Oleh:
KH. Kholid Mas'ud
الحَمْدُ
للهِ الذِي بَعَثَ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً بِالحَقِّ رَسُوْلاً، وجَعَلَهُ إِلَى
السَّعادَةِ هَادِياً ودَلِيلاً، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيكَ لَهُ، رَضِيَ لَنَا الإِسلاَمَ دِينًا، وأَنْزلَ إِلَيْنَا نُوْراً
وكِتاباً مُبِيناً، وَنَشَرَ بِالإِيمَانِ عَلَى قُلُوبِنَا بَرْداً وَيَقِيْناً،
وأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُ اللهِ ورَسُولُهُ، أَقْوَمُ الخَلْقِ سِيرَةً،
وأَنْقَاهُمْ بَاطِناً وسَرِيرَةً، - صلى الله عليه وسلم - وعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وعَلَى مَنْ تَبِعَهُم بإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ البَعْثِ والجَزاءِ. أَمّا
بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أًوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ. اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَاَلَى: لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِنْ
أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. صدق الله العظيم.
Ma’asyiral muslimin, Rahimakumullah
Marilah kita selalu berusaha meningkatkan kadar
dan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt, karena hanya dengan
berbekal iman dan taqwa, kita akan menemukan kebahagiaan hidup yang haqiqy,
baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Ma’asyiral muslimin, Rahimakumullah
Hari ini adalah hari Jum’at tanggal 8 Rabiul Awal
tahun 1440 H, ini berarti kita berada pada hari dan bulan yang dimuliakan oleh
Allah, hari jum’at adalah hari mulia karena menjadi sayyidul ayyam, bulan
rabi’ul Awwal menjadi mulia karena pada bulan ini Allah menampakkan sayyidul
wujud yang diciptakan Allah sebelum diciptakannya alam semesta yaitu nabi agung
Muhammad ke dunia ini, tepatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah.
Maka sungguh beruntung bagi kita yang memanfaatkan
bulan ini dengan memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi dan berbuat
kebaikan, dan sungguh rugi bagi kita yang melewatkan bulan ini tanpa sedikitpun
mewarnai hidupnya dengan memperbanyak membaca shalawat kepada nabi. Marilah kita momentum
(kesempatan) ini kita manfaatkan sebaik-baiknya, karena belum tentu tahun depan
kita bisa mendapatkan nikmat ini, ingatlah setiap shalawat yang kita baca
Rasulullah mendengar dan membalasnya.
Pada bulan ini banyak sekali umat Islam dibelahan
dunia yang merayakan hari kelahiran nabi Muhammad SAW, di sana sini kita
dengarkan lantunan shalawat, salam, pujian yang ditujukan kepada nabi Agung
Muhammmad SAW. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita memperbanyak
membaca shalawat dan dan memperingati serta mengenang hari kelahiran nabi
Muhammad SAW
Jika ada orang bertanya, mengapa kita harus banyak
membaca shalawat dan memperingati hari kelahiran nabi ? Maka jawabanya adalah,
setidaknya ada 3 hal yang mewajibkan kita untuk memperbanyak membaca shalawat
kepada nabi Muhammad SAW terutama pada bulan ini, sekaligus untuk memperingati
maulid nabi Muhammad SAW.
Pertama, karena
membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW merupakan bentuk perintah Allah
kepada umat Islam, hal ini sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat al-Ahzab:
56
إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّۚ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya”.
Dalam kitab mahasin al-Ta’wil (VIII, 109) Imam Jamaluddin al-Qasimi
menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya kewajiban bagi setiap muslim
untuk membaca shalawat kepada nabi secara mutlak.
Menurut imam al-Qasimi pendapat yang mengatakan
bahwa perintah ayat ini menunjukkan sunnah tidak dapat dibenarkan dan menyalahi
kaidah yang shahih. Dalam kitab ini imam al-Qasimi juga menukil riwayat adanya
seseorang yang bertanya kepada Imam al-Razi, orang tersebut berkata: “Jika
Allah dan para malaikat telah membacakan shalawat kepada Nabi kemudian apa
tujuan Allah menyuruh umat Islam membaca shalawat kepada Nabi? Apakah nabi
masih membutuhkan do’a dari kita?”
Imam al-Razy menjawab: “Tujuan Allah mewajibakan
umat Islam membaca shalawat kepada Nabi adalah untuk menunjukkan keagungan dan
kedudukan nabi disisi Allah, para malaikat dan makhluk-Nya, selain itu agar umat
Islam mendapatkan pahala dari membaca shalawat tersebut, sebab bacaan shalawat
yang kita tujukan kepada nabi bukan semata-mata kembali ke nabi tetapi
manfaatnya kembali kepada kita, bukankah nabi adalah orang yang maksum (terhindar dari
dosa), orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi, dan orang yang paling
dicintai oleh Allah SWT. Pahala yang manfaatnya kembali ke kita inilah yang
kita harapkan dari bacaan shalawat tersebut”.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Kedua, Besarnya peran
dan jasa nabi bagi kehidupan manusia. Dalam surat al-Anbiya’: 107 Allah
berfirman,
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Berkaitan dengan ayat ini Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di (Taisir al-Karim
al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannam 618) mengatakan sebagai berikut:
فَهُوَ
رَحْمَتُهُ المُهْدَاةُ لِعِبَادِهِ، فَالمُؤْمِنُوْنَ قَبِلُوْا هَذِهِ
الرَّحْمَةَ وَشَكَرُوْهَا وَقَامُوْا بِهَا، وَغَيْرُهُمْ كَفَرُوْهَا
وَبَدَّلُوْا نِعْمَةَ اللهِ كُفْرًا وَأَبَوْ رَحْمَةَ اللهِ وَنِعْمَتِهِ
“Nabi
Muhammad SAW adalah rahmat Allah yang dihadiahkan kepada hamba-Nya. Adapun
0rang-orang yang beriman menerima rahmat tersebut dan mensyukurinya, sedang
orang-orang kafir mengingkari dan menggantinya dengan kukufuran, mereka tidak
menerima rahmat dan nikmat tersebut. Imam al-Baghawi (Tafsir
al-Baghawi: 196) menukil pendapat Ibnu Abbas yang menyatakan:
هُوَ
عَامٌ فِي حَقِّ مَنْ آمَنَ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ فَمَنْ آمَنَ فَهُوَ رَحْمَةٌ
لَهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ فَهُوَ رَحْمَةٌ لَهُ فِي
الدُّنْيَا بِتَأْخِيْرِ العَذَابِ عَنْهُمْ
“Keberadaan beliau sebagai rahmat) sifatnya
umum, baik bagi orang yang beriman maupun untuk orang yang tidak beriman.
Barangsiapa yang beriman maka beliau menjadi rahmat baginya di dunia dan
akhirat. Adapun orang yang tidak beriman, maka beliau rahmat baginya di Dunia
(saja) dalam bentuk diakhirkan adzab dari orang tersebut’”.
Pendapat Ibnu Abbas ini sesuai dengan hadits
riwayat Imam al-Darimi dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah RA. Bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا
أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ، مَا أَنَا إِلَّا رَحْمَةٌ لِلْعَالَـمِيْنَ أَهْدَاهَا
اللهُ إِلَيْهِمْ ، فَمَنْ قَبِلَ هَدِيَّتَهُ أَفْلَحَ وَظَفَرَ ، وَمَنْ لَمْ
يَقْبَلْ خَابَ وَخَسَرَ
“Sesungguhnya aku adalah rahmat yang
dihadiahkan (oleh Allah), Aku adalah rahmat bagi alam semesta yang dihadiahkan
Allah kepada manusia, barang siapa yang mengambil hadiah tersebut maka akan
bahagia dan barang siapa yang menolaknya maka akan rugi”.
Begitu besar jasa Rasulullah SAW kepada umat
manusia, maka sudah selayaknya kita umat manusia mengagungkan beliau dengan
cara memperbanyak membaca shalawat kepada beliau.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ketiga, mengharap syafaat
nabi. Memperbanyak membaca shalawat kepada nabi merupakan salah satu sarana
agar kita mendapatkan syafa’at dari Rasulullah SAW. Imam al-Timidzi
meriwayatkan dari Ibnu Ma’sud bahwasanya nabi bersabda: “Orang yang paling
berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca
shalawat kepadaku”. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah SAW
bersabda:
صَلُّوْ
عَلَيَّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ عَلَّي زَكَاةٌ لَكُمْ وَاسْأَلُوْا اللهَ لِي
الوَسِيْلَةَ، قَالُوْا وَمَا الوَسِيْلَةَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: أَعْلَى
دَرَجَةٍ فِي الجَنَّةِ لاَ يَنَالُهَا إِلَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ وَأَنَا اَرْجُوْ
أَنْ يَكُوْنَ أَنَا هُوَ. (رواه أحمد في مسنده)
“Bacalah shalawat kepadaku karena sesungguhnya
shalawat kepadaku itu membersihkan dosa-dosamu, dan mintalah kepada Allah
untukku wasilah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah apakah wasilah itu?
beliau menjawab: yaitu derajat yang paling tinggi di surga yang hanya satu
orang saja yang akan memperolehnya dan aku berharap semoga akulah orang yang
memperolehnya”.(HR. Ahmad)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Memperingati maulid Nabi memang tidak
diperintahkan secara khusus, baik oleh Al-Qur’an maupun Hadits. Peringatan ini
baru diadakan untuk pertama kali pada ratusan tahun setelah Nabi Muhammad SAW
wafat, yakni pada abad ke-7 hijriah di wilayah Irak atas perintah Raja Irbil
bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri.
Meskipun demikian sebagian besar ulama’
berpendapat bahwa memperingati maulid nabi adalah perbuatan yang diperbolehkan
dan tidak diharamkan, hal ini disebabkan karena banyaknya manfaat yang
terkadung dalam peringatan maulid tersebut. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki
(Mafahim Yajibu an Tushahhihah : 316) menyatakan:
“Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan
bentuk tradisi yang baik di masyarakat, bukan termasuk bagian dari masalah
ibadah yang dipersoalkan keabsahannya. Sekali lagi, acara peringatan Maulid Nabi adalah
tradisi dan adat kebiasaan yang baik. Dikategorikan tradisi yang baik, karena
substansi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki banyak manfaat dan
kebaikan bagi masyarakat, seperti meneladani prilaku Nabi, pembacaan ayat-ayat
Al Qur’an, dzikir, tahlil, kalimat thayyibah dan pembacaan sejarah dan
perjuangan Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut juga berlaku untuk tradisi keagamaan
selainnya, seperti peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Nuzulul Qur’an,
Peringatan Tahun Baru Muharram, dan lain-lainnya”.
Syekh Abdul Karim Zidan (al-Wajiz fi Ushulil
Fiqhi: 253) menjelaskan bahwa tradisi yang syar’i adalah tradisi yang tidak
berlawanan dengan nash agama, tradisi yang membawa maslahat syar’i, dan tradisi
yang tidak menimbulkan mudarat bagi masyarakat. Dari sini dapat disimpulkan
bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah tradisi yang baik, karena
substansinya dilegitimasi oleh syariat agama.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Demikian beberapa hal yang mengharuskan kita
memperingati maulid nabi dan memperbanyak shalawat kepada beliau. Semoga kita
semua benar-benar dapat menjalankan ajaran beliau sehingga kita benar-benar
diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya baik di dunia maupun di
akhirat. Amin
Sumber : https://www.tambakberas.com/artikel/khutbah-hikmah-maulid-nabi-muhammad-saw/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar