Penulis : Tutias Ekawati, Tendik FIAI UII
Kematian adalah suatu kenyataan yang pasti
dihadapi oleh setiap makhluk hidup, tanpa bisa menebak kapan terjadinya.
Sebagai seorang muslim, selalu diajarkan untuk memaknai kematian bukan hanya
sebagai akhir dari kehidupan di dunia, tetapi juga sebagai pintu gerbang menuju
kehidupan yang lebih abadi di akherat. Melalui Al-Qur’an dan hadits, Islam
memberikan panduan bagaimana seharusnya memandang kematian dan apa yang bisa
dipelajari darinya.
Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata, “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu
dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui,
terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya
(karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa
bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya,
akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena
mati).
Hal ini merupakan sebuah perkara yang
mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat
kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya
bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia
dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” (Lihat Majmu’
fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).
Dalam Islam, kematian adalah ketetapan Allah yang
tidak bisa ditolak atau dihindari. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#s ÏNöqyJø9$# (
§NèO $uZøs9Î) cqãèy_öè? ÇÎÐÈ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57).
Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah
kepastian yang akan dialami oleh setiap makhluk. Tidak ada yang bisa menolak
atau menghindarinya. Dengan menyadari hal ini, seorang Muslim seharusnya selalu
bersiap diri dan menjalani kehidupan di dunia ini dengan penuh kesadaran bahwa
segala sesuatu yang dimiliki hanyalah titipan sementara.
Kematian juga merupakan pengingat yang kuat bagi
kita untuk selalu berbuat kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang
mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah mati.” (HR.
Tirmidzi).
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang bijak
adalah mereka yang menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, dan
kehidupan yang abadi adalah di akhirat. Oleh karena itu, mereka akan selalu
berusaha untuk memperbanyak amal shaleh, karena hanya amal kebaikan yang akan
menjadi bekal di alam kubur dan akhirat kelak.
Kematian mengingatkan kita akan hakikat kehidupan
yang sesungguhnya. Hidup di dunia ini hanyalah perjalanan singkat menuju
kehidupan yang lebih kekal. Rasulullah SAW bersabda:
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang
asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari).
Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu
terikat dengan kehidupan dunia, karena dunia ini bukanlah tujuan akhir. Seorang
Muslim seharusnya selalu menyadari bahwa kehidupan dunia ini sementara dan
tujuan hidup yang sejati adalah mencapai kebahagiaan di akhirat.
Dengan menyadari bahwa kematian bisa datang kapan
saja, seorang Muslim seharusnya lebih rajin dalam beribadah dan selalu
mengingat Allah dalam setiap langkah hidupnya. Salah satu cara untuk mengingat
Allah adalah dengan selalu mengingat kematian. Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan
(kematian).” (HR. Tirmidzi).
Dengan mengingat kematian, hati akan menjadi lebih
lembut dan jiwa akan terhindar dari kesombongan dan cinta dunia yang
berlebihan. Kita akan lebih fokus pada tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu
mencari ridha Allah dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.
Bagi seorang Muslim yang beriman dan beramal
shaleh, kematian bukanlah sesuatu yang ditakuti, tetapi justru dinantikan
sebagai awal dari kehidupan yang lebih baik. Allah SWT berfirman:
¨bÎ) úïÏ%©!$# (#qä9$s% $oY/u ª!$# §NèO (#qßJ»s)tFó$# ãA¨t\tGs? ÞOÎgøn=tæ èpx6Í´¯»n=yJø9$# wr& (#qèù$srB wur (#qçRtøtrB (#rãϱ÷0r&ur Ïp¨Ypgø:$$Î/ ÓÉL©9$# óOçFZä. crßtãqè? ÇÌÉÈ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa
takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).
Ayat ini memberikan harapan bagi setiap Muslim
yang menjalani hidup dengan penuh keimanan dan ketaatan kepada Allah, bahwa
kematian adalah pintu menuju surga, tempat dimana segala kebahagiaan yang abadi
menanti.
Kematian adalah bagian dari kehidupan yang harus
kita terima dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Sebagai seorang Muslim,
memaknai kematian dengan benar akan membuat kita lebih bijak dalam menjalani
hidup. Kita akan lebih fokus pada tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencari
ridha Allah dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati. Semoga kita
semua termasuk orang-orang yang selalu siap menghadapi kematian dengan penuh
keimanan dan amal shaleh. Amin.
https://fis.uii.ac.id/blog/2024/06/02/memaknai-kematian-sebagai-seorang-muslim/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar