Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, Pusat Kajian
Fiqih Indonesia (PUSKAFI)
ALANGKAH banyaknya bencana yang menimpa negara
kita, dari banjir tsunami, gempa bumi, tanah longsor, semburan lumpur, jatuhnya
pesawat, tenggelamnya kapal dan lain-lainnya. Bencana-bencana tersebut membuat
kehidupan sebagian besar dari rakyat Indonesia menjadi tidak tenang. Banyak
para ahli memberikan sumbangan pemikiran, tenaga dan ilmu mereka untuk
mengatasi bencana-bencana tersebut.
Akan tetapi yang sangat disayangkan, mereka lupa
bahwa Allah-lah yang menetapkan bencana-bencana tersebut kepada bangsa
Indonesia yang merupakan negara muslim terbesar di dunia, karena bangsa ini
telah melupakan Allah dan ajaran-ajaran-Nya. Makanya, semestinya para pemegang
tampuk kekuasaan di Indonesia ini melakukan introspeksi ke dalam dan
bersama-sama rakyat untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
beristighfar memohon ampun atas segala dosa-dosa, niscaya Allah akan
mengabulkan istighfar mereka dan menghentikan bala’ dan bencana tersebut.
Hal ini sesuai dengan firman Allah,
وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ
وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab
mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan
mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”, QS: Al Anfal (8): 33.
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika
menafsirkan ayat di atas,
كان فيهم أمانان النبي صلى الله عليه
وسلم والاستغفار فذهب النبي صلى الله عليه وسلم وبقي الاستغفار
“Dulu para sahabat mempunyai dua penolak bala’,
yaitu keberadaan nabi Muhammad ﷺ dan istighfar, maka ketika Rasulullah ﷺ meninggal dunia, penolak bala’ itu tinggal
satu, yaitu istihgfar.”
Maka sangat dianjurkan siapa saja yang mendapatkan
bencana atau cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti sakit, atau
tersesat di jalan atau terjebak dalam gua, atau diculik orang atau terkena
semburan lumpur, atau tergenang banjir, atau tertimpa bangunan karena gempa dan
lain-lainnya, agar segera ber-istighfar kepada Allah mengakui dosa-dosanya dan
memohon ampun Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Nabi Yunus ‘alaihi as-salam, telah memberikan
contoh kepada kita, ketika beliau terjebak dalam perut ikan Paus, segera
beristighfar dan memohon ampun atas dosa-dosanya, bahkan sebelumnya didahului
dengan memperharui tauhid dan keimanan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa
Ta’ala,
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا
فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ
إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika
ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan
mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat
gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku
adalah termasuk orang-orang yang zalim.”, QS: Al Anbiya’ (21): 87.
Nabi Yunus ‘alaihi as-salam telah melakukan
kesalahan yaitu meninggalkan tugas dakwah, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala
memperingatkan-nya dengan dimasukkan dalam perut ikan paus, dari situ nabi
Yunus ‘alaihi as-salam sadar, bahwa bencana dan cobaan yang menimpanya, karena
dia meninggalkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam berdakwah kepada
kaumnya, segeralah beliau memperbaharui keimanan dan mengakui
kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya, akhirnya Allah Subhanahu Wa
Ta’ala menyelamatkannya dan berhasil keluar dari perut ikan Paus.
Tanpa istighfar, tidak mungkin Nabi Yunus ‘alaihi
as-salam bisa keluar dari perut ikan Paus hingga hari kiamat, Allah Subhanahu
Wa Ta’ala berfirman,
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ
الْمُسَبِّحِين َلَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk
orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut
ikan itu sampai hari berbangkit.”, QS: As Shoffat (37): 143-144.
Para ulama menjelaskan bahwa do’a Nabi Yunus
‘alaihi as-salam ini boleh dibaca di saat kita tertimpa musibah dan bencana,
mudah-mudahan dengan doa tersebut Allah akan menolongnya sebagaimana sebelumnya
telah menolong nabi Yunus ‘alaihi as-salam.
Sumber : https://hidayatullah.com/kajian/oase-iman/2021/06/18/210448/istighfar-menolak-bala-dan-bencana.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar