إنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ
خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ
كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اَللَّهُمَّ
فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلاً نَبِيًّا،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا
شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ
اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى :
وَمَنْ
يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى
الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Alhamdulillahi Rabbil
‘Alamin, Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menganugerahkan
kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi
ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh
umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang mewujud dalam kehidupan nyata
dalam semua aspek kehidupan kita, apapun profesi kita. Taat kepada Allah, takut
terhadap ancaman siksa neraka, dan selalu waspada dengan tipu daya setan dan
manusia.
Hadirin jamaah jumah
rahimakumullah,
Baru-baru ini Paus
Fransiskus datang ke Indonesia. Kedatangan Paus ke Indonesia merupakan
kunjungan yang pertama dalam 35 tahun setelah kunjungan Paus Yohanes Paulus II
pada 1989 silam. Selain menghadiri berbagai acara, Paus juga memimpin misa
agung di Gelora Bung Karno (GBK) yang dihadiri ribuan umat Kristiani.
Kedatangannya disambut begitu meriah, namun memicu polemik di kalangan kaum
muslimin. Beberapa pihak menganggap penyambutan tersebut berlebihan dan
melanggar batas-batas Aqidah Islam, terutama karena prosesi yang dinarasikan
sebagai misi perdamaian, kemanusiaan, dan toleransi.
Polemik dimulai dari
surat panitia kunjungan Paus kepada Kementerian Agama yang kemudian diikuti
dengan surat balasan dari Kementerian Agama kepada Kemenkominfo. Dalam surat
itu, diusulkan agar misa Paus pada 5 September 2024 disiarkan secara langsung
di seluruh televisi nasional, sementara penanda waktu maghrib hanya ditampilkan
sebagai running text, bukan azan. Selain itu, agenda lain termasuk pembacaan
Injil dan Al-Quran di Masjid Istiqlal serta penandatanganan dokumen kemanusiaan
bersama Paus. Prosesi ini dinilai sebagian pihak mengarah pada sinkretisme,
pluralisme, dan humanisme beragama.
Hadirin jamaah jumah
rahimakumullah,
Sikap kritis
diperlukan terhadap praktik sinkretisme, pluralisme, dan humanisme beragama. Pertama,
Sinkretisme beragama, sebuah konsep mencampuradukkan ajaran agama,
termasuk Islam dengan agama lain, yang jelas terlarang dalam Islam. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا
الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Janganlah kalian
mencampuradukkan yang haq dengan yang batil. Jangan pula kalian menyembunyikan
yang haq itu, sedangkan kalian mengetahu” QS al-Baqarah [2]: 42.
Kedua, Pluralisme agama, yang mengajarkan bahwa semua agama sama dan
kebenaran setiap agama relatif, bertentangan dengan Aqidah Islam. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ
“Sungguh agama
(yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. QS Ali Imran [3]: 19
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ
يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Siapa saja yang
mencari agama selain Islam, sekali-kali agama itu tidak akan diterima, dan di
akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi”, QS Ali Imran [3]: 85.
Pluralisme agama juga
tidak sesuai dengan ajaran Islam, tidak berasal dari umat Islam, dan bisa
dicurigai memiliki misi imperialisme.
Ketiga, Humanisme beragama, yang muncul pada era Renaissance. Paham
ini justru ingin menghilangkan peran agama dalam kehidupan. Caranya dengan
menjadikan manusia pusat edar kehidupan, dengan mengabaikan Tuhan dan agama.
Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah,
“Sungguh shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam”. QS al-Anam [6]: 162.
Hadirin jamaah jumah
rahimakumullah,
Dengan demikian, para
tokoh umat seharusnya memanfaatkan kunjungan orang kafir untuk kepentingan
Islam, bukan membiarkan mereka membawa misi agama mereka kepada umat Islam.
Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam mencontohkan dengan mengirim utusan kepada pemimpin kafir,
seperti Kaisar Romawi dan Raja Persia, untuk menyerukan masuk Islam, seperti
dalam suratnya kepada Raja Persia: Aku menyeru dengan seruan Allah. Sungguh aku
adalah utusan Allah kepada seluruh manusia... Masuklah Islam. Niscaya Anda akan
selamat (Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 2/123).
Toleransi dalam Islam
tidak mengarah pada sinkretisme, pluralisme, atau humanisme yang merusak
Aqidah. Toleransi Islam adalah membiarkan dan tidak mengganggu ibadah agama
lain, sebagaimana dijelaskan dalam QS al-Kafirun [109]: 1-6, Katakanlah, Hai
orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah... Untuk
kalian agama kalian dan untuk aku agamaku.
Praktik toleransi
dalam sejarah Islam, seperti di Madinah, Mesir, India, dan Spanyol, menunjukkan
hidup rukun antaragama di bawah naungan Khilafah Islam.
Keindahan praktik
toleransi dalam Islam ini sejalan dengan misi pengutusan Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam kepada seluruh manusia untuk menebarkan rahmat (QS al-Anbiya
[21]: 107). Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin wajib berdakwah untuk
menegakkan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah, karena hanya
Khilafah yang mampu mewujudkan toleransi hakiki dan menebarkan rahmat bagi
seluruh manusia dan alam semesta.
WalLaahu a’lam bi
ash-shawaab.[]
بَارَكَ
الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي
هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Sumber : https://www.proaktifmedia.com/2024/09/khutbah-jumat-toleransi-tanpa-merusak.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar