Oleh : Ustadz Asep Jamaludin Azzahied, Sekretaris
LBM NU Jember
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي
هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ
وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ
رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى
الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا
سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah shalat Jumat hadakumullah,
Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini
kita masih diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk bisa
menunaikan ibadah shalat jum’at di bulan Rajab yang mulia ini. Pada kesempatan
ini khatib akan mengajak kepada jamaah, khususnya kepada khatib sendiri untuk
senantiasa taqwa kepada Allah SWT, diantara refleksi taqwa kepada Allah SWT
ialah dengan mengagungkan syiar-syiarNya (kebesaran Allah). Diantara syiar
Allah SWT ialah terjadinya peristiwa besar yang istimewa, yaitu Isra’ Mi’raj
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Oleh karena itu, sebagai umat Islam, seharusnya
mengetahui bagaimana kisah perjalanan Nabi dalam ber Isra’ Mi’raj? Dan
pelajaran apa yang dapat diambil dari peristiwa yang hanya terjadi satu kali
dalam sejarah peradaban manusia, supaya dengan hal tersebut ketaqwaan dan
keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin meningkat?
Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam surat
Isra’ ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي
بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsho yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
QS. al Isra’ (17): 1.
Imam Bukhari menceritakan perjalanan Isra’ Mi’raj
Nabi Muhammad di dalam Shahih Bukhari, Juz 5 halaman 52. Yang kesimpulannya
adalah:
Suatu hari Nabi berada di dalam kamar, dalam
keadaan tidur, kemudian datanglah malaikat mengeluarkan hati Nabi dan mencuci
hatinya, kemudian memberikan emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi
dikembalikan sebagaimana semula. Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’
dengan mengendarai Buraq diantar oleh malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke
Masjdil Aqsha.
Setelah itu beliau bermi’raj hingga langit dunia,
kemudian terdapat pertanyaan, “Siapa ini?” Jibril menjawab: “Jibril.” “Siapa
yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. “Selamat datang, sungguh
sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.” Di langit
dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, Jibril menunjukkan
bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi.
Lalu Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua,
di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa ‘alaihimassalam. Di langit
ketiga, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di langit
keempat, Nabi bertemu dengan Nabi Idris alaihissalam, di langit kelima Nabi
Muhammad bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihissalam, di langit keenam, Nabi
Muhammad bertemu dengan Nabi Musa alaihissalam. Nabi Musa menangis karena Nabi
Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi
Musa alaihissalam sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad
bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratil Muntaha,
tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala. Kemudian
Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu Baitullah di langit ketujuh yang arahnya
lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk
untuk berthawaf di dalamnya.
Kemudian Nabi Muhammad bertemu dengan Allah subhanahu
wata’ala. Allah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan shalat fardlu
sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali
pulang.
Dalam perjalanan, Nabi Muhammad bertemu dengan
Nabi Musa alaihissalam. Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak
akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan,
umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali
pada Allah subhanahu wata’ala.
Yang perlu dipahami, hikmah dalam masalah Mi’raj
Nabi di sini ialah:
Dikisahkan bahwa Nabi bolak-balik dari tempatnya
di atas sidratul muntaha ke tempat Nabi Musa di langit ke tujuh, lalu kembali
ke atas lagi untuk memohon keringanan. Dalam riwayat-riwayat sahih yang kita
dapati bahwa yang naik turun adalah Nabi Muhammad. Beliau naik ke tempat ia
menerima wahyu dan turun ke tempat Nabi Musa lalu naik lagi ke tempat menerima
wahyu sebelumnya, dan itu terjadi berulang-ulang. Tempat yang dimaksud dalam
Hadits adalah tempat Nabi sendiri, bukan tempatnya Allah yang sering diasumsikan.
Demikianlah para ulama Ahlussunnah seluruhnya
memahami peristiwa Isra’-Mi’raj. Ketika mereka menceritakan kisah “tawar
menawar” jumlah shalat sebagaimana riwayat Imam Bukhari berikut ini:
فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ،
فَأَشَارَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: أَنْ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ، فَعَلاَ بِهِ إِلَى
الجَبَّارِ، فَقَالَ وَهُوَ مَكَانَهُ: يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنَّا فَإِنَّ أُمَّتِي
لاَ تَسْتَطِيعُ هَذَا
“Kemudian Nabi menoleh ke arah Jibril seakan
bermusyawarah tentang hal itu. Kemudian Jibril mengisyaratkan pada beliau: “Ya,
bila Anda menghendaki [permohonan untuk dikurangi].” Lalu Nabi naik pada Tuhan
sedangkan ia di tempatnya dan berkata: Ya Tuhan, ringankanlah dari kami.
Sesungguhnya umatku tak mampu melakukan ini”. (HR. Bukhari).
Para ulama menjelaskan bahwa kalimat “Wahuwa
makânahu” dalam hadits di atas, bukan berarti bahwa Allah ada di tempat
itu, tetapi Nabi-lah yang berada di tempatnya semula meneriwa wahyu shalat 50
kali sehari. Imam al-Hafidz Al-Qasthalani menjelaskan:
فَقَالَ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ (وَهُوَ مَكَانَهُ) أي فِيْ مَقَامِهِ الأَوَّلِ
اَلَّذِيْ قَامَ فِيْهِ قَبْلَ هَبُوْطِهِ
“Dia berada di tempatnya, maksudnya Nabi
Muhammad berada di tempatnya yang awalnya di tempati sebelum turunnya.” (al-Qasthalani,
Irsyâd as-Sârî Lisyarh Shahîh al-Bukhârî, juz X, halaman 449).
Demikian juga Imam al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan
makna “tempat” di hadits Mi’raj itu dengan menukil pernyataan Imam al-Khattabi
lalu menguatkannya sebagaimana berikut:
قَالَ الْخَطَّابِيُّ… وَالْمَكَانُ لَا
يُضَافُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى إِنَّمَا هُوَ مَكَانُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِهِ الْأَوَّلِ الَّذِي قَامَ فِيهِ قَبْلَ
هُبُوطِهِ انْتَهَى وَهَذَا الْأَخِيرُ مُتَعَيَّنٌ وَلَيْسَ فِي السِّيَاقِ
تَصْرِيحٌ بِإِضَافَةِ الْمَكَانِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
“Al-Khattabi berkata: … Tempat itu tak
disandarkan pada Allah Ta’ala, sesungguhnya itu tak lain adalah tempat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat berdirinya sebelumnya sebelum turun.
Ini akhir nukilan al-Khattabi. Keterangan terakhir ini sudah pasti dan dalam
konteks hadits sama sekali tak ada penjelasan penisbatan tempat itu pada Allah
Ta’ala”. (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz XIII, halaman 484)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di dalam menguatkan keimanan kita melalui
peristiwa Isra’ Mi’rajnya Nabi, maka setidaknya ada 3 pelajaran penting yang
dapat kita ambil untuk mengukuhkan pengetahuan dalam bidang Aqidah.
Pertama, Peristiwa
Isra’ dan Mi’raj ini merupakan tanda akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang
tidak terhingga, sehingga dengan kekuasaan-Nya ia telah memperjalankan
hamba-Nya dalam semalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan dari Masjidil
Aqsha ke Sidratul Muntaha sampai kemudian kembali lagi ke bumi.
Kedua, Pelajaran
tentang Tauhid, bahwa peristiwa percakapan Allah subhanahu wa ta’ala dan Nabi
tidak terjadi pada sebuah tempat yang kita bayangkan, karena Allah subhanahu wa
ta’ala tidak sama dengan makhluk apapun.
Ketiga: Isra’ Mi’raj
mengajarkan kepada kita bahwa ibadah sholat 5 waktu kewajibannya melalui
perintah Allh subhanahu wa ta’ala secara langsung tanpa melalui malaikat
Jibril.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa
menambahkan keimanan kepada kita untuk menjadikan peristiwa Isra Mi’raj ini
sebagai sarana kita untuk menambah keimanan dan keilmuan kita, serta menambah
kecintaan kita kepada Masjidil Aqsha, dalam perjuangan membebaskan masjid Aqsha
dari tangan-tangan zionis Yahudi. Amiin amiin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Sumber : https://pcnujember.or.id/2020/03/20/khutbah-jumat-hikmah-miraj-allah-tidak-bertempat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar