Oleh: Ali Akbar bin
Muhammad bin Aqil
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah
Tahun baru masehi akan
segera kita masuki. Kita tinggalkan tahun yang lama dengan sejuta kenangan.
Mungkin ada banyak kebaikan yang sudah kita kerjakan, maka kita ucapkan
Al-Hamdulillah. Mungkin ada keburukan yang kita lakukan, maka sudah selayaknya
kita sesali dengan berucap Astaghfirullah (aku memohon ampunan Allah).
Pergantian tahun,
lebih layak jika kita isi dengan kegiatan yang baik. Kita jauhkan diri kita dan
keluarga dari kegiatan yang nihil manfaat. Kita sama-sama sudah mengetahui, ada
saja umat manusia termasuk umat Islam, yang latah merayakan pergantian tahun
dengan hal-hal yang jauh dari semangat memperbaiki keadaan diri, sehingga tidak
sadar dalam keadaan yang seperti apa kelak diri ini dihadapkan kepada Allah
SWT.
Mari kita menjadi
muslim yang melek keburukan agar dapat kita jauhi dan melek kebaikan supaya
dapat kita tunaikan. Sepatutnya tiap pergantian masa kita isi dengan hal-hal
yang menambah kebaikan dan bobot timbangan pahala kita di sisi Allah SWT.
Karena waktu kita di dunia sangat terbatas. Pergantian waktu membuat kita
semakin dekat kepada kematian. Apakah layak kita sambut dekatnya kematian dengan
hura-hura dan foya-foya? Kita isi dengan kelalaian kepada Allah, dosa, dan
maksiat?
Kaum Muslimin, Jamaah
Khutbah Jumat yang dimuliakan Allah
Mari kita lakukan
langkah-langkah dalam lepas sambut tahun baru sebagai berikut.
Pertama, senantiasa bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Setiap kita
tidak bisa lepas dari jeratan maksiat. Seandainya ada dari kita yang lepas dari
maksiat anggota badan, kita tak bisa lepas dari maksiat berupa keinginan dalam
hati untuk berbuat dosa sekecil apapun itu.
Andai kata kita lepas
dari maksiat lahir dan batin, kita masih harus menghadapi godaan-godaan setan
yang ingin menggelincirkan kita dari mengingat Allah. Seandainya kita merasa
bisa menghadapi godaan setan, maka kita tidak bisa lepas dari kelalaian dan
kekurangan dalam beribadah Allah SWT.
Jangankan kita sebagai
seorang manusia yang pada dasarnya adalah tempatnya salah dan lupa, bahkan
Malaikat saja masih mengakui banyak kekurangan dalam beribadah kepada Allah.
Rasul ﷺ
bersabda:
يوضع الميزان يوم القيامة فلو وزن فيه
السموات والأرض لوسعت، فتقول الملائكة: يا رب لمن يزن هذا؟ فيقول الله تعالى: لمن
شئت من خلقي، فتقول الملائكة: سبحانك ما عبدناك حق عبادتك
“Diletakkanlah
mizan pada hari kiamat. Seandainya ditimbang di dalamnya langit dan bumi,
niscaya akan tetap lapang. Malaikat berkata, ‘Wahai Rabb-ku, untuk siapa
timbangan ini?’ Allah Ta’ala berkata, ‘Untuk yang Aku kehendaki dari hamba-Ku.’
Malaikat berkata, ‘Maha Suci Engkau, kami tidaklah bisa beribadah kepada-Mu
dengan sebenar-benarnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Ajuri).
Intinya, tidak ada
seorang pun dari kita yang selamat dari maksiat dan dosa. Karenanya, kita mohon
ampun di setiap waktu agar selamat di dunia sampai akhirat.
Jama’ah Khutbah Jumat
yang Dimuliakan Allah
Kedua, mari kita tinggalkan tahun sebelumnya dan sambut tahun berikutnya
dengan bermuhasabah. Muhasabah berarti koreksi diri. Kita harus memaksa diri
ini untuk selalu meninjau dan mengoreksi perbuatan dan perkataan yang sudah
kita lakukan selama ini. Dari sinilah kita bisa mendapatkan kesimpulan atas apa
yang sudah kita kerjakan. Apakah lebih banyak kebaikan yang kita lakukan di
tahun sebelumnya atau sebaliknya, lebih banyak keburukan yang kita tinggalkan
dalam kehidupan kita?
Sungguh kita akan
merugi jika enggan bermuhasabah. Tidak ada rasa sesal yang muncul ketika kita
melewatkan kebaikan. Orang yang mau melakukan muhasabah akan selalu melihat
kekurangan pada diri sendiri. Buah manfaatnya adalah tampil menjadi pribadi
yang lebih baik lagi dalam pandangan Allah. Al-Quran telah memberikan isyarat
agar kita bermuhasabah setelah beramal:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ
اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS:
Al-Hasyr (59): 18.
Seorang ulama bernama
Muhammad bin Wasi` adalah sosok yang mengisi kehidupannya dengan penuh rasa
takut yang luar biasa atas dosa-dosanya yang pernah ia lakukan dan digelayuti
kerinduan untuk segera berjumpa dengan Allah. Beliau jika ditanya, “Bagaimana
keadaanmu pada pagi hari ini?” Beliau menjawab, “Di pagi hari ini, aku merasa
kematianku semakin dekat, semakin jauh dari cita-citaku, dan aku merasa amalku
hanya berisi keburukan.”
Mari bermuhasabah
dengan memperbaiki niat, amal, dan perbuatan dosa yang kita kerjakan. Kita
hadirkan muhasabah dalam kehidupan kita dengan sering menunaikan salat tobat,
memohon ampun kepada Allah.
Karenanya, apakah layak dan pantas kita lepas tahun yang
lama dan sambut tahun yang baru dengan maksiat, sementara amal kita masih dari
jauh dari kesempurnaan dan ajal kita semakin dekat?
Hadirin Hafidzakumullah,
Langkah ketiga,
kita manfaatkan kesempatan hidup yang Allah berikan dan sisa umur yang masih
ada dengan beramal kebaikan di jalan Allah dan berbuat hal yang bermanfaat bagi
sesama. Suatu hari Baginda Nabi Muhammad ﷺ memberikan nasihat kepada seseorang dengan berkata:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ :
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ
فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima
perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu
sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa
kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang
kematianmu.” HR: Al-Hakim.
Masa muda, sehat,
kaya, waktu luang, dan hidup di dunia tidak pernah terulang. Bahkan beberapa di
antaranya berlaku sekali seumur hidup. Inilah masa-masa yang harus kita
manfaatkan dengan kebaikan, persiapan, dan memperbanyak bekal sebelum kita
menghadap kepada Allah. Siapa yang melewatkan kesempatan emas yang telah Allah berikan, maka
akan sulit untuk beramal di masa-masa yang berlawanan dari masa sebelumnya.
Untuk itulah, kita
jadikan momentum pergantian tahun dengan memasang niat dan tekad kuat bahwa tahun depan harus lebih
baik dari tahun sekarang. Kita sudahi gaya penyambutan tahun baru dengan
hura-hura. Kita ganti dengan banyak memohon ampun kepada Allah, beristighfar
sebanyak-banyaknya.
Kemudian, kita
senantiasa melakukan muhasabah dan memanfaatkan kesempatan yang tersisa dengan
mengemas amal kebaikan demi meraih ridha Allah SWT, agar kita meninggalkan
dunia dalam keadaan husnul khatimah dan masuk ke dalam surga-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ
القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar