اَلْحَمْدُ
للهِ، وَالصَّلَةُ وَالسَّلَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّ
اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا
بَعْدُ، فَإ نِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ
كِتَابِهِ:
مَنْ جَاءَ
بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ،
وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ
إِلَّ مَا كُ نْتُمْ تَعْمَلُونَ )النمل:
٨٩ - ٩٠)
Hadirin Jemaah yang
dirahmati Allah,
Kita bersyukur kepada
Allah seraya mengucapkan Alhamdulillah, pujian dan sanjungan hanyalah milik
Allah semata, karena semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Sementara
apa yang ada di sisi kita, bukanlah milik kita yang hakiki, suatu hari jika
Allah inginkan kembali, maka kembalilah milik Allah tersebut, bila Allah
kehendaki kembali, maka kembalilah milik Allah tersebut.
Selawat bertangkaikan
salam mari kita haturkan kepada suri tauladan sepanjang zaman, Nabi Muhammad Shalallahu
Alaihi Wasallam, begitu pula kepada para keluarganya, sahabatnya, pengikutnya
sampai akhir kiamat kelak.
Khotib berwasiat
kepada diri khotib dan kepada jemaah yang hadir marilah kita tidak hanya
menghadirkan raga, tapi juga menghadirkan jiwa, jiwa yang bertakwa kepada Allah
Ta’ala. Tidak sekedar hadir, tapi juga menghayati hikmah, mentadabburi ayat
Allah, merenungi umur kita yang kian lama kian berkurang.
Hadirin Jemaah yang
dirahmati Allah,
Allah berfirman dalam
surat Al-Anbiya [21] ayat 107:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّ رَحْمَةً لِلْعٰلَمِيْ ن
“Dan Kami tidak
mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Al-Imam Ibnu Katsir
saat menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,
Melalui ayat ini Allah
ta’ala memberitahukan bahwa Allah menjadikan Muhammad Shalallahu Alaihi
Wasallam sebagai rahmat buat semesta alam. Dengan kata lain, Dia mengutusnya
sebagai rahmat buat mereka. Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan
mensyukurinya, berbahagialah ia di dunia dan akhiratnya. Dan barang siapa yang
menolak serta mengingkarinya, maka merugilah ia di dunia dan akhiratnya,
seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الاذِينَ بَدالُوا نِعْمَةَ ا اللَّه
كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنامَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ
الْقَرَارُ
“Tidakkah kamu
perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan
menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke
dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.” [QS. Ibrahim:
28-29]
Melalui ayat ini
Izinkan khotib pada kesempatan ini menyampaikan tema: “Meneguhkan nilai-nilai
Islam Rahmatan lil ‘Alamin”.
Hadirin yang
dimuliakan Allah.
Melalui mimbar khotbah
ini, kami jelaskan bahwa banyak sekali pemahan yang berbeda dari yang
berkembang di masyarakat dan apa yang disampaikan para ulama dan mufassirin.
Kata rahmah dengan
berbagai derivasinya yang berjumlah 327 kata dalam Al-Qur’an disampaikan dalam
bentuk: fi‘l mâdhi (kata kerja lampau) sebanyak 8 kali; fi‘il mudhâri‘
(kata kerja yang akan atau sedang dikerjakan) terulang 15 kali; fi‘il amr
(kata kerja perintah) terulang 5 kali; isim fa’il terulang 113 kali; isim
tafdhil sebanyak 13 kali, dan bentuk mashdar (rahmah sendiri)
disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 173 kali.
Kata rahmah di dalam
Al-Qur’an hampir semuanya menunjuk kepada Allah Swt, sebagai subyek utama
pemberi rahmah. Dengan kata lain, rahmah di dalam Al-Qur’an berbicara tentang
berbagai aspek yang berkaitan dengan kasih sayang, kebaikan, anugerah dan
rezeki Allah terhadap segenap makhluk.
Rahmah dalam Al-Qur’an
menurut al-Damaghani dalam “Qamus Al-Qur’an aw Islah al-Wujuh wa al-Nadzairi fi
Al-Qur’an al-Karim”, beliau menemukan beberapa makna rahmah yang tersebar dalam
Al-Qur’an diantaranya: al-islam (agama Islam), al-jannah (surga),
al-matar (hujan), al-nubuwwah (kenabian), (kenikmatan), al-rizq
(rezeki), al-nasr; al-fath (pertolongan, kemenangan), al-‘afiyah
(kesehatan), al-mawaddah (cinta kasih), al-iman (keimanan), al-taufiq
(petunjuk), ‘Isa ibnu Maryam (Nabi ‘Isa Putra Maryam), Muhammad Saw. (Nabi
Muhammad Saw).
Allah ingin
mengajarkan kita kasih sayang, sehingga berulang kali Allah sebutkan kata
rahmah, bahkan di antara nama-nama Allah ada arrahman dan arrahiim. Semoga kita
dapat berprilaku sayang kepada saudara sesama muslim (ukhuwwah Islamiyyah),
saudara sesama bangsa dan setanah air (Ukhuwwah Wathoniyyah), saudara
sesama makhluk Allah yang makan dan minum di bumi Allah (Ukhuwwah Kholqiyyah).
Hadirin yang dirahmati
Allah,
Tentang makna rahmatan
dalam ayat ini, penafsiran pertama yang mengatakan rahmatan dalam ayat ini
maksudnya bahwasannya Nabi Muhammad membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, maka
siapa saja yang mengikuti ajaran beliau, maka orang itu akan mendapatkan
kebahagiaan, di antara para ulama yang mengatakan ini adalah Muhammad bin Jarir
Ath Thabari, Ibnu Katsir, At-Thobary, As-Sa’di, Sayid Qutub Dan lain-lain.
At-Thobari menjadikan
hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini QS. Al-Anbiya:
107:
من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا
والآخرة , ….
“Siapa saja yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan
akhirat…”
Dalam riwayat lainnya
yang dikutip oleh ibnu Katsir,
dari Ibnu Umar yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِن اللَّه بَعَثَنِي
رَحْمَةً مُهْدَاةً، بُعثْتُ بِرَفْعِ قَوْمٍ وَخَفْضِ آخَرِينَ "
“Sesungguhnya Allah
mengutusku sebagai pembawa rahmat yang dihadiahkan, aku diutus untuk mengangkat
(derajat) suatu kaum dan merendahkan yang lainnya”.
Rahmat yang dibawah
oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam baru dapatlah kita rasakan, jika
kita benar-benar mengikuti sunahnya, membedakan mana benar dan mana yang salah,
serta istiqomah dalam dakwah yang haq, sehingga orang tersebut dapat bahagia di
dunia dan akhirat.
Ibnu Zaid berkata:
أراد بالعالمين المؤمنين خاص
“Yang dimaksud
‘seluruh manusia’ dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman”.
Dengan kata lain
rahmat yang dibawa Rasulullah adalah Syariat Islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Dalam “Tafsir Fi
Zhilal Qur’an” dikatakan bahwa Allah telah mengutus rasul-Nya sebagai rahmat
bagi seluruh manusia untuk menuntun mereka kepada hidayah-Nya. Tidak akan
tertuntun dengan hidayah itu melainkan orang-orang yang siap menerimanya,
walaupun rahmat itu meliputi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
tidak beriman.
Sesungguhnya manhaj
yang dibawa oleh Muhammad saw. merupakan manhaj yang menghendaki kebahagiaan
bagi manusia dan menuntun mereka kepada kesempurnzun yang telah ditentukan
dalam kehidupan ini.
Penafsiran lainnya
mengatakan, bahwa rahmatan tidak hanya bagi orang beriman tapi juga tidak
beriman. Bagaimana caranya? bagi orang tidak beriman yaitu mereka yang tidak
beriman dan terikat perjanjian dengan beliau, rahmatan dan manfaat bagi mereka
adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini
lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu
‘alaihi Wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَّ مَنْ
ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَ لافَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ
أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“Ingatlah, siapa
yang menzalimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebaninya di atas
kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridaan dirinya, maka saya
adalah lawan bertikainya pada hari kiamat” [HR. Abu Daud, dishahihkan Al
Albani dalam Shahih Al Jami’].
Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wasalam melarang membunuh orang non muslim mu’ahad, siapa melakukan
pembunuhan maka dia tidak akan masuk surga.
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَناةِ
وَإِ ا ن رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا
“Siapa yang
membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau
surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” [HR. Bukhari].
Inilah bentuk rahmatan
lil ‘Alamin yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam ketika
bermuamalah dengan non muslim, bahkan bentuk rahmahnya Nabi tidak mendoakan
keburukan bagi orang non muslim.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ ا اللَّه، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ،
قَالَ: "إِني لَمْ أبعَثْ لَعاانًا، وَإِنامَا بُعثْتُ رَحْمَة "
“Dari Abu Hurairah
yang mengatakan, bahwa pernah dikatakan kepada Rasulullah Saw, "Wahai
Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik." Maka
Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat,
melainkan aku diutus sebagai pembawa rahmat.”
Hadis ini diriwayatkan
secara tunggal oleh Imam Muslim. Di dalam hadis lainnya disebutkan:
"إِ ا نمَا أَنَا
رَحْمَةٌ مُهْدَاة "
“Sesungguhnya aku
adalah rahmat yang dihadiahkan (kepada kalian).”
Penafsiran lainnya
bahwa Rasulullah menjadi rahmat bagi orang yang tidak beriman adalah bahwa
mereka tidak ditimpakan azab yang pedih sebagaimana umat-umat yang Allah telah
binasakan dahulu.
تمت الرحمة
لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل
“Rahmat yang
sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah.
Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka
adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu”.
Hadirin yang dirahmati
Allah.
Penafsiran berikutnya
dalam menafsirkan QS Al-Anbiya’: 107, bahwa rahmat ini untuk semua makhluk,
manusia dan jinnya, benda hidup dan matinya. Syaikh Wahbah Az-Zuhaily
menafsirakan ayat ini:
وما أرسلناك
يا محمد إلا للرحمة بالعالمين: الإنس والجن لأن ما بعثت به سبب لإسعادهم، وموجب
لصلاح معاشهم ومعادهم.
“Tidaklah kami utus
engkau Muhammad kecuali rahmatan untuk semua alam, baik manusia maupun jin,
karena engkau diutus untuk menjadi sebab kebahagiaan mereka, dan sebab kebaikan
kehidupan dunia mereka dan kebaikan akhirat tempat kembali mereka.”.
Ada 5 nilai-nilai
Islam yang dapat kita ambil pada penafsiran QS.Al-Anbiya’: 107.
Pertama, sikap
berkasih sayang, punya kelembutan hati, Allah Ta’ala
berfirman.
فَبِمَا رَحْمَةٍ منَ ا اللَّه لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ
فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَّنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Dengan sebab
rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” [Ali
Imran : 159]
Kedua, toleransi
dan moderat baik kepada muslim maupun non muslim,
عن عائشة أم المؤمنين: لِتَعْلَمَ يهودُ أ ان في دينِنا
فُسْحةً، إنِي أُرْسِلْتُ بحنيف ا يةٍ سَمْحةٍ
“Dari Aisyah
Radhiyallahu Anha, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaih Wasallam bersabda, agar
orang-orang Yahudi tahu bahwa ada ruang / kemudahan dalam agama kami, saya
diutus dengan Hanifah yang toleran.”
Ketiga, konsisten
dan komitmen dalam menerapkan Islam,
Keempat, melindungi
orang lain dari segala hal yang berbahaya dan
Kelima, melayani
manusia sehingga mereka dituntun kepada kebaikan,
sehingga akhirnya mereka bahagia.
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ
“Barangsiapa
membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” [Muttafaq
‘alaih]
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber : https://asamuslim.id/berita/detail/khotbah-jumat-meneguhkan-nilainilai-islam-rahmatan-lil-alamin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar