اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّوْمَ حِصْنًا لِأَوْلِيَائِهِ وَ جُنَّةً، وَفَتَحَ
لَهُمْ بِهِ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ قَائِدِ الْخَلْقِ وَمُمَهِّدِ السُّنَّةِ، وَعَلَى اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ ذَوِيْ الْأَبْصَارِ الثَّاقِبَةِ وَالْعُقُوْلِ الْمُرَجِّحَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه
وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ
فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَ
Hadirin rahimakumullah,
Untuk mengawali
khutbah di atas mimbar ini, khatib berwasiat kepada jamaah Jumat sekalian,
khususnya kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan
ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah swt, yakni dengan menjalankan segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dengan bertakwa juga,
maka kita harus memperhatiakan segala sesuatu yang telah kita kerjakan hari
kemarin, dan memperhatikan juga sesuatu yang akan kita kerjakan nanti. Senada dengan
pernyataan ini, Allah swt, telah berfirman di dalam Al-Qur’an dalam surat
Al-Hashr ayat 18:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjaka”, (Q.S Al-Hashr:
18).
Hadirin rahimakumullah,
Alhamdulillah, berkat
Allah swt, kita masih diperjumpakan kembali dengan hari yang mulia, dan pada
bulan yang mulia ini juga. Bulan yang di dalamnya mempunyai sejuta keistimewaan
dan keutamaan bagi umat Muslim. Maka dari itu, sangat wajar jika dalam satu
bulan ini banyak umat Islam yang memperbanyak ibadah dan mengurangi maksiat,
karena sesungguhnya beribadah dan beramal saleh di bulan Ramadhan akan
dilipatgandakan pahalanya oleh Allah swt.
Pernyataan tersebut
bersumber dan mendapat legitimasi dari perkataan Rasulullah saw dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ
فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي،
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ
رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصائم أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Dari Abu Hurairah
ra, dia berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘Setiap amal anak Adam
dilipatgandakan pahalanya. Satu (amal) kebaikan diberi pahala sepuluh hingga
tujuh ratus kali. Allah azza wajalla berfirman, ‘Kecuali puasa, karena puasa
itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Sebab, dia telah
meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku”.
Oleh karena itu, untuk
menuju pertengahan puasa Ramadhan, marilah kita semua untuk terus meningkatkan
ibadah kita kepada Allah swt, senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, dan
memperbanyak zikir, shalawat dan doa.
Hadirin rahimakumullah,
Ketika puasa Ramadhan
tiba, ada tiga hal besar yang Allah swt janjikan untuk umat Muslim, yaitu
ampunan, rahmat, dan balasan surga. Hal ini bersumber dari perkataan Rasulullah
yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah:
أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ
مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
“Awal Bulan
Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari
api neraka”, (Ibnu Khuzaimah).
Dari ketiganya
merupakan anugrah yang besar dari Allah swt. Maka jangan sampai disia-siakan
kesempatan mulia ini hanya dengan puasa yang dianggap biasa-biasa saja.
Pertama adalah rahmat.
Rahmat merupakan kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Dengan
Rahmat-Nya Allah memasukkan hambanya dari neraka ke dalam surga. Karena jika
hanya mengandalkan amal ibadah seorang hamba, maka hal tersebut akan sulit.
Meski demikian, bukan berarti kita meremehkan ibadah dengan alasan mengandalkan
rahmat, karena penyebab rahmat sendiri adalah ketaatan seorang hamba kepada
Allah.
Hadirin rahimakumullah,
Keutamaan kedua
adalah maghfirah. Maghfirah merupakan ampunan dari
Allah swt. Semua manusia mendambakan hal tersebut, karena sesungguhnya manusia
pasti memiliki dosa dan keselahan, terutama kita manusia biasa yang tidak
ma’sum (terjaga dari dosa). Hal ini telah Rasulullah saw sabdakan dalam
haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ
التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam
(manusia) pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang
bertaubat”, (HR Tirmidzi).
Hadits ini sudah
sangat jelas menegaskan kepada kita bahwa yang namanya manusia tidak akan terlepas
dari dosa, meski dosa tersebut dibilang kecil, atau ada juga yang sampai
melakukan dosa besar. Contoh kecilnya, pada umumnya manusia pernah melakukan
ghibah, ngomongin orang lain, sombong, riya dan sebagainya. Maka pada moment
bulan suci Ramadhan ini, marilah kita untuk memperbanyak istighfar, meminta
ampun kepada Allah swt.
Hadirin rahimakumullah,
Keistimewaan yang
ketiga adalah balasan surga. Surga merupakan tempat
yang didambakan dan dicita-citakan oleh seluruh umat manusia. Allah swt
menyediakan segala kenikmatan yang lengkap di dalamnya. Kita juga bisa
mengetahui gambaran surga beserta kenikmatannya lewat Al-Qur’an dan hadits Nabi
Muhammad saw. Maka di bulan suci Ramadhan ini, Allah memberikan ruang khusus
kepada umat Islam dengan dibukannya pintu surga dan menutup pintu neraka. Hal
ini sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنَ
“Ketika Ramadhan
tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun
dibelenggu”, (HR Muslim).
Berkaitan dengan
hadits di atas, Syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan, maksud ‘dibukanya
pintu surga’ merupakan simbol imbauan bagi umat Muslim untuk memperbanyak amal
ibadah di bulan suci Ramadhan, sementara ‘dibelengguhnya setan’ merupakan
simbol untuk mencegah diri dari perbuatan maksiat. (Syekh ‘Izzuddin bin
Abdissalam, Maqashidush Shaum, 1922: 12).
Hadirin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah
yang singkat ini, mudah-mudahan bermamanfaat bagi kita semua, baik yang mambaca
maupun yang mendengarkannya. Dan semoga Allah swt tetap memberikan kepada kita
kekuatan dan hidayah, sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang,
damai dan sempurna sebulan penuh. Aamiin ya rabbal alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ. إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar