Sabtu, 20 September 2025

MENEGUHKAN NILAI-NILAI ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN



 

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَةُ وَالسَّلَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإ نِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّ مَا كُ نْتُمْ تَعْمَلُونَ  )النمل:

٨٩ - ٩٠)

 

Hadirin Jemaah yang dirahmati Allah,

Kita bersyukur kepada Allah seraya mengucapkan Alhamdulillah, pujian dan sanjungan hanyalah milik Allah semata, karena semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Sementara apa yang ada di sisi kita, bukanlah milik kita yang hakiki, suatu hari jika Allah inginkan kembali, maka kembalilah milik Allah tersebut, bila Allah kehendaki kembali, maka kembalilah milik Allah tersebut.

 

Selawat bertangkaikan salam mari kita haturkan kepada suri tauladan sepanjang zaman, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, begitu pula kepada para keluarganya, sahabatnya, pengikutnya sampai akhir kiamat kelak.

 

Khotib berwasiat kepada diri khotib dan kepada jemaah yang hadir marilah kita tidak hanya menghadirkan raga, tapi juga menghadirkan jiwa, jiwa yang bertakwa kepada Allah Ta’ala. Tidak sekedar hadir, tapi juga menghayati hikmah, mentadabburi ayat Allah, merenungi umur kita yang kian lama kian berkurang.

 

Hadirin Jemaah yang dirahmati Allah,

Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya [21] ayat 107:

 

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّ رَحْمَةً لِلْعٰلَمِيْ ن

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

 

Al-Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,

Melalui ayat ini Allah ta’ala memberitahukan bahwa Allah menjadikan Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat buat semesta alam. Dengan kata lain, Dia mengutusnya sebagai rahmat buat mereka. Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukurinya, berbahagialah ia di dunia dan akhiratnya. Dan barang siapa yang menolak serta mengingkarinya, maka merugilah ia di dunia dan akhiratnya, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الاذِينَ بَدالُوا نِعْمَةَ ا اللَّه كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنامَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.” [QS. Ibrahim: 28-29]

 

Melalui ayat ini Izinkan khotib pada kesempatan ini menyampaikan tema: “Meneguhkan nilai-nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin”.

 

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Melalui mimbar khotbah ini, kami jelaskan bahwa banyak sekali pemahan yang berbeda dari yang berkembang di masyarakat dan apa yang disampaikan para ulama dan mufassirin.

 

Kata rahmah dengan berbagai derivasinya yang berjumlah 327 kata dalam Al-Qur’an disampaikan dalam bentuk: fi‘l mâdhi (kata kerja lampau) sebanyak 8 kali; fi‘il mudhâri‘ (kata kerja yang akan atau sedang dikerjakan) terulang 15 kali; fi‘il amr (kata kerja perintah) terulang 5 kali; isim fa’il terulang 113 kali; isim tafdhil sebanyak 13 kali, dan bentuk mashdar (rahmah sendiri) disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 173 kali.

 

Kata rahmah di dalam Al-Qur’an hampir semuanya menunjuk kepada Allah Swt, sebagai subyek utama pemberi rahmah. Dengan kata lain, rahmah di dalam Al-Qur’an berbicara tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan kasih sayang, kebaikan, anugerah dan rezeki Allah terhadap segenap makhluk.

 

Rahmah dalam Al-Qur’an menurut al-Damaghani dalam “Qamus Al-Qur’an aw Islah al-Wujuh wa al-Nadzairi fi Al-Qur’an al-Karim”, beliau menemukan beberapa makna rahmah yang tersebar dalam Al-Qur’an diantaranya: al-islam (agama Islam), al-jannah (surga), al-matar (hujan), al-nubuwwah (kenabian), (kenikmatan), al-rizq (rezeki), al-nasr; al-fath (pertolongan, kemenangan), al-‘afiyah (kesehatan), al-mawaddah (cinta kasih), al-iman (keimanan), al-taufiq (petunjuk), ‘Isa ibnu Maryam (Nabi ‘Isa Putra Maryam), Muhammad Saw. (Nabi Muhammad Saw).

 

Allah ingin mengajarkan kita kasih sayang, sehingga berulang kali Allah sebutkan kata rahmah, bahkan di antara nama-nama Allah ada arrahman dan arrahiim. Semoga kita dapat berprilaku sayang kepada saudara sesama muslim (ukhuwwah Islamiyyah), saudara sesama bangsa dan setanah air (Ukhuwwah Wathoniyyah), saudara sesama makhluk Allah yang makan dan minum di bumi Allah (Ukhuwwah Kholqiyyah).

 

Hadirin yang dirahmati Allah,

Tentang makna rahmatan dalam ayat ini, penafsiran pertama yang mengatakan rahmatan dalam ayat ini maksudnya bahwasannya Nabi Muhammad membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, maka siapa saja yang mengikuti ajaran beliau, maka orang itu akan mendapatkan kebahagiaan, di antara para ulama yang mengatakan ini adalah Muhammad bin Jarir Ath Thabari, Ibnu Katsir, At-Thobary, As-Sa’di, Sayid Qutub Dan lain-lain.

 

At-Thobari menjadikan hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini QS. Al-Anbiya: 107:

 

من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ….

Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat…

 

Dalam riwayat lainnya yang dikutip oleh ibnu Katsir,

dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

 

"إِن اللَّه بَعَثَنِي رَحْمَةً مُهْدَاةً، بُعثْتُ بِرَفْعِ قَوْمٍ وَخَفْضِ آخَرِينَ "

Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai pembawa rahmat yang dihadiahkan, aku diutus untuk mengangkat (derajat) suatu kaum dan merendahkan yang lainnya”.

 

Rahmat yang dibawah oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam baru dapatlah kita rasakan, jika kita benar-benar mengikuti sunahnya, membedakan mana benar dan mana yang salah, serta istiqomah dalam dakwah yang haq, sehingga orang tersebut dapat bahagia di dunia dan akhirat.

 

Ibnu Zaid berkata:

 

أراد بالعالمين المؤمنين خاص

Yang dimaksud ‘seluruh manusia’ dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman”.

 

Dengan kata lain rahmat yang dibawa Rasulullah adalah Syariat Islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

 

Dalam “Tafsir Fi Zhilal Qur’an” dikatakan bahwa Allah telah mengutus rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia untuk menuntun mereka kepada hidayah-Nya. Tidak akan tertuntun dengan hidayah itu melainkan orang-orang yang siap menerimanya, walaupun rahmat itu meliputi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman.

 

Sesungguhnya manhaj yang dibawa oleh Muhammad saw. merupakan manhaj yang menghendaki kebahagiaan bagi manusia dan menuntun mereka kepada kesempurnzun yang telah ditentukan dalam kehidupan ini.

 

Penafsiran lainnya mengatakan, bahwa rahmatan tidak hanya bagi orang beriman tapi juga tidak beriman. Bagaimana caranya? bagi orang tidak beriman yaitu mereka yang tidak beriman dan terikat perjanjian dengan beliau, rahmatan dan manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَلَّ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَ لافَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ingatlah, siapa yang menzalimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat” [HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].

 

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam melarang membunuh orang non muslim mu’ahad, siapa melakukan pembunuhan maka dia tidak akan masuk surga.

 

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَناةِ وَإِ ا ن رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Siapa yang membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” [HR. Bukhari].

 

Inilah bentuk rahmatan lil ‘Alamin yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam ketika bermuamalah dengan non muslim, bahkan bentuk rahmahnya Nabi tidak mendoakan keburukan bagi orang non muslim.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ ا اللَّه، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ، قَالَ: "إِني لَمْ أبعَثْ لَعاانًا، وَإِنامَا بُعثْتُ رَحْمَة "

Dari Abu Hurairah yang mengatakan, bahwa pernah dikatakan kepada Rasulullah Saw, "Wahai Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, melainkan aku diutus sebagai pembawa rahmat.

 

Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Muslim. Di dalam hadis lainnya disebutkan:

 

"إِ ا نمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاة "

Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (kepada kalian).

 

Penafsiran lainnya bahwa Rasulullah menjadi rahmat bagi orang yang tidak beriman adalah bahwa mereka tidak ditimpakan azab yang pedih sebagaimana umat-umat yang Allah telah binasakan dahulu.

 

تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل

Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu”.

 

Hadirin yang dirahmati Allah.

Penafsiran berikutnya dalam menafsirkan QS Al-Anbiya’: 107, bahwa rahmat ini untuk semua makhluk, manusia dan jinnya, benda hidup dan matinya. Syaikh Wahbah Az-Zuhaily menafsirakan ayat ini:

 

وما أرسلناك يا محمد إلا للرحمة بالعالمين: الإنس والجن لأن ما بعثت به سبب لإسعادهم، وموجب لصلاح معاشهم ومعادهم.

Tidaklah kami utus engkau Muhammad kecuali rahmatan untuk semua alam, baik manusia maupun jin, karena engkau diutus untuk menjadi sebab kebahagiaan mereka, dan sebab kebaikan kehidupan dunia mereka dan kebaikan akhirat tempat kembali mereka.”.

 

Ada 5 nilai-nilai Islam yang dapat kita ambil pada penafsiran QS.Al-Anbiya’: 107.

Pertama, sikap berkasih sayang, punya kelembutan hati, Allah Ta’ala berfirman.

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ منَ ا اللَّه لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَّنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]

 

Kedua, toleransi dan moderat baik kepada muslim maupun non muslim,

 

عن عائشة أم المؤمنين: لِتَعْلَمَ يهودُ أ ان في دينِنا فُسْحةً، إنِي أُرْسِلْتُ بحنيف ا يةٍ سَمْحةٍ

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaih Wasallam bersabda, agar orang-orang Yahudi tahu bahwa ada ruang / kemudahan dalam agama kami, saya diutus dengan Hanifah yang toleran.

 

Ketiga, konsisten dan komitmen dalam menerapkan Islam,

Keempat, melindungi orang lain dari segala hal yang berbahaya dan

Kelima, melayani manusia sehingga mereka dituntun kepada kebaikan, sehingga akhirnya mereka bahagia.

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 

مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ

Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” [Muttafaq ‘alaih]

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Sumber : https://asamuslim.id/berita/detail/khotbah-jumat-meneguhkan-nilainilai-islam-rahmatan-lil-alamin

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODERASI BERAGAMA

Oleh : Muhammad Ali Wava S.Ag , Musrif MBS Al-Muttaqin Gedangsari, Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta     إِنَّ ال...