Oleh
: Fauzan Anwar Sandiah
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، أَمَّا بَعْدُ
قال الله
تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً سَدِيْدًا.يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُم ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah salat Jum’at
yang berbahagia
Alhamdulillah atas
limpahan rahmat dan karunia sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk
mengikuti ibadah salat Jum’at pada hari ini. Salawat serta salam kita semoga
senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat.
Dan semoga kita termasuk yang mendapatkan syafaat kelak di yaumul qiyamah. Amin ya rabbal
‘alamin.
Jamaah salat Jum’at
yang berbahagia
Islam adalah agama
yang mengajarkan pemeluknya untuk menghormati segala ciptaan Allah Swt.
Meliputi sesama manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan bahkan seluruh materi
natural yang tersebar dari dalam perut bumi hingga ke luar angkasa terjauh. Hal ini
ditegaskan Allah secara gamblang dalam Qs. Ali-Imran (3): 190-191 yang berbunyi:
إِنَّ فِى
خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ
لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
ٱلَّذِينَ
يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ
فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan
berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia;
Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Jamaah salat Jum’at yang
berbahagia,
Allah Swt telah
memberkahi umat muslim di nusantara dengan bentangan alam yang luar biasa
hebat. Bagaikan hamparan mukjizat ciptaan yang tiada mungkin akan tergantikan.
Dan oleh karena itu, tanggungjawab umat muslim di Indonesia adalah menjaga,
merawat dan melindungi seluruh kekayaan alam ini. Bukan justru menjadi perusak,
penista dan penindas.
Indonesia merupakan
negara dengan kekayaan spesies untuk jenis binatang mamalia sebanyak 515 jenis,
35 di antaranya adalah endemik atau tidak ditemukan di negara dan kepulauan
lain di dunia. Di Kalimantan misalnya adalah orangutan, uwa, dan bekantan. Atau
badak bercula satu di Banten.
Indonesia juga adalah
negara dengan jenis spesies kupu-kupu paling tinggi di dunia, yaitu 121 jenis,
44% di antaranya endemik. Peringkat ketiga untuk reptilia yaitu 600 spesies dan
peringkat keempat untuk jenis burung sebanyak 1519 spesies yang 20% di
antaranya adalah endemik seperti burung cendrawasih dan kakatua hitam di Irian
Jaya.
Namun sayangnya, semua
berkah dan rahmat Allah itu sekarang ada dalam posisi terancam punah. Apakah
kita sebagai umat Islam menjadi bagian dari yang melakukan pengrusakan sehingga
spesies-spesies itu punah? Mudah-mudahan tidak.
Jamaah salat Jum’at
yang berbahagia
Ingat, dan selalu
diingat! Islam agama yang melarang umatnya untuk melakukan pengrusakan. Baik di
darat, di laut, dan di udara. Tidak akan anda semua temui agama yang secara
lugas melarang pemeluknya melakukan pengrusakan lingkungan. Bisa anda cek baik
di al-Qur’an maupun hadits.
Lagi-lagi ini disampaikan Allah dengan sangat jelas.
Misalnya dalam Qs. al-A’raf (7): 56:
وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا
وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ
ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah
kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Ayat ini dengan tegas
mengecam orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Padahal, Allah,
melalui hukum alam atau yang kita sebut sunnatullah telah menetapkan cara tersendiri bagi alam untuk
memperbaiki dan memperbarui dirinya sendiri. Oleh sebab itu, pengrusakan adalah
bentuk kedurhakaan dan perilaku laknat yang sangat dibenci Allah Swt.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
Jamaah salat Jum’at
yang berbahagia
Islam datang ke muka
bumi ini sebagai agama yang mengajarkan manusia menjadi khalifah fi-al-ardh. Manusia sebagai
penjaga bumi. Baik secara harafiah maupun maknawiyah. Sebab manusia adalah
satu-satunya ciptaan yang dengan penuh percaya diri mengaku siap mengemban
amanah menjaga bumi.
Tapi apa yang
dilakukan manusia? Telah pula diterangkan dalam al-Qur’an bahwa manusia sejak
dahulu selalu berbuat keonaran dan kerusakan di muka bumi.
Mudah-mudahan kita
kembali menyadari arti penting menjadi seorang muslim. Yaitu orang-orang yang
dengan pikiran, sikap dan tindakannya adalah semata-mata untuk menebarkan
keselamatan bagi sesama manusia dan segala ciptaan Allah yang tiada lain adalah
lingkungan dan alam semesta.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا
إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ. وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2022/11/khutbah-jumat-kelestarian-alam-dalam-konsepsi-islam/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar