إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً
وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Segala puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu
wa ta’ala, atas karunia-Nya yang tak terhitung nilainya, terutama nikmat iman,
kesehatan, dan kesempatan sehingga kita bisa hadir memenuhi panggilan-Nya,
shalat Jum’at berjama’ah. Shalawat dan salam kepada baginda Rasulullah Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah membawa dan menjadi uswah dalam
beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Tidak terasa kita sudah berada pada penghujung
bulan Muharram 1446 hijriah. Tentu kita telah mendengar uraian peristiwa hijrah
dari mimbar-mibar, dan berbagai sumber informasi yang terpercaya. Dari berbagai
uraian tersebut, diyakini memiliki perspektif atau cara pandang yang beragam,
namun semua mengarah pada pemahaman umum, bahwa hijrah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersama sahabatnya ke Madinah adalah untuk mewujudkan peradaban Islam
yang agung.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Sebagaimana dipahami bahwa dakwah Rasulullah dan
para sahabat di Makkah sudah sangat maksimal. Semua pikiran, tenaga, dan waktu
dihabiskan untuk mengajak penduduk Makkah memeluk Islam. Hasilnya pun sungguh
menakjubkan, di antaranya, jazirah Arab terguncang dengan kedatangan Islam, dan
sebagian tokoh-tokoh Arab Quraisy sudah berhasil direkrut dan menjadi barisan
utama perjuangan Islam. Dakwah Rasulullah di Makkah sudah berhasil membangun pondasi/ aqidah
Islam, yang nilainya sangat mahal. Sudah memadai untuk menjadi modal awal
perjuangan.
Target dakwah selanjutnya adalah mewujudkan
kehidupan Islami, yang dibangun di atas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa
ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Q.S. Al A’raf: 96)
Ayat ini menjadi spirit dan obsesi Rasulullah
untuk mencari dan terus berdo’a kiranya Allah Subhanahu wa ta’ala menunjukkan
sebuah negeri yang memungkinkan kepemimpinan dan peradaban Islam terwujud. Rasulullah dan
para sahabat yakin bahwa misi besar Islam belum bisa diwujudkan di Makkah
karena masyarakat (jahiliyah) Makkah sangat resisten dalam menolak dan memberi perlawanan atas segala
pergerakan dakwah Islam.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Maka, atas petunjuk Allah Subhanahu wa ta’ala,
akhirnya Rasulullah hijrah ke Madinah untuk obsesi besar Islam. Dari titik
inilah Rasulullah mulai menata kehidupan umat sesuai dengan petunjuk wahyu,
mengubah sikap dan prilaku masyarakat jahiliyah menjadi Islami, dan selanjutnya
membangun sistem hidup di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam.
Di negeri baru ini, Rasulullah memulai dakwahnya
dengan hal yang sangat esensial, yaitu membangun masjid dan merekat ukhuwah
antara semua elemen masyarakat Madinah. Fungsi masjid adalah untuk menguatkan jama’ah dan
kepemimpinan, dan ukhuwah Islamiyah untuk memadamkan ashabiyah, dendam dan
perang saudara yang berkepanjangan di negeri itu. Allah Subhanahu wa
ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ
مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى
الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا
مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain
kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan
orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. At Taubah : 18)
Ibnu Katsir mengutip perkataan Imam Ahmad, dari
Abu Said al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ
الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى (إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ) الآيَةَ
“Jika kamu melihat seseorang terbiasa pergi ke
masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman”. Allah berfirman: “Yang memakmurkan
masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
akhir”. (Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Mardawaih al-Hakim
dalam Mustadrak-nya)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Profesor Buya Hamka mengungkapkan, bahwa pokok
urusan Rasulullah setelah hijrah ke Madinah adalah membangun jama’ah kaum
muslimin. Pokok urusan terbangunnya sebuah jama’ah adalah pertemuan yang
disusun oleh kewajiban beragama, shalat lima waktu berjama’ah di masjid. Pada setiap
shalat berjama’ah, umat diorientasikan pada tujuan yang sama, yaitu langsung
kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari sanalah Rasulullah dan jama’ahnya
membicarakan dakwah amar makruf nahyi munkar.
Selanjutnya dalam menguatkan ukhuwah imaniyah di antara
penduduk Madinah, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan sebuah
hadits yang kita sudah pahami bersama:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا
السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا
بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Dari ‘Abdullah bin Salâm, aku mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, saat baru tiba di Madinah: “Wahai
sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim,
shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk
Surga dengan sejahtera.”
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Sungguh luar biasa seruan nabi pada hadits di ini.
Yang pertama, perintah menyebarkan salam bermakna bahwa mulailah hubungan atau
pertemuan sesama manusia itu dengan saling mendo’akan untuk selamat.
Seruan Rasulullah ini memnggambarkan bahwa Islam
itu agama damai, membawa misi keselamatan dan rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى
تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ
إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Tidak akan masuk surga sampai kalian beriman,
dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku
tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai?
Sebarkanlah salam di antara kalian!”
Berikutnya adalah perintah memberi makan. Secara
bahasa perintah ini adalah memberi makan yang lapar, karena banyak pendatang
baru di Madinah yang membutuhkan makanan. Namun, secara maknawi, perintah ini adalah untuk
menghidupkan ta’awun, solidaritas terhadap sesama, karena manusia adalah makhluk
sosial yang saling membutuhkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi jaminan
kecintaan dan kasih sayang di antara mereka yang saling memberi, dengan
sabdanya:
تَهادُوا
تَحابُّوا
“Saling memberi hadiahlah kalian; niscaya
kalian akan saling mencintai” HR. Al Bukhari (Al Adab, 594) dan Abu Ya’la (6148)
Ta’awun dan solidaritas yang dibangun Rasulullah terbukti
mampu melunakkan hati dan menghidupkan persaudaraan, yang sebelum itu
masyarakatnya bermusuhan berubah menjadi cinta damai berkasih sayang karena
Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,
Seruan selanjutnya adalah menghidupkan
silaturrahim. Setidaknya ada dua keutamaan dari perintah ini, sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
مَنْ
سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ،
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya
dan dipanjangkan usianya, hendaklah menyambung hubungan kekerabatan
(silaturahim)” (HR. Bukhari dan Muslim)
Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bertanya pada para sahabat, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang
lebih besar pahalanya daripada shalat dan puasa?” “Tentu saja,” jawab mereka.
Beliau kemudian menjelaskan: “Engkau damaikan yang
bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali
saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan
mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar
pahalanya. Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan
rezekinya, hendaklah ia menyambungkan silaturahmi” (HR Bukhari &
Muslim)
Terakhir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam menyerukan “wa shallu billaili wannasu niyam”, bangunlah kalian shalat
tahajjud ketika manusia sedang tidur. Nilai yang diperoleh bagi orang yang rutin
tahajjud, sebagaimana telah dijelaskan pada surah Al Muzzammil, ayat 5 dan 6:
إِنَّا
سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu
perkataan yang berat”.
إِنَّ
نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah
lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”.
Inilah tatanan kehidupan yang dibangun Rasulullah
periode awal hijrah, yang secara revolusioner mampu mengubah Madinah menjadi
sebuah negeri yang penduduknya beriman dan bertaqwa, yang di kemudian hari
bertransformasi ke seluruh dunia. Peradaban Islam Madinah menjadi inspirasi
lahirnya peradaban baru yang mengangkat harkat dan martabat umat manusia selama
berabad-abad lamanya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Sumber : https://hidayatullah.or.id/khutbah-jumat-menyerap-hikmah-transformasi-islam-periode-awal-hijrah/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar