Oleh: Muhammad Kosim
Alquran surah al-Ahzab ayat 21 menegaskan, Nabi
adalah teladan (uswatun hasanah) di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam
kepemimpinan. Apalagi, Nabi Muhammad SAW tidak saja sukses menjadi pemimpin
agama, tapi juga pemimpin politik.
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”,
Qs. Al Ahzab (33): 21.
Kepemimpinan profetik (prophetic leadership)
merupakan kepemimpinan yang menerapkan karakter kepemimpinan para nabi,
terutama Nabi Muhammad SAW. Setiap nabi adalah pemimpin. Dan, pemimpin dari
sekalian manusia adalah Nabi Muhammad SAW, tidak saja di dunia, tetapi juga di
akhirat karena ia memperoleh hak untuk memberi syafaat. Sabdanya: "Di
hari kiamat nanti, aku adalah pemimpin umat manusia seluruhnya...” ( HR
Bukhari Muslim).
Setidaknya ada tiga prinsip penting menerapkan
kepemimpinan profetik. Pertama, meneladani empat sifat wajib yang
menjadi karakter utama Nabi Muhammad SAW, yaitu sidik, amanah, tabligh, dan
fatanah.
Pemimpin harus menjadi orang yang jujur, bertindak
benar, dan memiliki kepribadian integritas antara pikiran, ucapan, dan
perbuatan. Dengan sifat sidik, ia menolak segala bentuk kebohongan, tidak
memelihara hoaks, dan senantiasa memperjuangkan kebenaran untuk kemakmuran
rakyatnya.
Dengan sifat amanah, jabatan diyakini sebagai
amanah rakyat yang harus dipikul dan pertanggungjawabannya juga kepada Allah
SWT. Sifat tabligh menuntut pemimpin harus komunikatif terhadap rakyatnya baik
dalam menyampaikan kebijakan maupun mendengar keluhan rakyat.
Adapun sifat fatanah, menuntut setiap pemimpin
cerdas menyelesaikan masalah dan arif melahirkan kebijakan. Pemimpin profetik
juga memiliki kecerdasan rohani sehingga hatinya tetap memiliki koneksi yang
kuat dengan Allah SWT. Dengan begitu, kebijakannya selalu disandarkan pada
Allah sehingga tidak menyengsarakan rakyatnya.
Kedua, meneladani
sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW seperti yang dijelaskan dalam surah
at-Taubah ayat 128. Berat dirasakan oleh Nabi penderitaan orang lain (azizun
alaihi ma anittum). Inilah pemimpin sejati yang memiliki kepekaan atas
kesulitan rakyatnya (sense of crisis).
ôs)s9 öNà2uä!%y` Ñ^qßu ô`ÏiB öNà6Å¡àÿRr& îÍtã Ïmøn=tã $tB óOGÏYtã ëÈÌym Nà6øn=tæ úüÏZÏB÷sßJø9$$Î/ Ô$râäu ÒOÏm§ ÇÊËÑÈ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang
Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
Penyayang terhadap orang-orang mukmin”, Qs Taubah (9): 128.
Nabi juga amat sangat berkeinginan agar umatnya
aman, sentosa, dan selamat dunia akhirat (harishun 'alaikum).
Kepemimpinan profetik memiliki semangat yang tinggi untuk mewujudkan rakyatnya
berprestasi sehingga bangsanya meraih kemajuan gemilang (sense of
achievement).
Nabi SAW juga memiliki sifat kasih sayang (raufunrahim)
terhadap umatnya, bahkan orang-orang yang memusuhinya. Ia tidak pernah
menginginkan kebinasaan ditimpakan pada orang lain, tidak pernah menyerang
kecuali dalam mempertahankan diri dari serangan musuh dalam peperangan.
Ketiga, meneladani
akhlak Nabi SAW yang mencintai, mengamalkan dan mengajarkan Alquran. Alquran
menegaskan, Nabi SAW memiliki akhlak yang agung (al-Qalam ayat 4). Ketika
A’isyah ditanya tentang akhlak Nabi, jawabnya, "kana khuluqu al-Quran",
akhlak Nabi itu adalah Alquran.
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung”, Qs. Al Qalam (68): 4.
Maka, kepemimpinan profetik akan dimiliki setiap
pemimpin yang mau mengkaji Alquran untuk ditadaburi, diamalkan, dan diajarkan.
Sebaliknya, umat Islam yang memperoleh amanah sebagai pemimpin, tapi enggan
atau jauh dari Alquran, niscaya hatinya akan keras, tertutup dari cahaya dan
pertolongan Allah SWT. Padahal, menjalankan amanah sebagai pemimpin butuh
pertolongan-Nya. Wallahu a’lam.
Sumber : https://www.republika.id/posts/11581/kepemimpinan-profetik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar