الْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْهِجْرَةَ
عِبْرَةً وَمَنْهَجًا لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْأَمِيْنُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ
هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾ (البقرة: ٢١٨).
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ
كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا
تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ
وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا
السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
(التوبة: ٤٠).
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا
كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ (النساء: ١٠٠).
يَا عِبَادَ
اللهِ، لَقَدْ جَعَلَ اللهُ الْهِجْرَةَ النَّبَوِيَّةَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى
الْمَدِيْنَةِ فَاصِلًا تَارِيْخِيًّا وَمَنْهَجًا لِلدَّعْوَةِ
الْإِسْلَامِيَّةِ، وَدَرْسًا لِلْأُمَّةِ فِي الصَّبْرِ وَالثَّبَاتِ
وَالتَّخْطِيْطِ وَاسْتِشْرَافِ الْمُسْتَقْبَلِ. فَالْهِجْرَةُ نُقْطَةُ
تَحَوُّلٍ وَانْطِلَاقٍ نَحْوَ آفَاقٍ جَدِيْدَةٍ، وَمَرْحَلَةٌ تَارِيْخِيَّةٌ
لِبِنَاءِ الدَّوْلَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَتَأْسِيْسِ مُجْتَمَعٍ قَائِمٍ عَلَى
الْإِيْمَانِ وَالتَّقْوَى وَالْعَدْلِ وَالْمُسَاوَاةِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati
Allah SWT.
Mengawali khutbah pada
hari yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian untuk
senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Marilah kita menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan
dan keteguhan hati. Sesungguhnya, orang-orang yang bertakwa itulah yang akan
memperoleh keberuntungan di dunia dan di akhirat.
Hadirin Jamaah Jumat
yang dimuliakan Allah
Pada kesempatan yang
baik ini, khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk merenungkan salah satu
peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam, yaitu hijrah
Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa yang terjadi pada tahun 622
Masehi ini bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain,
melainkan sebuah strategi perjuangan yang penuh dengan hikmah dan pelajaran
berharga bagi kehidupan kita sebagai umat Islam.
Hijrah Rasulullah SAW
adalah bukti nyata keteguhan dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan demi
menegakkan kebenaran. Selama 13 tahun di Makkah, Rasulullah dan para sahabat
mengalami berbagai macam intimidasi, penganiayaan, dan penolakan dari kaum
Quraisy. Tetapi semua itu tidak menyurutkan tekad mereka untuk tetap
memperjuangkan ajaran Islam.
Hadirin yang berbahagia
Dalam sejarah dakwah
Islam, Rasulullah SAW menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dari kaum
kafir Quraisy. Mereka melakukan segala cara untuk menghentikan dakwah beliau,
mulai dari intimidasi, pemboikotan, hingga percobaan pembunuhan. Dalam kondisi
yang sangat sulit inilah, Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk berhijrah ke
Madinah.
Imam Bukhari
meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari sahabat Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW
bersabda pada hari penaklukan kota Makkah:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ
النَّبِيُّ ﷺ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ: لَا هِجْرَةَ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ،
وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا
“Tidak ada lagi
hijrah setelah penaklukan (Makkah), akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan
niat. Jika kalian diperintahkan berangkat berjihad, maka berangkatlah.”
Hadits ini menunjukkan
bahwa hijrah dalam arti perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah sudah berakhir
setelah penaklukan Makkah. Namun, semangat hijrah dalam artian berjuang untuk
kebaikan, meninggalkan segala keburukan, dan menegakkan kebenaran tetap
berlanjut sepanjang masa.
Jamaah Jumat yang dirahmati
Allah,
Hijrah Rasulullah SAW
memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kita. Pertama, hijrah
mengajarkan kita tentang keteguhan dalam mempertahankan prinsip dan keyakinan.
Ketika ditawarkan harta dan kekuasaan oleh kaum Quraisy, Rasulullah SAW dengan
tegas menolaknya. Bahkan, beliau mengatakan kepada pamannya Abu Thalib:
واللهِ يَا عَمُّ لَوْ وَضَعُوْا
الشَّمْسَ فِي يَمِيْنِي وَاْلقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا
الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلِكَ دُوْنَهُ
“Demi Allah wahai
pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di
tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah yang aku lakukan, pasti aku tidak
akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”
Ini menunjukkan
keteguhan hati yang luar biasa dalam memperjuangkan kebenaran, meskipun harus
menghadapi berbagai tantangan dan godaan.
Jamaah yang dimuliakan
Kedua, hijrah mengajarkan kita tentang pentingnya strategi dalam perjuangan.
Keputusan untuk hijrah ke Madinah bukanlah keputusan yang diambil secara
tergesa-gesa, melainkan hasil dari perencanaan yang matang dan pertimbangan
yang mendalam. Rasulullah SAW melihat bahwa Madinah menawarkan lingkungan yang
lebih kondusif untuk perkembangan Islam.
Imam Al-Ghazali dalam
kitabnya Ihya’ Ulumiddin mengutip perkataan Sayyidina Umar bin Khattab:
لَا يَقْعُدَنَّ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ
الرِّزْقِ وَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي. وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ
لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً
“Jangan sampai ada
seseorang dari kalian yang hanya duduk dan berdoa ‘Ya Allah, berikanlah aku
rezeki’. Kalian semua harus tahu, bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan
perak.”
Perkataan ini
mengajarkan kita bahwa selain berdo’a, kita juga harus berusaha dan bekerja
keras. Begitu pula dalam berdakwah, selain memohon pertolongan Allah, kita juga
perlu memiliki strategi yang tepat.
Hadirin yang dirahmati
Allah,
Ketiga, hijrah mengajarkan kita tentang sikap optimis dan tidak berputus asa
dalam menghadapi kesulitan. Allah SWT berfirman dalam Surah Yusuf ayat 87:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا
مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا
يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Wahai anak-anakku,
pergilah kamu dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah melainkan orang-orang yang kafir.”
Ayat ini mengajak kita
untuk selalu optimis dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ketika situasi
di Makkah semakin sulit, Rasulullah SAW tidak putus asa, melainkan mencari
alternatif lain untuk melanjutkan dakwahnya, yaitu dengan hijrah ke Madinah.
Hadirin jamaah Jumat
yang berbahagia
Keempat, hijrah
mengajarkan kita tentang pentingnya membangun tatanan masyarakat yang
berkeadilan. Setibanya di Madinah, langkah pertama yang dilakukan Rasulullah
SAW adalah membangun masjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan sosial. Kemudian
beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum
Anshar (penduduk asli Madinah), serta menyusun Piagam Madinah yang mengatur
hubungan antar berbagai kelompok masyarakat.
Melalui
langkah-langkah strategis tersebut, Rasulullah SAW berhasil membangun
masyarakat madani (civil society) yang dilandasi oleh nilai-nilai
ketakwaan, keadilan, persamaan, dan persaudaraan. Inilah model masyarakat ideal
yang hingga kini masih menjadi acuan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam konteks
kehidupan kita saat ini, semangat hijrah tetap relevan untuk dipraktikkan.
Hijrah tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat
lain, melainkan perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kemaksiatan
menuju ketaatan, dan dari kemunduran menuju kemajuan.
Allah SWT berfirman
dalam Surah Al-Ankabut ayat 56:
يَا
عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ
“Wahai
hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku itu luas, maka sembahlah Aku
saja.”
Ayat ini
mengisyaratkan bahwa jika kita mengalami kesulitan dalam beribadah di suatu
tempat, kita dianjurkan untuk berpindah ke tempat lain yang lebih kondusif.
Namun, yang lebih penting adalah hijrah secara spiritual, yaitu dengan
meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, serta berkomitmen untuk
menjadi pribadi yang lebih baik.
Jamaah yang dimuliakan
Allah,
Imam Ibnu al-Qayyim
al-Jauziyah mengatakan dalam kitabnya Al-Risalah Al-Tabukiyah bahwa
hijrahnya hati adalah hijrah yang hakiki dan fundamental, karena perilaku fisik
akan mengikuti suara hati. Dengan hijrahnya hati, maka cinta hanya diberikan
kepada Allah, penghambaan hanya kepada Allah, dan tujuan hidup hanya kepada
Allah.
Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ
مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Muslim yang sejati
adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya, dan muhajir
(orang yang berhijrah) yang sejati adalah orang yang meninggalkan apa yang
dilarang oleh Allah.”
Hadits ini dengan
jelas menunjukkan bahwa hakikat hijrah adalah meninggalkan segala yang dilarang
oleh Allah SWT.
Hadirin Sidang Jumat
yang dimuliakan,
Mari kita teladani
semangat hijrah Rasulullah SAW dalam konteks kehidupan kita saat ini. Sebagai
pribadi, kita perlu berhijrah dari sifat-sifat buruk seperti iri hati, sombong,
dan dengki, menuju sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, dan tawakal.
Sebagai anggota
masyarakat, kita perlu berhijrah dari sikap individualisme dan hedonis menuju
sikap peduli dan gotong royong. Dan sebagai bangsa, kita perlu berhijrah dari
praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme menuju tata kelola pemerintahan
yang baik dan bersih.
Demikianlah khutbah
singkat ini, semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita
semua, sehingga kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa hijrah Rasulullah
SAW dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar