اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (سورة المجادلة: ١١)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib
berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk
senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah swt,
dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang
dilarang dan diharamkan.
Hadirin rahimakumullah,
Ilmu merupakan komponen penting dalam hidup, baik
di dunia maupun di akhirat. Karena dengan ilmu, manusia akan selamat dan
teratur dalam menjalani kehidupan, ilmu juga akan menjadi penghias bagi
pemiliknya. Allah Swt memuji para hamba-Nya yang memiliki ilmu. Sebagaimana
dalam firman-Nya Surat Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (سورة المجادلة: ١١)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”, QS
al-Mujadilah (58): 11.
Allah Swt juga berfirman dalam Surat Ali ‘Imran (3):
18,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (سورة ءال عمران: ١٨)
“Allâh menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan
yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), tak ada Tuhan
yang berhak disembah melainkan Dia, yang Mahakuat lagi Maha Bijaksana”, QS
Ali ‘Imran (3): 18.
Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan namanya,
lalu malaikat dan para ulama. Hal ini menunjukkan betapa tingginya keutamaan,
kemuliaan dan keluhuran para ulama. Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan
bahwa sungguh tidak sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak
berilmu. Allah ta’ala berfirman,
قُلْ
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (سورة الزمر: ٩)
“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”, QS az-Zumar (39): 9.
Bagaimana mungkin sama antara ulama dan orang
awam, antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, sedangkan Allah
swt menyatakan orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya adalah yang paling
takut dan bertakwa kepada Allah. Allah swt berfirman:
إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (سورة
الحجرات: ١٣)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kalian menurut Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang tampak dan tersembunyi dari keadaan
hamba”, QS al Hujurat (49): 13.
Bagaimana mungkin sama antara orang yang berilmu
dengan orang yang tidak berilmu, sedangkan Rasululluh saw telah bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ
وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ (رواه البخاري)
“Para ulama adalah pewaris para Nabi”, HR
al-Bukhari.
Dan yang diwariskan oleh para Nabi kepada para
ulama bukanlah harta benda akan tetapi sesuatu yang lebih berharga dibandingkan
harta benda, yaitu ilmu agama.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengenai keutamaan orang yang berilmu, Rasulullah
saw bersabda:
فَضْلُ
الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِيْ عَلَى أَدْنَاكُمْ (رواه الترمذي)
“Keutamaan orang yang berilmu dan mengamalkan
ilmunya atas ahli ibadah yang mengetahui sahnya ibadah adalah seperti
perbandingan keutamaanku atas orang yang paling rendah derajatnya di antara
kalian”, HR at-Tirmidzi.
Keutamaan ini disebabkan tidak lain karena manfaat
orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya itu meluas ke berbagai
lapisan masyarakat, tidak terbatas pada dirinya sendiri. Berbeda dengan orang
yang ahli ibadah yang manfaatnya hanya terbatas pada dirinya sendiri.
Hadirin rahimakumullah,
Cukup sebagai bukti atas keutamaan ilmu bahwa
orang yang tidak berilmu sekalipun, jika dikatakan berilmu, maka ia tidak akan
menolak dan pasti merasa senang. Sebaliknya jika orang yang tidak berilmu
dikatakan bodoh, pasti ia akan menolak dan tidak mau dikatakan bodoh. Oleh
karena itulah, Baginda Nabi saw memerintahkan kita agar menuntut ilmu agama dan
mengabarkan kepada kita betapa besar pahala yang diperoleh oleh orang yang
menuntut ilmu agama. Beliau bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ، لَأَنْ تَغْدُوَ
فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ
رَكْعَةٍ (حَدِيْثٌ ثَابِتٌ رواه ابن ماجه)
“Wahai Abu Dzarr, jika engkau pergi lalu
belajar satu bab ilmu agama, maka itu lebih baik bagimu daripada melakukan
shalat sunnah seribu rakaat”, HR Ibnu Majah.
Hal ini dikarenakan menuntut ilmu agama hukumnya
wajib sedangkan melakukan shalat-shalat sunnah sebanyak apapun hukumnya
tetaplah sunnah. Tentu perbuatan yang wajib lebih utama daripada perbuatan yang
sunnah. Dalam hadits lain, Baginda Nabi saw bersabda:
مَا
عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهٍ فِيْ الدِّيْنِ (رواه البيهقي في
شُعَبِ الْإِيْمَانِ)
“Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang
lebih utama daripada dengan ibadah yang didasarkan pada pemahaman terhadap
agama”, HR Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman.
Dalam hadits yang sangat populer di kalangan para
santri, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya
kebaikan yang agung, maka Allah akan berikan kepadanya pemahaman yang mendalam
tentang ilmu agama (dengan dimudahkan untuk belajar kepada para ulama yang
terpercaya)”, HR al-Bukhari dan Muslim.
Saudara-saudara seiman,
Para ulama mengatakan menyibukkan diri dengan
menuntut ilmu agama lebih utama dari melakukan ibadah-ibadah badaniyah yang
sunnah. Hal itu dikarenakan manfaat ilmu meluas dan bermanfaat bagi diri orang
yang berilmu dan orang lain. Sedangkan ibadah-ibadah badaniyyah yang sunnah
manfaatnya terbatas pada diri sendiri.
Keutamaan tersebut juga dikarenakan ilmu dapat
menentukan sah atau tidaknya berbagai macam ibadah. Sahnya Ibadah membutuhkan
ilmu dan bergantung kepadanya, sedangkan ilmu tidak bergantung kepada ibadah.
Seseorang yang beribadah tanpa dasar ilmu akan melakukan bentuk ibadah yang
rusak yang akan membuatnya celaka di akhirat. Keutamaan tersebut juga dikarenakan
para ulama adalah pewaris para Nabi dan hal ini tidak berlaku bagi ahli ibadah
yang bukan ulama. Ilmu juga tetap ada pengaruh dan manfaatnya meski pemiliknya
sudah meninggal. Keberadaan ilmu juga menyebabkan hidupnya syariat dan
terpeliharanya ajaran-ajaran agama.
Ilmu agama adalah hidupnya Islam. Artinya, dengan
ilmu agama, seseorang akan mampu menjaga keislamannya dan keislaman orang lain.
Dengan ilmu agama, ajaran-ajaran Islam akan terjaga kemurniannya dari
pihak-pihak yang berupaya untuk menyelewengkannya. Oleh karenanya, disebutkan
dalam sebuah Hadits:
وَلَفَقِيْهٌ
وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ (رواه البيهقيّ في شعب
الإيمان)
“Satu orang faqih (orang yang mendalam
pengetahuan agamanya) lebih sulit bagi setan untuk menggoda dan
menjerumuskannya daripada seribu ahli ibadah”, HR al Bayhaqi dalam Syu’ab
al-Iman).
Hadirin rahimakumullah,
Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan
bermanfaat bagi kita semua.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar