Oleh : Luqmanul Hakim Sudahnan, Lc., M.A.
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ،
نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أيها الناس رحمكم الله، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللِه فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…
Harta merupakan pilar kehidupan dan landasannya,
semua manusia membutuhkannya bahkan para Nabi dan Rasul, oleh karena itu Allah
memerintahkan manusia untuk bekerja mencari nafkah, Allah Azza wajalla
berfirman,
فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Apabila salat telah dilaksanakan, maka
bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah (berupa pekerjaan
dan harta), dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kalian beruntung." QS.
Al-Jumu’ah (62): 10.
Namun yang patut untuk diwaspadai; harta sangat
berpotensi untuk menjadi batu ujian bagi seorang hamba, hal ini sebagaimana
dipaparkan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam,
إِنَّ
لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
"Sesungguhnya setiap umat ada ujiannya,
dan ujian bagi umatku adalah harta." HR. Tirmizi.
Fitnah harta; dapat merubah orentasi seorang hamba
di dunia, dapat menjadikannya cinta harta dan dunia, sehingga menjadikannya
budak harta, membanting tulang untuk mengejar dan mengumpulkannya, tanpa
mempedulikan sarana yang digunakannya, bahkan sampai menghalalkan segala cara,
hingga ia lalai dari tujuan penciptaannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda,
لَيَأْتِيَنَّ
علَى النَّاسِ زَمانٌ، لا يُبالِي المَرْءُ بما أخَذَ المالَ، أمِنْ حَلالٍ أمْ
مِن حَرامٍ
"Sungguh akan datang suatu masa, manusia
tidak peduli sumber hartanya, apakah dari yang halal atau yang haram?"
HR. Bukhari.
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…
Diantara hal perlu diperhatikan dari nafkah yang
kita upayakan dan dari rezeki yang kita kumpulkan, hendaknya kita memperhatikan
kehalalan dan kemurniannya dari dosa, sebab Allah Azza wajalla memerintahkan
kepada kita untuk mengkonsumsi barang-barang yang halal, Allah berfirman,
وَكُلُوا
مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ
بِهِ مُؤْمِنُونَ
"Dan makanlah dari apa yang Allah berikan
kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang
kamu beriman kepada-Nya." QS. Al-Maidah (5): 88.
Sesungguhnya rezeki yang halal nan baik dapat
mewariskan kesalehan dan ketakwaan bagi seorang hamba, sebab perangai manusia
dan akhlaknya terpengaruh dengan makanan dan minuman yang masuk ke dalam
tubuhnya, dan terpengaruh dengan apa yang menghiasi badannya,. Sebagian ulama
mengatakan:
"Merupakan fenomena yang sangat nampak; bahwa
orang-orang saleh dan bertakwa akan bertambah banyak pada masyarakat yang
memiliki kesadaran tinggi untuk mencari rezeki yang halal, dan memiliki
keinginan yang kuat untuk menjauhi harta yang syubhat, setiap daerah atau
negeri yang menyediakan makanan dan rezeki halal bagi masyarakatnya, maka akan
banyak juga muncul orang-orang saleh dari daerah atau negeri tersebut, demikian
juga sebaliknya, dalilnya adalah firman Allan Azza wajalla,
يَا
أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
"Wahai para Rasul! Makanlah dari (makanan)
yang baik (halal), dan kerjakanlah kebajikan." QS. Al-Mu’minun (23):
51.
Para ulama mengatakan, "Sesungguhnya Allah
mendahulukan menyebutkan memakan makanan yang halal daripada beramal saleh
dalam ayat diatas, hal itu merupakan peringatan bahwa memakan makanan yang
halal-lah yang membuahkan amal saleh bagi seorang hamba. Sebab, makanan yang
baik dan halal dapat mewariskan kebaikan bagi hati dan badan, sehingga amalan
menjadi baik pula, sebagaimana makanan yang buruk dan haram, dapat merusak hati
dan badan, sehingga dapat merusak amalan pula."
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…
Kehalalan makanan, minuman, pakaian, perhiasan dan
obat-obatan yang dikonsumsi seorang hamba dapat mewariskan kesucian jiwa,
kemurnian hati, dan kesalehan amalan, bahkan diterimanya amalan seseorang dan
dikabulkannya doa-doanya berkaitan erat dengan hal ini, Ibnu Rajab mengatakan,
أَنَّ الرَّسُلَ وَأُمَمَهُمْ
مَأْمُوْرُوْنَ بِالْأَكْلِ مِنَ الطَّيِّبَاتِ الَّتِي هِيَ الحَلَالُ
وَبِالْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَمَا كَانَ الأَكْلُ حَلَالًا فَالْعَمَلُ الصَّالِحُ
مَقْبُوْلٌ، فَإِذَا كَانَ الأَكْلُ غَيْرُ حَلَالٍ فَكَيْفَ يَكُوْنَ العَمَلُ مَقْبُوْلً؟ا
"Para Rasul dan umatnya diperintahkan
untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan melakukan amal saleh, jadi selama
seorang hamba mengkonsumsi makanan yang halal, maka ibadahnya diterima oleh
Allah, namun jika makanannya tidak halal, maka bagaimana Allah akan menerima
amal ibadahnya?”
Diantara dalil bagi ucapan Ibnu Rajab diatas
adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ
إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ
فَقَالَ :{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا
صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ :{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ
يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ
يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ
وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu
Thayib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan
sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang
diperintahkan-Nya kepada para Rasul dalam Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul!
Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal saleh.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga
berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang
telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan
tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang
ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat
tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal,
makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari
yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah
akan memperkenankan do’anya?" HR. Muslim.
Ibnul Haj Al-Maliki mengatakan, "Karena
banyaknya orang mengkonsumsi makanan yang haram, maka banyak pula terjadi
kezaliman di tengah masyarakat, dan banyak pula yang mendoakan kebinasaan
kepada pelaku kezaliman, namun sedikit dari doa tersebut yang dikabulkan oleh
Allah atau bahkan tidak ada yang dikabulkan… seandainya sebagian dari kaum
muslimin selamat dari mengkonsumsi makanan yang haram, maka niscaya doa-doanya
akan segera dikabulkan oleh Allah Azza wajalla."
Semoga Allah mengaruniakan kita rezeki yang
bermanfaat, yang dengannya akan menjaga kita dari berbagai keburukan dan
fitnah, aamiin...
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ
وَالْحِكْمَةِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ،
وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ
إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ
وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ
أيها الناس رحمكم الله، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللِه فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…
Sesungguhnya merebaknya fenomena hati sakit dan
kotor, lemahnya keimanan dan ketakwaan, dan sikap malas untuk beribadah di
tengah kaum muslimin; salah satunya disebabkan karena mengkonsumsi makanan yang
haram, baik haram dari sisi cara mendapatkannya ataupun haram dari sisi zat dan
barangnya.
Imam Ahmad pernah ditanya, "Apa obat bagi
hati yang sakit dan keras? Beliau menjawab, "Rezeki yang halal."
Sebagian para ulama mengatakan, "Hati akan menjadi lembut (dipenuhi
keimanan) dengan mengkonsumsi makanan yang halal”. Maimun bin Mihran
mengatakan, "Tidaklah seseorang menjadi orang yang bertakwa, sampai ia
melakukan muhasabah (mengintrospeksi dirinya) sama dengan seseorang
mengintrospeksi kawan bisnisnya, dan sampai ia tahu dari mana pakaiannya,
makanannya dan minumannya (sampai yakin kehalalannya)”.
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…
Sesungguhnya hidup ini sangat singkat, dan waktu
berlalu dengan sangat cepat, maka carilah rezeki yang halal, dan janganlah
mencari rezeki yang haram, sebab rezeki yang haram tidak berberkah,
mengakibatkan doa tidak diijabah, dan berpotensi menebarkan perselisihan dan
permusuhan. Harta yang haram; mencarinya dipenuhi dengan kesusahan dan
kecapekan, dan diakhiri dengan penyesalan, ingatlah yang dikatakan Ali bin Abi
Thalib ketika beliau ditanya tentang dunia, beliau mengatakan,
حَلَالُهَا
حِسَابٌ وَحَرَامُهَا عَذَابٌ
"Dunia itu (termasuk harta) halalnya
adalah hisab, dan haramnya adalah azab."
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ
یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟
عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ
لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ
إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا
وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ
المُسْلِمِيْنَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ
يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
Sumber : https://wahdahmakassar.or.id/artikel/rezeki-halal-sebab-keberkahan-hidup

Tidak ada komentar:
Posting Komentar