اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ،
وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ
الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ، وَسَقَى أَرْبَابَ
مُعَامَلَاتِهِ مِنْ لَذِيْذِ مُنَاجَتِهِ شَرَابًا عَذْبَ الْمَذَاقِ،
فَأَقْبَلُوْا لِطَلَبِ مَرَاضِيْهِ عَلَى أَقْدَامِ السَّبَاقِ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ
الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ
أَشْهَدُ
أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً صَفَا
مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاَةَ مِنْ نَارٍ شَدِيْدَةِ
الْإِحْرَاقِ، وَأَنْ يَهُوْنَ بِهَا عَلَيْنَا كُرْبُ السِّيَاقِ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفُ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ،
اَلَّذِيْ أُسْرِيَ بِهِ عَلَى الْبُرَاقِ، حَتَّى جَاوَزَ السَّبْعَ الطِبَاقَ
أَمَّا
بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ،
بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ
كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ أَيْضًا: يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Memanjatkan puji
syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad saw merupakan kewajiban
yang harus disampaikan oleh setiap khatib dalam khutbahnya. Selain itu khatib
juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan mengingatkan jamaah tentang
wasiat ketakwaan. Oleh karenanya pada momentum khutbah kali ini, khatib
mengajak kepada seluruh jamaah untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kepada
Allah dan menyampaikan shalawat pada Rasulullah sekaligus meningkatkan
ketakwaan kepada Allah.
Bagaimana cara
meningkatkan takwa? Yakni dengan senantiasa lebih semangat lagi menjalankan
segala perintah Allah dan sekuat tenaga meninggalkan segala yang dilarang
oleh-Nya. Dengan upaya inilah, kita akan mampu terus berada pada jalur yang
telah ditentukan oleh agama sehingga tidak melenceng dan tersesat ke jalan yang
tidak benar.
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Memang kehidupan kita
di dunia ini seperti melewati sebuah jalan dengan lintasan penuh dengan
dinamika dan tantangan. Medan terjal yang harus terus kita daki, hingga medan
menurun dan mendatar, tak boleh membuat kita terlena. Perjalanan kita menyisakan
masa lalu sebagai pengalaman, masa kini sebagai kenyataan, dan masa yang akan
datang sebagai harapan. Sehingga kita butuh rambu-rambu agar kita senantiasa
lancar dan selamat sampai ke tujuan dan ketakwaan lah rambu-rambu yang mampu
memandu kita berada pada jalan yang benar dan bekal yang paling baik dalam
perjalanan.
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ
التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Berbekallah karena
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai
orang-orang yang mempunyai akal sehat,” QS Al-Baqarah (2): 197.
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Dalam sebuah
perjalanan panjang, kita haruslah menyempatkan diri berhenti istirahat untuk
mengumpulkan kembali semangat dan tenaga guna melanjutkan perjalanan. Begitu juga
dalam kehidupan di dunia, kita mesti harus menyediakan waktu untuk melakukan
introspeksi, evaluasi, menghitung, sekaligus kontemplasi yang dalam bahwa Arab
disebut dengan muhasabah. Pentingnya muhasabah ini, Sayyidina Umar bin Khattab
pernah bertutur:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ
تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا
“Hisablah diri
(introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk
menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat
akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup
di dunia.”
Dalam sebuah hadits
riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ
لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى
عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas
(sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta
beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah
orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.”
Sementara dalam
Al-Qur’an Allah juga telah mengingatkan pentingnya melakukan introspeksi diri
dengan melihat apa yang telah kita lakukan pada masa lalu untuk mengahadapi
masa depan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr (59): 18,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ
اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Dari perintah Allah
dan Rasul serta nasihat dari para sahabat, kita bisa mengambil beberapa catatan
penting tentang manfaat dari introspeksi diri ini. Setidaknya, ada 5 manfaat
yang bisa kita rasakan dari upaya melakukan ‘charging’ (mengecas) semangat
hidup melalui introspeksi diri ini.
Pertama, sebagai wahana mengoreksi diri. Dengan introspeksi diri, kita akan
mampu melihat kembali perjalanan hidup sekaligus mengoreksi manakah yang paling
dominan dari perjalanan selama ini. Apakah kebaikan atau keburukan, apakah
manfaat atau mudarat, atau apakah semakin mendekat atau malah menjauh dari
Allah swt. Kita harus menyadari bahwa semua yang kita lakukan ini harus
dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ
وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Pada hari ini Kami
tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi
kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” Qs.
Yasin (36): 65.
Kedua, upaya memperbaiki diri. Dengan introspeksi diri, kita akan mampu
melihat kelebihan dan kekurangan diri yang kemudian harus diperbaiki di masa
yang akan datang. Dengan memperbaiki diri, maka kualitas kehidupan akan lebih
baik dan waktu yang dilewati juga akan senantiasa penuh dengan manfaat dan
maslahat bagi diri dan orang lain.
Ketiga, momentum mawas diri. Diibaratkan ketika kita pernah memiliki
pengalaman melewati jalan yang penuh lika-liku, maka kita bisa lebih
berhati-hati ketika akan melewatinya lagi. Mawas diri akan mampu menyelamatkan
kita dari terjerumus ke jurang yang dalam sepanjang jalan. Allah berfirman:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا
الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْاۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى
رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ
“Taatlah kamu
kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah! Jika kamu
berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan
(ajaran Allah) dengan jelas.”
Keempat, memperkuat komitmen diri. Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Oleh
karenanya, introspeksi diri menjadi waktu untuk memperbaiki diri dan
berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang telah dilakukan pada
masa lalu. Jangan jatuh di lubang yang sama. Buang masa lalu yang negatif,
lakukan hal positif hari ini dan hari yang akan datang. Rasulullah bersabda:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ
أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ
مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
“Siapa saja yang
hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung.
Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang
yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia
orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).
Kelima, sebagai sarana meningkatkan rasa syukur dan tahu diri. Kita harus
sadar sesadar-sadarnya bahwa keberadaan kita sampai dengan saat ini sama sekali
tak bisa lepas dari nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan Allah. Oleh
karenanya, introspeksi diri akan membawa kita mengingat nikmat yang tak bisa dihitung
satu persatu. Jangan sampai kita menjagi golongan orang-orang yang tak tahu
diri dan kufur kepada nikmat Allah. Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an
Surat Ibrahim (14): 7,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Dari uraian ini, mari
kita senantiasa melakukan introspeksi diri setiap saat. Terlebih saat ini kita
berada di penghujung tahun 2024 dan akan memasuki tahun baru 2025 yang menjadi
waktu ideal untuk melakukan introspeksi diri. Semoga kita senantiasa
mendapatkan petunjuk yang terbaik dari Allah dan mampu melihat perjalanan tahun
lalu untuk menjalani tahun yang akan datang. Amiin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا
الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ
وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ،
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ
الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber: https://kemenag.go.id/islam/khutbah-jumat-manfaat-introspeksi-diri-di-akhir-tahun-wEDs0

Tidak ada komentar:
Posting Komentar