Oleh: Azzam
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهْ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهْ. وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَخِيْرَتُهُ
وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهْ اَرْسَلَهُ رَبُّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنْ
وَحُجَّةً عَلَى الْعِبَادِ أَجْمَعِيْنْ. وَصَلَوَاتُ اللهِ وَسلَامُهُ عَلَيْهِ
وَآلِهِ الطَّيِّبِيْنْ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِيْنْ، مَا اتَّصَلَتْ
عَيْنٌ بِنَظَرْ وَوَعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرْ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرَا أَمَّا
بَعْدُ.
فَيا عباد
الله…أًوْصِيْكُمْ ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. وقال الله تعالى مذكرا بذلك:
يا أيها الذين آمنوا اتقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وقال أيضا: يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم من نفس
واحدة، وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء، واتقوا الله الذي تساءلون به
والأرحام، إن الله كان عليكم رقيبا.
Kaum muslimin yang
dirahmati Allah… Bertakwalah kalian kepada Allah dengan takwa yang berkualitas.
Hamba-hamba Allah,
tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya untuk beribadah, untuk taat dan untuk
mencintai pencipta-Nya, hal ini sebagaimana yang Allah firmankan dalam
al-Qur’an,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS.
Al-Dzariat (51): 56.
Allah SWT akan ridha
kepada hambanya jika hamba tersebut hanya menyembah-Nya saja dan tidak
menyekutukan dengan yang lain. Allah akan marah kepada hambanya ketika ia kufur
dan syirik menyembah selain Allah. Allah berfirman,
إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا
يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir
(ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridai
kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia Meridai kesyukuranmu itu.”
QS. Az-Zumar (39): 7.
Sesungguhnya seorang
mukmin jika memperhatikan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, pasti
dia akan melihat bahwa nikmat hidayah Allah dengan iman dan kemulian karena
Islam adalah nikmat yang paling besar serta yang paling mulia. Hal ini
sebagaimana Allah SWT berfirman,
يَمُنُّونَ
عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم بَلِ اللَّهُ
يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka merasa
berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa
berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang Melimpahkan nikmat
kepadamu dengan Menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.”
QS. Al-Hujurat (49): 17.
Kaum muslimin yang
dirahmati Allah…
Seorang mukmin yang di
dunia ini telah diberikan oleh Allah SWT nikmat Islam dan iman, tentu dia akan
takut jika ia terjatuh kedalam fitnah. Ia akan takut jika menyeleweng setelah
mendapat petunjuk. Ia akan takut jika tersesat setelah menjadi hamba yang istiqamah
dalam kebaikan. Takut terhadap hawa nafsunya. Takut terhadap musuh Allah yang
bernama Iblis dengan segala pengintaiannya yang mana iblis adalah musuh seorang
mukmin turun temurun dari ayahnya Nabi Adam As.
Allah nyatakan dalam
firman-Nya,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ
اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ
أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ
لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً
“Dan (ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka
mereka pun sujud kecuali iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia
mendurhakai perintah Tuhan-nya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya
sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah
(iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim.” QS. Al-Kahfi
(18): 50.
إِنَّ
الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ
لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sungguh, setan itu
musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan
itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang
menyala-nyala.” QS. Fatir (35): 6.
Maka seorang mukmin
hendaknya berusaha mencari keridhaan Allah. Mencari petunjuk Allah, serta
mencari hal-hal yang bisa memunculkan hidayah-Nya sehingga ia bisa
mendapatkannya. Dengan harapan ketika hidayah telah didapatkan akan terus
istiqamah di atas petunjuk. Selain itu supaya bisa bertemu dengan Allah dalam
keadaan yang terbaik.
Diantara yang menjadi
tanda seseorang mendapat hidayah Allah adalah:
Pertama, ia akan selalu istiqamah dalam kebaikan dan petunjuk. Seorang hambah
akan selalu dituntun oleh Allah untuk beramal shalih. Ia akan dimudahkan dalam
amalan sholeh, baik yang berupa amalan badan seperti shalat. Atau amalan harta
seperti infaq, zakat, atau sedekah. Atau amalan shalih yang lain seperti haji,
puasa, berbakti kepada orang tua dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah SWT,
وَمَن
يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
“Dan barangsiapa
menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang
agung.” QS. Al-Ahzab (33): 71.
Selain itu di dalam
sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا
اسْتَعْمَلَهُ فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ
“Jika Allah
menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan menggunakannya.” Lalu
ditanyakanlah pada beliau, “Bagaimanakah Allah menggunakannya wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dia akan memberinya taufiq untuk beramal shalih
sebelum dijemput kematian.” HR. Tirmidzi 2068.
Dalam hadits lain,
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang ‘siapakah manusia yang paling baik?’,
maka beliau menjawab,
مَنْ
خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Wahai Rasulullah,
siapa orang terbaik itu? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab:
“Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Hr. Tirmidzi 2251.
Kedua, adalah bilamana Allah berkehendak meberikan hamba rizki berupa ilmu
yang bermanfaat yang menuntun kepada kebaikan hamba-Nya. Ilmu itu kemudian akan
mengeluarkan dia dari gelapnya kebodohan dan kesesesatan. Bermanfaat atau
tidaknya sebuah ilmu itu ditandai dengan bertambahnya rasa takut seorang hamba
dengan Allah. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan,
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Diantara
hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” Qs. Fathir
(35): 28.
Allah SWT memberikan
keistimewaan kepada orang-orang yang berilmu dibanding yang lainnya,
قُلْ
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا
يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Katakanlah,
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima
pelajaran” Qs. Az-Zumar (39): 9.
Adanya ilmu, akan bisa
menjadi perantara terpenuhinya kebutuhan seorang hamba. Dengan ilmu, seseorang
bisa mengenal Tuhannya. Dengan ilmu, seorang bisa mengetahui batasan halal dan
haram pada agamanya. Sehingga dengan ilmu juga, seseorang memiliki kecerdasan
dalam menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya. Rasulullah bersabda,
مَنْ
يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang
Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama”, Hr.
Bukhari 69.
Ketiga, keberlanjutan untuk selalu berbuat kebaikan sekaligus menjadi orang
menyeru kepada kebaikan itu. Ia juga menjadi orang yang selalu mengajak
kebaikan masyarakat serta memperbaiki akhlak mereka. Ini yang kemudian disebut
dengan dakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Allah
SWT berfirman,
وَمَنْ
أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي
مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang
lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan
mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim
(yang berserah diri)?” QS. Fushilat (41): 33.
Dalam firman Allah SWT
yang lain,
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ
جَاءكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي
لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَاْ عَلَيْكُم
بِوَكِيلٍ
“Katakanlah
(Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk
orang-orang musyrik.” QS. Yusuf (12): 108.
Dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW bersabda,
لَأَنْ
يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ
حُمْرُ النَّعَمِ
“Sungguh petunjuk
Allah yang diberikan kepada seseorang (hingga Ia masuk Islam) melalui
perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh nikmat yang
melimpah ruah dari unta merah.” Hr. Muslim 4423.
Keempat, dengan menuntunya kepada taubat nasuha selagi ia masih hidup. Ia akan
menuntun untuk bertaubat atas dosa yang dia lakukan terhadap Tuhannya. Baik itu
berupa meninggalkan kewajiban atau menerjang sesuatu yang haram. Dia akan
selalu dituntun untuk menjauhi segala perbuatan zalim dengan sesama hamba. Ia
akan dituntun oleh Allah untuk selalu memenuhi hak orang lain secara sempurna.
Ia akan dituntun untuk menjauhi perbuatan nista yang berkaitan dengan harta
seperti mencuri, merampok, korupsi, berbuat curang dalam transaksi jual beli,
dan lain sebagainya. Ia akan dituntun untuk tidak berlari dari tanggung jawab
atas sesama hamba. Semua ini disebabkan karena orang yang mendapat hidayah akan
selalu dituntuk untuk bertaubat pada setiap kesalahan yang telah dilakukan.
Rasulullah SAW
bersabda,
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا
الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ
الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ
وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا
وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا
مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ
أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian,
siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang
yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta
kekayaan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya
umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat,
puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang
lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil
untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis,
sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian
dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang
tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” HR. Muslim, nomor : 4678.
Kelima, Diantara bentuk hidayah Allah telah ada pada seorang hamba adalah ia
akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan di atas. Jika seseorang telah mendapat
hidayah dari Allah ia akan selalu dituntun untuk menebus setiap dosa yang telah
dia lakukan dengan sesama makhluk. Ia akan mengembalikan setiap hak yang telah
ia dapat atau ia rampas tanpa izin atau mengambilnya secara dzalim. Hal ini
akan berjalan seperti ini hingga ajal menjemput sehingga ketika hari kiamat ia
tidak termasuk orang yang rugi.
Keenam, diantara tanda adanya hidayah pada seorang hamba adalah jiwanya
menjadi baik. Dalam artian ia akan menjadi seorang hamba yang lapang dada. Ia
akan menjadi pribadi yang selalu menolong orang lain dengan kadar kemampuannya.
Karena ini hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang mendapatkan hidayah dari
Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَهُ السَّائِلُ أَوْ طُلِبَتْ إِلَيْهِ حَاجَةٌ
قَالَ اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ
“Rasulullah SAW
jika datang kepadanya seorang yang meminta atau memerlukan sesuatu Beliau
bersabda: “Penuhilah oleh kalian, nanti kalian akan diberikan pahala, sedangkan
Allah pasti akan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya melalui lisan NabiNya”.
HR. Bukhari, nomor 1342.
Kemudian di antara
tanda seseorang mendapatkan hidayah dari Allah adalah dengan seorang memiliki
perhatian yang lebih kepada al-Qur’an. Ia banyak memperlajari kandunganhan
al-Qur’an. Ia memiliki kekuatan yang lebih ketika memberikan perhatian kepada
al-Qur’an. Di antara hamba Allah yang terbaik adalah seorang hamba yang
mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Hal ini sebagaimana dalam sebuah
hadits yang berbunyi,
خَيْرُكُمْ
مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Orang yang paling
baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.”
HR. Bukhari, nomor : 4639.
Ketujuh, diantara tanda seseorang mendapat hidayah Allah adalah ketika ia
menjadi pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar. Ia selalu mengajak kebaikan dan
melarang keburukan dengan seluruh kemampuannya. Amar ma’ruf dan nahi munkar
adalah akhlak orang yang beriman. Allah berfirman,
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ
الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Mereka itu adalah
orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan
agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar
dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang
beriman.” QS. At-Taubah (9): 112.
Maka seorang mukmin adalah
pelaku kebaikan sebelum ia menyerukan kepada orang lain. Seorang mukmin adalah
orang komitmen atas ketaatan terhadap ajaran agamanya. Ia akan selalu komitment
untuk berbuat baik. Kemudian dia akan mengajak teman-temannya, tetangga dan
keluarganya untuk turut berbuat kebaikan ketika ia melihat kemungkaran yang
mereka lakukan. Ia akan meberikan peringatan dengan mengingatkan dosa dunia dan
akhirat kepada mereka, karena ia mencintai mereka sebagaimana ia mencintai diri
sendiri.
Kedelapan, Kemudian di antara tanda bahwa seorang hamba mendapatkan hidayah dari
Allah adalah ia mendapat rizki berupa bakti kepada orang tua. Ia akan selalu
bersikap baik, membantu, berucap sopan dan rendah hati kepada kedua orang
tuanya. Baktinya kepada kedua orang tua akan lebih meningkat lagi ketika kedua
orang tuanya ini semakin tua dan menjadi lemah. Hal ini sebagaimana Allah
berfirman,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ
إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ
الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ
تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً -٢٣- وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ
الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
-٢٤-
“Dan Tuhan-mu telah
Memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik
kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak
keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah
dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai
Tuhan-ku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada
waktu kecil.” QS. Al-Isra’ (17): 23-24.
Ia akan selalu
mendo’akan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal. Do’a inilah yang
kemudian menjadi amal sholih yang tidak pernah terputus meski kedua orang tua
sudah meninggal. Rasulullah SAW bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ
وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang
meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; Sedekah jariyah,
ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” Hr. Tirmidzi,
Nomor : 1297.
Kesembilan, diantara tanda hidayah Allah telah ada pada seseorang adalah ia akan
memberikan nafkah kepada anak dan istrinya dengan nafkah yang halal. Hal ini
sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah,
إِنَّكَ
لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا
حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya,
tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah
kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut
istrimu” Hr. Bukhari 54.
Kesepuluh, diantara tanda hidayah Allah telah ada pada hambanya, ia akan selalu
bersikap dengan akhlak yang baik. Ia akan berlemah lembut. Ia akan menjauhi
akhlaq yang buruk. Selain itu ia juga adalah orang yang rajin dalam
melaksanakan shalat wajib 5 waktu. Di dalam benaknya tidak ada perkara yang
lebih penting dari pada shalat 5 waktunya.
Diantara tanda hidayah
Allah yang lain, seorang hamba akan dijauhkan dari memakan riba dan harta haram
lainnya. Ia akan berusaha menjauhinya dan tidak menganggapnya sebagai perkara
ringan. Karena Allah telah memberikan larangan dengan tegas melalui firmanNya,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ
يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ
الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ
فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ
النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang
memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual
beli sama dengan riba. Padahal Allah telah Menghalalkan jual beli dan
Mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhan-nya, lalu dia
berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan
urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” QS. Al-Baqarah (2): 275.
Kesebelas, adalah, ia diberi rizki berupa kebenaran di setiap ucapan dan
tindakanyya. Maka jika dia berucap, ia berucap dengan benar dan jika ia
berbuat, ia berbuat dengan tepat. Ia akan selalu menyeru kepada petunjuk.
Aktifitasnya hanya kesibukan dalam hal-hal yang bermanfaat untuk perkara dunia
dan akhiratnya. Ia akan dijauhkan dari perbuatan sia-sia. Rasulullah bersabda,
مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda
baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat
baginya.” (Hr. Tirmidzi 2239)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِيْ
الْقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قِوْلِ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الْرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه،
كما يحب ربنا و يرضى، و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا
عبده و رسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه، وسلم تسليما كثيرا إلي يوم الدين.
أما بعد فيَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
Hamba-hamba Allah yang
bertaqwa…
Seorang muslim yang
hidup di dunia ini pasti akan menghadapi berbagai fitnah. Fitnah yang datang
itu bisa berupa godaan untuk menjauh dari jalan istiqamah. Maka tidak mungkin
seorang mukmin untuk tidak meminta tolong kepada Allah. Meminta untuk selalu
diberi hidayah, untuk selalu berada pada ketepatan dalam bertundah, meminta
untuk kokoh kepada kebenaran. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan,
وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ
كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً -٧٤- إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ
الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ
“Dan sekiranya Kami
tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada
mereka, jika demikian, tentu akan Kami Rasakan kepadamu (siksaan) berlipat
ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati,” Qs. al-Isra’ (17):
74-75.)
Seorang mukmin harus
selalu meminta tolong kepada Allah untuk selalu dikuatkan hatinya menghadapi
fitnah. Tujuannya agar tidak pernah tergeser jalannya sedikitpun dari jalan
kebenaran. Bahkan sekelas Nabi Yusuf juga melakukan hal ini sebagaimana yang
dikisahkan dalam firman Allah,
وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ
أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ -٣٣- فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ
فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ -٣٤-
“Jika aku tidak
Engkau Hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk
(memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” Maka
Tuhan Memperkenankan doa Yusuf, dan Dia Menghindarkan Yusuf dari tipu daya
mereka. Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Qs. Yusuf (12):
33-34.
Sesungguhnya seorang
mukmin akan meminta tolong kepada Allah agar selalu teguh pada kebenaran.
Sehingga ia tidak melenceng dari petunjuk. Selain itu ia akan meminta agar
dijauhkan dari larangan Allah. Seorang mukmin akan meminta kepada Allah agar
dimampukan untuk menjalankan perintah Allah. Ia akan meminta agar dijauhkan
dari sifat sombong, bangga diri dan ujub meskipun hanya sebiji sawi. Karena
sombong dan bangga diri merupakan bencana bagi seorang muslim. Rasulullah
bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي
قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ
أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ
يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk
surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari
kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai
apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau
menjawab: “Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu
menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” HR. Muslim 131.
Maka arti dari
kesombongan adalah menolak kebenaran. Orang yang sombong, jika melakukan
kesalahan ia tidak mau diberikan perbaikan. Orang yang sombong, jika ia menulis
tulisan yang salah ia tidak mau mengatakan ‘saya bersalah’. Ia akan selalu
mengulang-ngulang keburukan dan kesalahannya. Ia akan tetap mempertahankan
kesalahan. Ia tidak akan pernah menerima kebenaran. ia tidak akan kembali
kepada kebenaran.
Akan berbeda halnya
dengan seorang mukmin. Ia akan terima setiap kebenaran yang ada. Ucapan yang
benar adalah tujuannya. Mengamalkan kebenaran adalah tujuannya. Jika ia tidak
mengetahui tentang kebenaran, ia akan mendatangi orang yang bisa mengajarkan
dan menuntunnya. Ia akan mencari orang yang bisa membangunkan dari kelalainnya.
Ia akan mencari orang yang bisa memperbaiki kesalahannya. Ia bersyukur kepada
Allah atas itu semua dan kemudian memuji Allah. Ia menyadari bahwa berada di
atas kebenaran adalah nikmat terbesar dari seluruh nikmat yang diberikan oleh
Allah. Sehingga seorang mukmin tidak akan berlarut-larut dalam kesalahan. Ia
tidak akan terus-menerus dalam kedurhakaan.
Ketahuilah hamba-hamba
Allah yang semoga selalu dirahmati-Nya…
Ketahuilah bahwa perkataan
yang terbaik adalah kitabullah. Sebaik baik petunjuk adalah petunju Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang
menyelisihi kitabullah dan petunjuk Nabi. Dan setiap perkara yang bertentangan
dengan kitabullah dan sunnah Nabi adalah bid’ah. Hendaknya kalian selalu
bersama dengan kaum muslimin. Karena tangan Allah menaungi kebersamaan. Barang
siapa yang menahan dirinya untuk berpisah dari kaum muslimin, maka ia telah
menahan dirinya untuk tidak terjatuh ke dalam neraka.
Berikanlah shalawat
kalian kepada hamba hamba Allah, Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam sebagaimana Allah telah memerintahkan hal tersebut. Allah ta’ala
berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah
dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman!
Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan
kepadanya.” QS. Al-Ahzab (33): 56.
Sumber: https://www.darusyahadah.com/khutbah-jumat-tanda-hidayah-allah-diberikan-kepada-hamba-nya/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar