Oleh : Jamal Fauzi
إِنَّ
الْـحَمْدَ ِلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْـهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبً
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا
سَدِيدً﴿٧٠﴾يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. والْقَائِلِ فِي
كِتَابِهِ الْقُرْآنِ قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِ نَّه مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Jamaah Jumat
Rahimakumullah,
Puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan nikmat Sehat wal’afiat terutama nkmat iman dan
Islam kepada kita sehingga kita bisa berkumpul di masjid ini dalam rangka
melaksanakan shalat jumat sebagai kewajiban. Shalawat dan salam semoga tercurah
kepada baginda Nabi Muhammad SAW kepada keluarganya, saudaranya, sahabat hingga
kepada kita yang masih setia mengikuti sunnahnya.
Mengawali khutbah
Jumat di siang hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak kepada diri khatib
khususnya dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan, takwa
dalam arti yang sesungguhnya ialah melaksanakan segala perintah Allah ta’ala
dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan yang kita jaga
sepanjang usia kita, dapat meringankan beban kita di hadapan Allah subhanahu wa
ta’ala di hari kiamat kelak.
Jamaah shalat Jumat
yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala,
Diawal bulan ini,
terutama malam tanggal 30 Desember malam hari, hingar bingar sukacita terdengar memekakkan
telinga. Diberbagai media baik online maupun konvensional dibuat sibuk untuk
acara satu malam tersebut, untuk menyambut malam tahuh baru. Bahkan dari
jauh-jauh hari mereka mempersiapkan dengan berbagai cara agar malam itu menjadi
malam istimewa baginya. Jutaan kembang api dihabiskan, ratusan pesta di gelar;
sehingga pemborosan,
kesia-siaan dan bahkan malapetaka sering menghampiri acara tersebut.
Padahal, waktu yang
tepat untuk mengisi acara tahun baru bagi seorang muslim adalah introspeksi
atau muhasabah diri. Berapa banyak dosa yang telah dilakukan tahun sebelumnya
dan akankah tahun depan lebih baik dari tahun kemarin? jika kita jeli
memandang, hari demi hari, tahun demi tahun bertambahnya angka usia merupakan
mengurangnya umur, dan tentu saja semakin dekatnya kematian menghampiri kita.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِ نَّه مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Katakanlah, sesungguhnya
kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia
beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” QS. Al-Jumu’ah (62): 8.
Hadirin
Rahimakumullah.
Ketika ajal datang,
tidak ada yang bisa menghindar sedetik pun darinya. Kematian tidak dapat
dipercepat ataupun diperlambat walaupun seseorang lari darinya. Sesungguhnya
kehidupan yang abadi akan ada setelah kematian. Kehidupan abadi hanya akan kita
jalani dengan dua pilihan, surga yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan bagi
orang yang taat menjalankan perintah-Nya. Atau, neraka yang penuh azab dan
siksaan bagi orang yang gemar bermaksiat kepada-Nya.
Perjalanan kehidupan
kita selanjutnya adalah di kubur atau alam barzakh, padang mahsyar, miizan,
maupun shirath. Perjalanan kita tersebut berakhir ketika Allah memasukkan kita
ke dalam surga-Nya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Umur-umur
umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur
tersebut.” (H.R. Ibnu Majah).
Hadirin
rahimakumullah,
Persiapan untuk
menghadapi kehidupan setelah kematian yang begitu Panjang tentu memiliki
konsekswensi yang berat, sulit dan melelahkan. Kita tidak bisa ikut dengan
pesta kebanyakan orang, kita menyendiri tafakur mengingat dosa yang dilakukan,
dan berlelah melakukan ibadah. Tapi yakinlah bahwa lelahnya dalam urusan
akhirat akan diganjar dengan kenikmatan yang tiada tara, sampai-sampai kita
lupa dengan sakit dan lelahnya waktu di dunia.
Sebaliknya, mereka
yang mengisi kesenangan dunia dengan pesta pora dan kesia-siaan yang sudah
barang tentu itu adalah kemubaziran akan diganjar oleh Allah diakhirat dengan
siksa yang pedih, sampai-sampai dia lupa dengan kesenangan sewaktu di dunia.
Semoga, dalam khutbah
singkat ini kita bisa merenungkan dan introspeksi diri kita agar bisa terhindar
dari hal-hal kesia-siaan dan kemubaziran yang menjerumuskan kepada api neraka.
Sehingga persiapan untuk menghadapi hari kematian menjadi indah dan
menyenangkan bukan ketakutan dan menyengsarakan karena kematian adalah suatu
kepastian.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي
اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ
وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber : https://daarulhikmah.or.id/khutbah-singkat-tahun-baru-tahun-muhasabah-12-januari-2024/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar