Oleh : ZAHARA
ARRAHMA
Kisah hidup
Abdurrahman bin Auf adalah satu kisah sahabat Nabi yang patut diamalkan
ceritanya. Dia adalah sosok pedagang kaya raya nan dermawan yang tak pernah
lelah untuk bersedekah pada yang membutuhkan. Sekilas informasi, Abdurrahman
bin Auf menjadi orang kedelapan yang resmi memeluk agama Islam. Dengan bantuan
Abu Bakar As-Shiddiq, ia pun diislamkan setelah Abu Bakar. Selain itu, ia
termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang
pertama kali masuk Islam.
Abdurrahman bin Auf
adalah salah satu sahabat Nabi yang dijamin kepastiannya untuk masuk surga. Hal
ini dijelaskan ketika Abdurrahman bin Auf pulang dari Syam, Rasulullah berdoa
untuknya agar Abdurrahman dimasukkan ke surga. Kemudian turunlah malaikat
Jibril, ia berkata, “Sesungguhnya Allah berkata, ‘Kirimkanlah salam-Ku kepada
Abdurrahman bin Auf dan sampaikan kabar gembira bahwa ia masuk surga.”
Berikut kisah singkat
mengenai hidup seorang Abdurrahman bin Auf, seorang pedagang makmur, yang penuh
akan hikmah.
Kisah Abdurrahman
bin Auf, sahabat nabi Muhammad yang terkaya
Dikutip dari buku Akidah
Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI karya H Aminudin dan Harjan Syuhada,
Abdurrahman bin Auf lahir di Makkah, 10 tahun setelah tahun Gajah. Yang
artinya, ia lebih muda dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW. Ayahnya adalah
Auf bin Abdu Auf bin Abdu bin Al-Harits Az-Zuhri, seorang tokoh terkemuka di
desa ibunda Rasulullah SAW. Sedangkan ibunya bernaman Asy-Syifa binti Auf
Az-Zuhriyah.
Mengutip dari buku “100
Kisah Fantastis Dari Al-Qur’an dan Hadis” oleh Walidah Ariyani dan Tim Win,
tertulis sebuah kisah Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat Nabi yang dijamin
masuk surga. Kisah salah satu sahabat Rasulullah ini berawal dari sedekah rutin
yang dilakukannya, mengarah pada limpahan kekayaan yang tak terhitung.
Melansir dari detikcom,
sahabat Nabi satu ini sangatlah berbakat dalam berdagang. Hasil dari kegiatan
berdagangnya itu, ia dapat memiliki kekayaannya yang begitu melimpah. Hingga ia
wafat, kekayaan tersebut ditotalkan berjumlah 3,2 juta dinar atau sekitar 6
triliun rupiah. Sementara itu, Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah Wan
Nihayah mencatat, kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin 'Auf meliputi
1,000 ekor unta, 100 ekor kuda, dan 3,000 ekor kambing di Baqi'.
وَأَعْتَقَ
خَلْقًا مِنْ مَمَالِيكِهِ ثُمَّ تَرَكَ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ مَالًا جَزِيلًا،
مِنْ ذَلِكَ ذَهَبٌ قُطِعَ بِالْفُئُوسِ حَتَّى مَجَلَتْ أَيْدِي الرِّجَالِ،
وَتَرَكَ أَلْفَ بَعِيرٍ وَمِائَةَ فَرَسٍ، وَثَلَاثَةَ آلَافِ شَاةٍ تَرْعَى بِالْبَقِيعِ،
وَكَانَ نِسَاؤُهُ أَرْبَعًا فَصُولِحَتْ إِحْدَاهُنَّ مِنْ رُبْعِ الثَّمَنِ
بِثَمَانِينَ أَلْفًا، وَلَمَّا مَاتَ صَلَّى عَلَيْهِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ،
وَحَمَلَ فِي جِنَازَتِهِ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، وَدُفِنَ بِالْبَقِيعِ عَنْ
خَمْسٍ وَسَبْعِينَ سَنَةً
Artinya: “Dia
membebaskan beberapa budaknya, kemudian setelah itu meninggalkan harta yang
banyak, termasuk emas yang dipotong dengan kapak sehingga melukai tangan para
pria. Dia meninggalkan seribu unta, seratus kuda, dan tiga ribu domba yang
merumput di Baqi'. Dia memiliki empat istri, dan salah satunya berdamai dari
seperempat harga dengan delapan puluh ribu. Ketika dia meninggal, Utsman bin
Affan menyalatkan jenazahnya, Saad bin Abi Waqqash mengusung jenazahnya, dan
dia dimakamkan di Baqi' pada usia 75 tahun.” [Ibnu Katsir, al-Bidayah
wa al-Nihayah, jilid VII, [Beirut; Dar al-Fikr, tt], halaman 164.
Abdurrahman bin Auf
selalu berperan dalam peristiwa-peristiwa besar, seperti Perang Badar, Uhud,
serta Tabuk. Ia membantu jalannya perang tersebut dengan melibatkan kekayaan
yang dimilikinya. Tanpa ragu, ia menyumbangkan bantuan logistik hingga hewan
kepada Nabi dan kaum Muslimin yang sedang berjuang menegakkan ajaran Allah SWT.
Oleh karenanya, Abdurrahman bin Auf adalah sosok sahabat Rasulullah yang
dikenal terkaya, baik secara materi dan juga hati
Kisah Abdurrahman
bin Auf yang membeli kurma busuk dan berharap ingin hidup miskin
Dikutip dari buku Kisah
10 Pahlawan Surga oleh Abu Zaein, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu
sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia dikenal sebagai orang yang cerdas. Dalam
kesehariannya, ia berkegiatan sebagai pedagang yang sukses. Hasil dagangannya
berlimpah membuat Abdurrahman bin Auf dapat mengumpulkan harta kekayaannya.
Meskipun begitu,
dengan jumlah kekayaannya yang melimpah dan hidup yang serba berkecukupan, dia
justru sedih dan menangis. Sebab, ia merasa khawatir bahwa kekayaannya itu akan
menjadikannya penghuni surga terakhir. Oleh karenanya, ia berharap ingin hidup
sebagai orang miskin.
“Suatu ketika
Rasulullah SAW berkata, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga terakhir karena
terlalu kaya, sehingga dihisabnya paling lama. Mendengar hal tersebut,
Abdurrahman bin Auf pun berpikir keras, bagaimana caranya agar ia kembali
menjadi miskin sehingga dapat memasuki surga lebih awal,” tuturnya.
Di lain hari, ada
sebuah kisah yang menceritakan bagaimana Abdurrahman bersedekah dengan membeli
kurma busuk, berharap ingin segera menjadi orang miskin. Kisah ini terjadi
semasa Abdurrahman datang ke Madinah. Saat itu terjadi Perang Tabuk. Segala
kebutuhan pangan berada dalam jumlah yang menyulitkan penduduk di sekitar.
Sehingga, Rasulullah SAW pun berseru untuk berinfak bagi siapapun yang
berkecukupan, untuk membantu sesama Muslim yang kesulitan.
Mendengar hal itu,
Abdurrahman bin Auf tanpa rasa ragu dan pikir panjang, langsung memberikan
infak sebesar 4.000 dinar yang setara dengan 1,7 kilogram emas sebagai bantuan
logistik Perang Tabuk. Yang kemudian Rasulullah bersabda, “Semoga Allah
memberkati apa yang telah engkau tinggalkan dan apa yang engkau sumbangkan.”
Tak sampai di situ,
setelah Perang Tabuk, banyak kurma di Madinah yang menjadi busuk dikarenakan
ditinggal perang oleh para sahabat Nabi.
Abdurrahman bin Auf
menjual semua hartanya untuk membeli semua kurma busuk para sahabat dengan
harga yang sama dengan kurma yang bagus. Para pedagang kurma tersebut pun
bersorak gembira karena dagangannya tetap terjual, begitu pun dengan
Abdurrahman bin Auf yang senang karena hartanya semakin berkurang dan harapan
jatuh miskinnya kembali hadir.
Namun, tak lama
kemudian, datanglah seorang utusan dari Yaman. Orang itu mencari kurma busuk
untuk diolah sebagai obat penyakit menular di negerinya. Sehingga, ia memborong
kurma busuk milik Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga
kurma biasa.
Segala sedekah yang ia
lakukan selama ini, selain untuk amalan juga sebagai upaya agar jatuh miskin.
Seperti bagaimana Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan seluruh hartanya
pada zaman Nabi. Setelah itu, ia kembali bersedekah sebanyak 40 ribu dinar yang
merupakan hasil dari kegiatan berdagangnya.
Kisah singkat
Abdurrahman bin Auf yang sedekahkan seluruh harta demi kepentingan agama
Abdurrahman bin Auf
adalah pedagang kaya raya yang juga disebut dermawan. Segala jumlah harta
kekayaan yang dimilikinya, tidak membuatnya menjadi orang yang tamak dalam
berdagang. Saat berdagang, Abdurrahman bin Auf selalu menghindari penjualan dan
pembelian barang-barang haram. Ia juga tidak menikmati keuntungan hasil
berdagangnya untuk seorang diri, melainkan untuk keluarga serta sesama Muslim
yang berjuang di jalan Allah SWT.
Di kalangan penduduk
Madinah waktu itu, ia dianggap sebagai sosok yang begitu dermawan. Usaha
kebaikan yang diperbuatnya untuk mencari ridho Allah SWT. Kebaikannya dalam
bersedekah, membuatnya begitu disanjung oleh banyak orang. Saking melimpah
kekayaannya, penduduk Madinah berkata bahwa ⅓ harta Abdurrahman bin Auf
dipinjamkan pada mereka, ⅓ untuk membayar utang-utang mereka, dan ⅓ lagi
digunakan untuk bersedekah pada mereka.
Mengutip dari buku “Dan
‘Arsy pun Berguncang: Sirah unik Sahabat-sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW” oleh
Ahmad Husain Fahasbu, kebaikan sedekah Abdurrahman bin Auf tidaklah sekadar
dilakukan semasa Rasulullah SAW hidup. Sepeninggal Nabi, ia lah yang menjadi
penanggung biaya dari segala kebutuhan para istri Rasulullah. Apapun yang
dibutuhkan mereka, maka Abdurrahman bin Auf akan selalu sedia membantunya.
Suatu waktu,
Abdurrahman bin Auf menjual tanahnya dengan harga 40 ribu dinar. Kemudian, ia
segera membagikan uang hasil penjualannya itu kepada fakir miskin dan penduduk
Bani Zuhrah, desa dari ibu Rasulullah. Bahkan, masing-masing istri Rasulullah
pun juga mendapat bagian dari uang tersebut.
Jumlah kekayaan
Abdurrahman bin Auf memang begitu melimpah. Bisnis ternak dan tani yang selalu
sukses dan subur. Sedekah yang selalu diberikannya tidaklah membuat kekayaan
tersebut berkurang bahkan menyurut. Justru ia semakin mendapatkan kekayaan yang
semakin meningkat. Bahkan di akhir hayatnya, ia sempat berpesan untuk
menyedekahkan hartanya sejumlah 5 ribu dinar untuk diberikan pada hal-hal yang
memperjuangkan kebenaran ajaran Allah SWT.
Rasulullah SAW
melihatnya pun juga takjub, hingga ia pun bertanya pada Abdurrahman, “Wahai
Abdurrahman bin Auf, mengapa engkau infakkan seluruh hartamu? Lalu apa yang
telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Ia menjawab,
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan keluargaku yang jauh lebih berharga dari
semua harta itu ya Rasulullah, yaitu Allah dan Rasul-Nya.”
Demikian kisah
Abdurrahman bin Auf yang dikenal karena kekayaannya yang melimpah. Sebagai
orang paling kaya di zaman nabi, ia pun selalu membagi-bagikan hartanya untuk
bersedekah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar