Oleh : Azkia Nurfajrina
Setelah urusan manusia di dunia berakhir, ia akan
melanjutkan perjalanannya kepada kehidupan akhirat yang abadi. Untuk menuju ke
sana, manusia perlu melewati sejumlah tahapan terlebih dahulu. Apa saja? M. Quraish Shihab
dalam buku Wawasan Al-Qur'an menyebutkan bahwa kehidupan setelah kematian pasti
ada. Yakni kehidupan di mana keadilan dan kesempurnaan ditegakkan atas segala
perbuatan yang didasarkan pilihan masing-masing selama di dunia. Pernyataan
Allah SWT dalam Surah Thaha ayat 15:
اِنَّ السَّاعَةَ
اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى
“Sesungguhnya
hari Kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar)
menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas
sesuai dengan apa yang telah dia usahakan”.
Alam Barzah: Tahap Akhirat Pertama
Kehidupan baka yang dijanjikan oleh Allah akan
dimulai saat kematian. Dengan kematian, manusia akan memasuki tahap pertama
mendatangi akhirat, yaitu alam barzah atau alam kubur. Mengutip buku Wawasan
Al-Qur'an, definisi 'barzah' menurut bahasa, artinya pemisah. Adapun para ulama
memberi pengertian mengenai alam barzah sebagai periode antara kehidupan dunia
dan akhirat.
M. Quraish Shihab mengemukakan bahwa saat di alam
kubur, seorang yang telah wafat memungkinkannya untuk melihat kehidupan dunia
dan akhirat, bagaikan keberadaan dalam suatu ruang terpisah yang terbuat dari
kaca.
Mengenai alam barzah ini dijelaskan dalam suatu
riwayat melansir buku “Makna Kematian Menuju Kehidupan Abadi” oleh KH Muhammad Sholikhin:
Ketika Utsman bin Affan berhenti di kuburan,
beliau menangis sampai basah janggutnya. Lalu beliau ditanya oleh budak wanita
miliknya yang bernama Hani, 'Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis.
Namun saat mengingat kubur, engkau menangis. Mengapa?'
Utsman menjawab, 'Aku mendengar Rasulullah saw.,
bersabda bahwa kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila selamat di kubur, maka
setelahnya menjadi mudah; bila tidak selamat di kubur, maka setelahnya menjadi
lebih sulit. Aku juga mendengar Rasulullah bersabda, "Aku tidak melihat
satu pemandangan pun yang lebih menakutkan dari kuburan." (HR Tirmidzi
& Ibnu Majah)
1. Hari Kiamat: Peniupan Sangkakala Pertama
Dalam Surah Az-Zumar ayat 68:
وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ
فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ
“Sangkakala
pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi,
kecuali mereka yang dikehendaki Allah”.
Saat peniupan sangkakala ini, M. Quraish Shihab
menerangkan bahwa akan adanya kehancuran alam semesta beserta isinya. Para
makhluk akan mati, dan yang dikecualikan di antaranya adalah Malaikat Israfil.
Sebab ia masih harus meniupakan sangkakala https://www.detik.com/tag/sangkakala
yang kedua kalinya.
2. Hari Kebangkitan: Sangkakala Kedua Ditiupkan
Lanjutan ayat dari Surah Az-Zumar ayat 68:
ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا
هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ
“Kemudian,
ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu
(keputusan Allah)”.
M. Quraish Shihab menguraikan, ketika ini manusia
dari zaman Nabi Adam AS hingga manusia yang terakhir mati, seluruhnya akan
dibangunkan kembali dari kuburnya. Mereka akan digiring oleh para malaikat dan
penyaksi ke padang mahsyar, yang merupakan tempat berkumpul untuk pengadilan
Allah SWT.
وَجَاۤءَتْ كُلُّ
نَفْسٍ مَّعَهَا سَاۤىِٕقٌ وَّشَهِيْدٌ
“Lalu,
setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan saksi”. (QS. Qaf: 21)
يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ
اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas
mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. An-Nur: 24)
3. Hari Penimbangan Amal
Kemudian terjadilah hari pengadilan Allah dikutip
buku Wawasan Al-Qur'an, di mana segala perbuatan manusia diukur dengan
'timbangan' yang benar tanpa ada kesalahan sedikit pun. Dari amalan terkecil
hingga yang besar semuanya ditimbang, agar tak ada yang merasa tertindas.
Tercantum dalam Surah Al-A'raf ayat 8-9:
وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْحَقُّۚ
فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُه فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ وَمَنْ خَفَّتْ
مَوَازِيْنُه فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا
يَظْلِمُوْنَ
“Timbangan
pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan
(kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan
(kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”.
4. Menuju Surga atau Neraka
M. Quraish Shihab menjelaskan, setelah dari padang
mahsyar, manusia melanjutkannya antara ke surga atau neraka, sesuai timbangan
amal mereka. Dalam sejumlah ayat Al-Qur'an termaktub bahwa perjalanan menuju
keduanya terlebih dahulu melalui shirath, di antaranya pada Surah Maryam ayat
71-72:
وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَا ۚ
كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۚ ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا
وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا
“Tidak
ada seorang pun di antaramu yang tidak melewatinya (sirat di atas neraka). Hal
itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan. Selanjutnya, Kami akan
menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim
di dalamnya (neraka) dalam keadaan tersungkur”.
Jumhur ulama berpendapat bahwa shirath berupa
jalan atau jembatan yang harus dilalui setiap orang untuk menuju surga. Adapun
di bawah jalan ini, ada semua tingkatan neraka dengan apinya yang bergejolak. Mereka
yang mukmin akan melewatinya dan sampai di surga dengan berbagai kecepatan
sesuai kualitas ketakwaannya kepada Allah. Sementara orang musyrik, akan
terjatuh ke dalam neraka sesuai kedurhakaannya.
Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6473722/4-tahapan-manusia-menuju-akhirat-yang-kekal-apa-saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar