Oleh : Ustadz Nur Rohmad, Ketua Bidang
Peribadatan & Hukum, PD Dewan Masjid Indonesia Kab. Mojokerto
اَلْحَمْدُ
لِلّٰه، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،ـ
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ
الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ (الحج: 77)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita
semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha
meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan
cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang
diharamkan.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Hari ini kita telah berada di bulan Rabi’ul Awal.
Bulan maulid Nabi. Bulan kelahiran Nabi. Pada bulan Rabi’ul Awal, dari tahun ke
tahun, sejak pertama kali perayaan maulid ini dilakukan pada awal abad ketujuh
Hijriah, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakannya dengan penuh
kegembiraan dan suka cita.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kenapa kita merayakan maulid? Karena kelahiran
Nabi Muhammad ke muka bumi ini adalah nikmat dan rahmat teragung yang Allah
anugerahkan kepada kita. Perayaan maulid adalah bentuk syukur kita kepada Allah
atas nikmat yang sangat agung ini. Dengan sebab beliau, kita mengenal Allah,
satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah. Tuhan Pencipta segala
sesuatu. Tuhan yang tidak menyerupai segala sesuatu. Tuhan yang tidak
membutuhkan kepada segala sesuatu. Dengan sebab beliau, kita mengenal Islam,
satu-satunya agama yang benar. Satu-satunya agama yang diridhai Allah. Agama
yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul.
Perayaan maulid adalah bentuk kecintaan kita
kepada insan yang paling mulia dan makhluk yang paling utama, Baginda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Melalui perayaan maulid kita
diingatkan untuk terus mencintai Baginda Nabi. Melalui perayaan maulid, kita
tanamkan pada diri umat Islam kecintaan kepada Nabi mereka, Nabi agung Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi yang cintanya kepada umat melebihi cinta
mereka kepadanya.
Salah satu bukti cinta baginda kepada umatnya
adalah sabda beliau:
لِكُلّ
نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي
اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِيْ شَفَاعَةً لِأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ
مُسْلِمٌ)
“Setiap nabi memiliki kesempatan berdoa yang
dikabulkan, maka semua nabi meminta segera dengan doanya, dan aku simpan doaku
sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat” (HR Muslim).
Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada Baginda:
يَا
مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
“Wahai Muhammad, mintalah maka engkau akan
diberi, berilah syafaat maka syafaatmu akan diterima”
Baginda menjawab:
أَيْ
رَبِّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ)
“Wahai Tuhanku, umatku umatku” (HR
an-Nasa’i)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Perayaan maulid di bulan Rabi’ul Awal mengingatkan
kita akan keagungan Baginda, keutamaannya, akhlaknya, perjuangannya, gambaran
ketampanan dan keindahan jasad mulianya. Ketika dilantunkan puji-pujian
kepadanya dan jamaah maulid mulai menyebut-nyebut namanya, biasanya kita akan
terbawa suasana haru. Dalam hati kita berucap, “Andai saja aku mendapat
kemuliaan bertemu dengan Baginda, meskipun dalam mimpi.”
Seorang mukmin sejati pasti merindukan baginda
Nabi. Seorang mukmin sejati pasti-lah sangat ingin bertemu dengan baginda
walaupun sekejap pandangan mata dalam mimpi.
Sahabat Bilal al-Habasyi radliyallahu ‘anhu pernah
memperoleh kemuliaan itu. Bilal pernah memperoleh kemuliaan bertemu dan melihat
langsung baginda. Suatu ketika, ia melihat dalam mimpi wajah baginda yang
memancarkan cahaya. Begitu terbangun, rasa rindu yang membuncah dan gelora
cinta yang menyala-nyala memandunya untuk memacu hewan tunggangannya melewati
gurun-gurun pasir yang tandus. Ia percepat perjalanannya di malam dan pagi
hari, agar dapat segera sampai ke Madinah.
Sesampainya di Madinah, ia lantas berdiri di dekat
peraduan baginda, di dekat makamnya. Air mata pun mengalir deras dari kedua
matanya. Ia tumpahkan air mata agar dapat meringankan kerinduan yang bergejolak
di hati. Akan tetapi mana mungkin itu terjadi. Bilal-lah yang sebelum
meninggal, melontarkan perkataan:
غَدًا
نَلْقَى الْأَحِبَّةْ مُحَمَّدًا وَصَحْبَهْ
“Besok di akhirat aku akan menemui orang-orang
yang aku kasihi, yaitu Muhammad dan para sahabatnya.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kenapa kita merayakan maulid? Karena kita ingin
bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi kita.
Nabi Muhammad bahkan yang mengajarkan kepada kita
untuk mensyukuri hari kelahirannya. Ketika ditanya tentang puasa sunnah hari
Senin, beliau menjawab:
ذَاكَ
يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ
وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ)
“Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan
diturunkan wahyu pertama kepadaku” (HR Ahmad dan al-Baihaqi dalam Dala’il
an-Nubuwwah)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Perayaan maulid adalah bentuk pengamalan terhadap
hadits:
لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara
kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh
manusia” (HR al-Bukhari)
Peringatan maulid adalah salah satu sarana untuk
menanamkan dan menebarkan cinta terhadap Rasulullah shallallau ‘alaihi wa
sallam kepada lintas generasi, agar mereka terpaut hati dengannya. Bahkan
peringatan maulid termasuk salah satu amal yang paling utama karena menuntun
kita menuju cinta yang mulia ini. Yaitu cinta kepada insan pilihan yang telah
datang menyelamatkan umat manusia dari kesesatan, kezaliman, kejahiliahan,
kemusyrikan dan kekufuran. Baginda Nabi bersabda:
أَنَا
مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِيْ الَّذِيْ يَمْحُوْ اللهُ بِيَ
الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِيْ وَأَنَا
الْعَاقِبُ الَّذِيْ لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
“Aku adalah Muhammad dan aku adalah
Ahmad. Aku adalah al-Mahi (sang penghapus) yang denganku Allah menghapus
kekufuran. Aku adalah al-Hasyir yang orang-orang akan dikumpulkan di padang
mahsyar di belakangku. Dan aku adalah al-‘Aqib yang tidak ada seorang pun yang
diangkat menjadi nabi setelahku” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Melalui peringatan maulid, kita belajar,
mengajarkan dan saling mengingatkan bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling
mulia. Beliau-lah yang mengajarkan dan mengingatkan kita akan kemuliaan dirinya
dalam sabdanya:
إِنَّ
اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ
كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِيْ هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِيْ مِنْ بَنِيْ
هَاشِمٍ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
“Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari
keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan memilih dari
Quraisy Bani Hasyim dan memilihku dari Bani Hasyim” (HR Muslim).
Dengan mengetahui ketinggian derajat dan
kemuliaannya, insyaallah cinta dan pengagungan kita kepadanya semakin menguat
dan mendalam. Cinta inilah yang akan mendorong kita untuk menjalankan
perintahnya dan mengikuti ajaran-ajarannya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam peringatan maulid, kita belajar dan
mengajarkan tentang ciri-ciri fisik mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Barang siapa yang melihatnya dalam mimpi, sungguh ia akan melihatnya
dalam keadaan jaga sebagaimana sabda Baginda:
مَنْ
رَءََانِيْ فِيْ الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقَظَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia
akan melihatku dalam keadaan jaga” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dalam peringatan maulid ada pembacaan sirah
nabawiyyah (sejarah hidup Nabi). Disebutkan bahwa Nabi tumbuh dalam keadaan
yatim. Maka keyatiman seseorang jangan sampai menghalanginya untuk berakhlak
dengan akhlak-akhlak Nabi dan beradab dengan adab-adabnya.
Dalam pembacaan terhadap sejarah hidup Nabi, kita
belajar kejujuran dari aktivitas dagangnya. Betapa beliau adalah orang yang
sangat jujur dalam berniaga sehingga keberkahan begitu tampak pada hartanya.
Dalam pembacaan terhadap sejarah hidup beliau,
para dai belajar berbagai metode dakwah dari baginda. Beliau memulai dakwah
sendirian, menyeru dan mengajak kepada Islam hingga agama yang mulia ini
menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab. Estafet dakwah sepeninggal beliau
dilanjutkan oleh para sahabatnya. Hingga Islam menyebar ke berbagai belahan dunia.
Dalam pembacaan terhadap sejarah hidupnya,
terdapat pelajaran bagi umat untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia. Nabi
bersabda:
إِنَّمَا
بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ (رَوَاهُ الْبَزَّارُ
وَالْبَيْهَقِيُّ)
“Aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak-akhlak yang mulia” (HR al-Bazzar dan al-Baihaqi)
Dalam rangkaian acara peringatan maulid Nabi,
banyak sekali perbuatan baik yang dianjurkan oleh syariat, seperti pembacaan
ayat al-Qur’an, sedekah makanan, doa bersama dan menjadi ajang silaturahim
serta mengokohkan simpul-simpul tali persaudaraan antar sesama umat Islam. Dan
tentu saja menjadi sebuah kegiatan untuk memperbanyak bacaan shalawat
sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)
“Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan
ucapkanlah salam kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah singkat pada siang hari yang
penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua.
Amin.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber : https://kemenag.go.id/islam/khutbah-jumat-alasan-dianjurkannya-merayakan-maulid-nabi-UWFHG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar