Oleh : H. Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU
Kabupaten Pringsewu, Lampung.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،
وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ . فَاِنْ تَوَلَّوْا
فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ
رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt.
Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Rasulullah saw. Semoga kita
senantiasa termasuk golongan hamba yang pandai bersyukur dan mendapatkan
syafaat dari Nabi Agung Muhammad saw di hari kiamat. Amin.
Saat ini, kita sedang berada di bulan Rabiul Awwal
yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai bulan Maulid. Disebut demikian
memang karena dalam bulan ini terjadi sebuah kejadian agung yakni kelahiran
Nabi Muhammad saw. Sosok paling mulia di dunia, sosok yang kita diperintahkan
untuk senantiasa bershalawat untuk meraih syafaatnya. Bukan hanya kita saja
yang bershalawat, Malaikat dan Allah swt pun bershalawat kepada beliau. Hal ini
termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ
اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu
untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Kehadiran Nabi Muhammad ke dunia ini membawa
sebuah misi penting di antaranya adalah memperbaiki akhlak manusia. Misi ini
menandakan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia karena
itulah yang akan membawa perdamaian dan ketentraman dalam setiap interaksi
manusia dengan lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:
إِنَّمَا
بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ
“Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Akhlak menjadi bagian utama dalam bangunan
kepribadian seorang muslim sehingga para ulama menyebut bahwa “Al-Adabu fauqal
ilmi’. Bahwa adab, tatakrama, akhlak, di atas ilmu yang dalam artian harus
didahulukan untuk dimasukkan dalam diri setiap muslim. Dalam pendidikan pun
sudah seharusnya mengedepankan aspek afektif (sikap dan karakter) dibanding
aspek kognitif (kepintaran otak). Maka itu fungsi guru dan orang tua yang
paling utama adalah mendidik agar generasi muda menjadik baik. Bukan hanya
mengajar untuk menjadikan generasi muda menjadi pintar.
Pendidikan karakter dan akhlak generasi muda di
era saat ini menjadi sangat dan sangat penting. Hal ini karena tantangan dan
godaan zaman di tengah perkembangan teknologi semakin menjadi-jadi. Akibat
perkembangan teknologi dan informasi saat ini, ancaman terhadap degradasi moral
sangat terlihat di depan mata. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak para pemuda
sudah mulai tereduksi akibat gaya hidup digital di zaman modern.
Kejadian tindakan kriminal, asusila, kurangnya
kepedulian sosial dan menurunnya rasa sosial-kemanusiaan yang dilakukan dan
dimiliki generasi muda mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini
kita rasakan mereka lebih asik bermain di dunia maya dengan ponselnya dari pada
bersosialisasi di dunia nyata. Kebiasaan berkomentar di media sosial yang tak
melihat dengan siapa ia berbicara, terbawa dalam kehidupan nyata. Sehingga bisa
dirasakan mereka menyamakan antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan
orang tua.
Gampangnya berkomunikasi, berinteraksi, dan
mencari informasi juga sedikit demi sedikit menjadikan para generasi muda
menggampangkan berbagai hal. Ini berdampak kepada sikap malas dan mudah
menyerah pada tantangan permasalahan yang dihadapi. Mereka terdidik dengan
hasil yang instan tanpa perjuangan berat dan menghilangkan etos perjuangan
serta sikap tak kenal menyerah.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Fenomena-fenomena ini patut direnungi oleh kita
dan para orang tua pada umumnya. Momentum Maulid Nabi Muhammad saw menjadi saat
yang tepat untuk kembali memperkuat penjagaan pada akhlak generasi penerus.
Perlu dipantau aktivitas mereka saat memegang handphone agar akhlak bisa
benar-benar terjaga. Akhlak menjadi barometer apakah seseorang menjadi insan
terbaik atau tidak. Bukan kepintaran yang menjadi barometer!. Rasulullah
bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dari Ibnu Umar:
خَيْرُ
النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik
akhlaknya.”
Sudah saatnya di bulan Maulid ini kita kembali
meneladani akhlak Nabi yang merupakan suri tauladan terbaik sebagaimana
ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-ahzab ayat 21:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا
اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar
ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Selain menjadikan Maulid sebagai momentum menjaga
akhlak generasi muda, mari jadikan bulan Maulid ini sebagai kesempatan
meningkatkan kuantitas dan kualitas shalawat dan cinta kita kepada Nabi
Muhammad. Perbanyak shalawat, insyaallah hidup menjadi nikmat karena mendapat
syafaat di hari kiamat.
Syafaat dari Nabi Muhammad menjadi hal yang sangat
penting untuk kita raih. Karena kita tidak tahu ibadah mana yang akan diterima
di sisi Allah. Menurut kita kuantitas dan kualitas ibadah sudah maksimal, namun
belum tentu di sisi Allah swt. Sehingga kita perlu senantiasa berdoa untuk
meraih rahmat dari Allah serta perbanyak bershalawat kepada Nabi untuk meraih
syafaatnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Muslim, disebutkan ada seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi. Ia
merasa tidak rajin dalam menjalankan ibadah namun punya modal kecintaan kepada
Allah dan Rasul-Nya. Jawaban Nabi pun sangat menggembirakan. Nabi mengatakan
sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا
سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ
كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
"Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang
laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi
bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak
mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah.
Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan
bersama orang yang engkau cintai”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Semoga kita bisa meneruskan dan mewujudkan misi
Nabi kepada para generasi muda yakni menjadikan akhlak mulia sebagai
sendi-sendi peradaban kehidupan manusia. Semoga kita senantiasa bisa meneladani
akhlak Nabi dan kita akan menjadi umatnya yang mendapatkan syafaatnya dan masuk
dalam surganya Allah swt. Amin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي
اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ
وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Tidak ada komentar:
Posting Komentar