اَلْحَمْدُ للهِ العظِيمِ شَأْنُهُ الدَّائِمْ سُلْطانُهُ
الْحَمِيْمْ إِحْسانُهُ الْجَزِيْل اِمْتِنَانُه.
فَسُبْحانَ مَنْ أَطلَعَ شَمْسَ مَعْرِفَتِه فِي قُلُوْبِ
أَهْلِ مَحَبَّتِه. وَأَكْمَلَ عَلَيْهِمْ فَضْلَهُ وَإِحْسَانَه.
وَأَرْسَلَ غَيْثَ إِعانَتِهِ إِلَى قُلُوْبِ أَهْلِ
وِلَاَيتِه.
أَحَمَدُهُ سُبْحانَهُ على مَا أَوْلَاهُ مِنْ عَمِيْمِ
كَرَمِه وَوَاسِعِ إِحْسانِه.وَأَشْكُرُ شُكْرِيْ مِنْ مَنِّهِ فَكَيْفَ أَبْلُغُ
شُكْرَانَه.
وأشهدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ
شَهادَةً شاهِدَةً بِصِدْقِ شاهِدِها وإِيْقانِه. وأشهدُ أَنَّ سَيِّدَنا محمَّدًا
عَبْدُهُ ورَسُوْلُه الْمُطَهَّرُ سِرُّهُ وإِعْلَانُه نَبيٌّ أَظْهَرَ اللهُ بهِ
الْحَقَّ وأَبانَه. اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على عَبدِك ورَسُولِك مُحَّمدٍ وعَلى
آلِهِ وأَصْحَابِه بُدُوْرِ الدُّجَى ونُجُوْمِ الاِهْتِدْاء وَلُيُوْثِ الْعِدا
وسَحائِبِ النَّدَى الْهَتَّانَه .أمّا بعدُ. فَيآأَيُّها النَّاس اِتَّقُوا اللهَ
حَقَّ تُقاتِه ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنْتُم مُسلِمُون.
Hadirin Jam’ah Jum’at yang
berbahagia…
Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita
tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. dengan selalu berusaha
mejalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena dengan
iman dan ketakwaan kita bisa meraih ridha dari Allah Swt. Amin.
Perlu kita ketahui bersama bahwa Allah Swt. telah
menganugerahkan kepada kita semua sebagai manusia yaitu sesuatu yang begitu
berharga, bernilai tinggi, yang dapat mengahantarkan manusia mencapai kemuliaan
melebihi makhluk yang lainnya. Anugerah tersebut tak lain adalah akal fikiran.
Tanpa akal dan fikiran munusia hanyalah sosok makhluk yang tak lebih dari
seekor hewan, ia tak berbeda dengan kambing, kerbau, sapi, dan hewan-hewan yang
lain. Allah Swt. berfirman:
لَقَدْ
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”, QS. At-Tiin (95): 4.
Hadirin Jama’ah Jum’at yang
bersahaja…
Allah Swt. memberi anugerah yang berupa akal
kepada manusia untuk mengangkat derajat manusia. Maka dengan akal ia bisa
menemukan jalan, membedakan antara hitam dan putih, antara baik dan buruk, dan
membuatnya selamat atau celaka. Karena kita diberi akal yang cerdas, maka kita
dianugerahi fikiran agar menjadi pandai, cerdas dan pandai. Seperti yang telah
dijelaskan Rasulullah Saw. sebagaimana yang dalam sabda beliau:
اَلْكَيْسُ
مَنْ دانَ نَفْسَهُ وعَمِلَ لِما بَعْدَ الْمَوْتِ. وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ
نَفْسَهُ هَواهَا وتَمَنَّى علَى اللهِ.
“Orang
cerdas adalah orang yang mau memaksa diri beribadah dan beramal untuk (bekal)
setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang menuruti nafsu pada
keinginannya, sementara ia berharap (surga)
kepada Allah”, HR. Baihaqi.
Anugerah agung ini harusnya tidak kita sia-siakan.
Karunia berharga ini mestinya tidak kita biarkan berlalu tanpa guna. Kita harus
mensyukuri dengan menggunakannya sesuai tujuan penciptaannya. Kita harus
memafaatkan secara maksimal untuk menimba dan menuntut ilmu, khususnya ilmu
agama. Sebab, ilmu agama adalah kunci kebaikan seseorang. Rasulullah Saw.
bersabda:
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ.
“Barangsiapa
yang Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memintarkannya
dalam urusan agama”, HR Bukhari dan Muslim.
Hadirin jama’ah Jum’at yang
di rahmati Allah…
Usia remaja adalah usia yang sangat produktif
untuk menuntuk ilmu. Tubuh yang masih bugar dan akal fikiran yang masih tajam
harus terus diasah selagi kesempatan masih terbuka lebar. Tantangan zaman yang
akan dihadapi kelak tentunya lebih berat daripada masa sekarang. Generasi muda
sekarang harus bersiap menjadi generasi yang tangguh menatap gelombang badai
yang siap menghantam.
Generasi muda muslim zaman sekarang harus menjadi
pemimpin masa depan. Karena masa depan agama dan bangsa tergenggam di tangan,
terpikul di atas pundak generasi muda. Selagi pintu masih terbuka lebar,
tuntutlah ilmu sebanyak mungkin. Tapi, bukan hanya dicari dan di simpan.
Setelah di peroleh, ilmu juga harus diamalkan semaksimal mungkin. Allah Swt.
akan membuka pengetahuan baru tentang hal-hal yang belum diketahui. Rasulullah
Saw. bersabda:
مَنْ
عَمِلَ بِما عَلِمَ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ ما لَمْ يَعْلَمْ
“Barangsiapa
mengamalkan apa yang telah ia ketahui, niscaya Allah akan menganugerahkan
pengetahuan tentang apa yang belum ia ketahui”, HR. Abu Nu’aim.
Kepada para orang tua khususnya, melihat kenyataan
zaman yang kian rusak moralnya dan budaya hidup yang kian merosot, kita harus
memberikan perhatian lebih kepada anak-anak kita. Pengawasan yang lebih
terhadap pergaulan mereka agar tidak terjerembab dalam jurang kenistaan.
Sebagai orang tua, kiranya kita perlu belajar kepada Nabi Ya’qub As. Saat
mendekati ajal, beliau bertanya kepada putra-putra beliau perihal nasib agama
mereka sepeninggal beliau kelak. Akankah mereka memegang teguh agama yang
mereka selama ini diajarkannya, ataukah mereka akan kembali mengulangi
kesesatan? Kisah ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ
إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ
وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا
وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ.
“Adakah
kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata
kepada anak-anaknya, “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab,
“Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, dan
Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” QS. Al-Baqarah (2): 133.
Hadirin jama’ah Jum’at yang
berbahagia…
Dari kisah itu, kita tahu bahwa perhatian
terpenting orang tua kepada anaknya adalah pada masalah agama dan keselamatan
moral putra-putrinya. Bukan hanya nasib kehidupan duniawi saja, melainkan ilmu
dan adab sebagai bekal dalam menjalani hidup yang penuh rintangan dan
tantangan. Warisan harta benda cenderung membuat anak-anak kita tidak rukun
karena memperebutkannya, jika mereka tidak dibekali ilmu dan adab.
Sedangkan warisan ilmu akan menunjukkannya menjadi
generasi yang bermoral dan berbudi luhur. Rasulullah Saw. juga tidak
meninggalkan harta benda sebagai warisan untuk keluarga dan umatnya. Beliau
meninggalkan dua perkara yang akan menjadi penuntun umat sepanjang masa,
menunjukkan mereka pada jalan kebahagian Dunia dan Akhirat. Dua perkara itu tak
lain adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Rasulullah bersabda:
تَرَكْتُ
فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلّوُا ما تَمَسَّكْتُمْ بِهِما كتابَ اللهِ وسُنَّةَ
نَبِيِّهِ
“Aku
tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama kalian
berpegang teguh pada keduanya, yaitu: kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah”, HR. Malik.
Hadirin Jama’ah Jum’at yang
bersahaja…
Demikianlah khutbah Jumat pada kesempatan ini,
semoga kita selalu dianugerahi hidayah dan inayah oleh Allah Swt. dalam
menjalankan segala aktivitas hidup ini. Sehingga, kelak kita akan menjemput
keselamatan dan keberuntungan Dunia dan Akhirat. Menjemput ridha Allah Swt di
Akhirat Kelak. Amin.
أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ. وَلِكُلِّ
وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيها فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ أَيْنَ ما تَكُونُوا يَأْتِ
بِكُمُ اللهُ جَميعًا إِنَّ اللهَ علَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ. بارَكَ اللهُ لِي
ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ ونَفَعَنَا وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ
رَحِيمٌ.
Sumber: https://lirboyo.net/khutbah-jumat-pemuda-pemegang-estafet-agama-bangsa-negara/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar