إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ
الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
اْلمَآبِ.
فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،
اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا اَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ، وقال أَيْضاً: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh
berkah ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib
pribadi untuk senantiasa berusaha dan berupaya meningkatkan kualitas keimanan
dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua
kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.
Karena dengan ketakwaan, Allah subhanahu wata’ala akan
menjaminkan dua hal untuk kita, yang pertama Allah hapus kesalahan-kesalahan
kita dan yang kedua Allah lipatgandakan pahala-pahala amal kebaikan kita. Hal
ini sebagaimana yang tersurat dalam al-Quran Surat At-Thalaq ayat 5, Allah
berfirman,
وَمَن
يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya
Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala
baginya.”
Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah
Manusia secara umum punya banyak angan-angan.
Saking banyaknya angan-angan manusia dalam kehidupannya, seorang pun di antara
mereka tak ada yang sanggup menghitung angan-angannya sendiri.
Angan-angan mereka satu sama lain berbeda,
tergantung sudut pandang, cara berpikir, dan kebutuhannya masing-masing. Misalnya
seorang fakir, ia berangan-angan menjadi orang kaya yang bersenang-senang
dengan kekayaan yang diimpikannya itu. Orang yang sakit, ia berharap dan
berangan-angan untuk bisa sehat sehingga dengannya ia dapat menikmati lezatnya
makanan dan minuman, serunya bepergian ke mana yang ia kehendaki sesuai dengan
angan-angannya itu.
Anak yatim, ia berangan-angan menjadi seseorang
yang mendapat perhatian lebih dari kedua orang tuanya layaknya seorang anak
yang hidup manja di tengah kasih sayang kedua orang tuanya. Seorang gadis pun
berangan-angan untuk dapat dinikahi oleh seorang laki-laki tampan rupawan,
dengan harta berlimpah, sehingga dengannya ia berharap dapat perhatian, kasih
sayang, dan penjagaannya. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Begitulah hidup manusia, setiap dari mereka
mengharapkan rasa aman sesuai dengan angan-angannya.
Empat Golongan Manusia
Manusia dalam berangan-angan itu tidak terlepas
dari dua keadaan: yaitu yang berangan-angan dalam kebaikan untuk urusan
dunianya semata dan yang berangan-angan dalam kebaikan untuk urusan akhiratnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah mengumpulkan dua kelompok
ini dalam satu hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abi Kabasyah al-Anmary,
beliau mendengar Rasulullah bersabda,
وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ
قَالَ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا
وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ
لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ
اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ:
لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ
فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ
عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ
رَبَّهُ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا،
فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلاَ
عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ
فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
“Saya ceritakan kepada kalian tentang suatu
perkataan, hendaknya kalian menjaganya, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya, dunia
diisi oleh empat golongan orang:
(Pertama), seorang hamba yang dikaruniai
Allah harta dan ilmu, dengan ilmu itu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta
itu ia dapat menggunakannya untuk menyambung silaturahmi. Dan ia tahu bahwa
Allah memiliki hak padanya, dan inilah tingkatan yang paling baik.
(Kedua), seorang hamba yang diberi Allah ilmu, tapi
tidak diberi harta. Namun, ia memiliki niat yang tulus sambil berkata, ‘Andai
saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan amalan seperti Fulan’. Maka
dengan begitu, ia mendapatkan apa yang ia niatkan, bagi keduanya pahala yang
sama.
(Ketiga), seorang hamba yang diberikan harta, namun
Allah tidak memberikannya ilmu. Ia menggunakan hartanya tanpa ilmu, ia tidak
takut kepada Allah yang mana Dia memiliki hak atas harta dan dirinya. Dan
inilah tingkatan terburuk.
(Keempat), seorang hamba yang tidak diberikan
harta maupun ilmu oleh Allah, namun ia berkata, ‘Andai aku memiliki harta tentu
aku akan melakukan apa yang dilakukan Fulan yang menggunakan hartanya dengan
semena-mena. Bagi keduanya, dosa yang sama.” (HR.
At-Tirmizi no. 2325 ia berkata: hadits ini hasan sahih)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pembagian manusia berdasarkan ilmu dan hartanya ke
dalam beberapa golongan tersebut merupakan pembagian yang betul-betul nyata
kita hadapi, selamanya tak ada yang sanggup keluar dari keadaan tersebut. Di
mana golongan yang pertama, ia termasuk golongan yang ada pada tingkatan
derajat yang paling tinggi, sementara golongan yang ketiga termasuk golongan
yang berada pada tingkatan derajat paling rendah, dan golongan kedua dan
keempat adalah mereka yang ada pada tingkatan di antara tingkatan yang pertama
dan ketiga.
Ma’asyiral muslimin, yang menjadi sebab Allah
mengangkat derajat golongan manusia yang pertama dan Allah menghinakan golongan
yang ketiga adalah Ilmu. Oleh karena itu jika kita telusuri, golongan pertama
adalah orang kaya yang berilmu.
Apa manfaat dari Ilmu yang dimiliki? Dengan ilmu
yang ada pada dirinya ia mampu menerangi kehidupannya, karena ada hidayah Allah
melalui Ilmu tersebut, sehingga dengannya ia mampu menjaga harta yang Allah
titipkan kepadanya tersebab hidayah ilmu yang melekat pada dirinya.
Golongan yang kedua ia selamat dari direndahkannya
ia oleh Allah subhanahu wata’ala karena sebab Ilmu yang dimilikinya. Golongan
yang keempat Allah hinakan dan Allah binasakan mereka, karena kebodohan mereka
dan keengganannya dalam menuntut Ilmu.
Sementara golongan yang ketiga, kebodohan yang ada
dalam dirinya menjadi driver yang mengantarkan ia dan harta yang dimilikinya
kepada derajat paling rendah di sisi Allah subahanahu wata’ala.
Karena itu ma’asyiral muslimin, ini menjadi
isyarat yang nyata bahwa Ilmu sampai kapan pun, khususnya ilmu Syar’i, ilmu
mengenal Allah, ilmu mengenal agama Islam, selamanya ada pada derajat paling
mulia daripada harta itu sendiri. Sebagaimana Rabi’ah ar-Ra’yi rahimahullah berkata,
العِلْمُ
وَسِيْلَةٌ إِلَى كُلِّ فَضِيْلَةٍ
“Ilmu adalah wasilah kepada setiap keutamaan.”
(Siyar A’lami an-Nubala,adz-Dzahabi, 6/90)
Imam Ibnu al-Mubarak rahimahullah pun mengatakan,
لَا
أَعْلَمُ بَعْدَ النُّبُوَّةِ دَرَجَةً أَفْضَلُ مِنْ بَثِّ العِلْمِ
“Saya tidak tahu ada derajat atau tingkatan
yang lebih utama setelah kenabian yang melebihi daripada menyebarkan ilmu.”
(Tahdzibu al-Kamaal, Al-Mizzi, 16/20)
Namun daripada itu, tidaklah disyaratkan bagi
seorang yang kaya untuk menjadi orang yang berilmu. Akan tetapi, dimungkinkan
baginya melekat dan bersahabat dengan seorang ahli ilmu jika ia tidak
mengetahui suatu perkara agama. Maka dari sini jelaslah bahwa harta tidak
menjadi sebab mulianya seseorang jika tanpa ilmu. Sebaliknya, seorang yang kaya
ia akan menjadi mulia manakala kekayaannya tersebut diperoleh dan dipergunakan
dengan bimbingan Ilmu. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ
رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ
آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang
yaitu: kepada seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta, kemudian ia
menafkahkannya untuk kebenaran. Dan seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan
ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu, antara
dua orang atau dua golongan yang berselisih, serta mengajarkan ilmunya.” (HR.
Al-Bukhari no. 73; HR. Muslim no. 816)
Ma’asyiral muslimin, hadits tersebut menjadi bukti
penguat tentang mulianya seorang yang kaya manakala ia mengerti apa yang
semestinya ia lakukan dengan kekayaan yang dimilikinya. Maka dengan Ilmu
seseorang dapat membedakan, mana yang hak dan mana yang batil. Dengan Ilmu
seseorang mengerti kapan dan bagaimana mempergunakan sesuatu yang sudah menjadi
miliknya. Dengan Ilmu seseorang menjadi mulia di hadapan Allah subhanahu wata’ala,
apalagi di hadapan makhluk-Nya.
Ayah Imam Al-Bukhari; Pengusaha Kaya yang
Berilmu
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ketika ayahanda Imam al-Bukhari mendekati ajalnya,
di mana ia merupakan seorang pengusaha kaya, ia berkata kepada anaknya,
“Wahai anakku, sungguh aku telah meninggalkan
bagimu harta beribu-ribu dirham yang aku tidak mengetahui syubhat di dalamnya.”
Kemudian Imam al-Bukhari berkata, “Hal ini bisa
terjadi dikarenakan ia dekat dan bersahabat dengan ulama, maka keadaan itu
menjadikannya penuh dengan manfaat, sehingga ia mampu membedakan mana yang
halal dan mana yang haram.” (At-Tarikh al-Kabir, 1/342)
Dari kisah ini cukuplah menjadi contoh bahwa
kemuliaan dapat diperoleh karena keluhuran ilmu, ilmu mengantarkan seseorang
kepada derajat yang tinggi di sepanjang zaman. Sebagaimana firman Allah subhanahu
wata’ala dalam al-Quran Surat Al-Mujādilah ayat 11,
يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Dari ayat ini boleh kita katakan bahwa sejarah
tidak mengungkap nama-nama orang kaya di zamannya Imam Malik, Imam as-Syafii,
Imam at-Tirmidzi, maupun Imam al-Bukhari, tetapi sejarah mencatat bagaimana
Ilmu mengantarkan para imam tersebut pada derajat kemuliaan, dan Ilmu yang
mereka miliki mampu menerangi penjuru bumi, mengarahkan orang-orang yang
tersesat, dan menjadi lentera di tengah kegelapan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Demikian materi khutbah Jumat tentang empat
golongan manusia berdasarkan harta dan ilmunya yang dapat khatib sampaikan, semoga
ada manfaatnya untuk diri khatib secara khusus, dan umumnya untuk jamaah
sekalian. Pada akhirnya kita berdoa dan memohon kepada Allah agar kita semua
dikarunia hati yang ikhlas dalam taat, akal yang sehat untuk menerima hidayah
dan taufik-Nya, jasad yang sehat untuk memaksimalkan ketaatan, dan hati yang
terjaga dari hasad, iri, sombong, riya’, sum’ah, dan segala penyakit hati yang
selalu menjangkiti.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيطَانِ
الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ
لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber : https://www.dakwah.id/materi-khutbah-jumat-golongan-manusia-dalam-harta-dan-ilmu/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar