) di antara
manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut
kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun”.
Kemudian ayat tersebut ditutup dengan pernyataan
bahwa: “Yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” Hal ini
menunjukkan bahwa ilmu dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya terbatas pada ilmu
agama.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa ilmu haruslah
menghasilkan rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong
orang yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya dan memanfaatkannya untuk
kepentingan makhluk hidup lainnya.
Sementara itu, dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim, di antara amalan-amalan yang pahalanya terus
mengalir bagi pelakunya, bahkan setelah ia meninggal dunia, adalah ilmu yang
diajarkan dan diamalkan oleh orang lain.
Ilmu yang bermanfaat bagaikan sungai yang airnya
terus mengalir, membasahi dan menyuburkan kehidupan di sekitarnya. Ilmu yang
bermanfaat adalah harta yang tak ternilai. Ia adalah investasi terbaik untuk
akhirat, karena pahalanya akan terus mengalir selama ilmu itu terus diamalkan.
Nabi saw bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ، إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Ketika manusia meninggal, amalnya terputus
kecuali tiga perkara, yaitu kecuali sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan
doa anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya”.
Dengan demikian, pendidikan membantu manusia untuk
memahami ajaran Islam dengan benar, sehingga dapat menjalankan ibadah dengan
sempurna. Selain itu, pendidikan juga membekali manusia dengan ilmu pengetahuan
dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dan berkarya, sehingga dapat
berkontribusi dalam pembangunan bangsa ke depan. Membangun bangsa yang berdaya
saing dengan basis ilmu pengetahuan.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي
اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ
هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Tidak ada komentar:
Posting Komentar