اشهد ان لا اله الا الله الملك الحق
المبين¸لاشريك له, واشهد ان محمدا عبده ورسوله المبين لما اوحي اليه من القرآن, لا
نبي بعده.
اللهم صل وسلم على خاتم الانبياء
والمرسلين نبينا محمد وعلى اله الاطهار واصحابه الاخيار ومن تبعهم الى يوم الى
الله مفر.
اما بعد: فيا ايها الحاضرون, اتقوا الله,
اتقوا الله حق تقاته, ولا تموتُنّ الا وانتم مسلمون. فقال الله تعالى: وَلَيْسَ
الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ
اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَا ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Ma’asyiral muslimin jamaah
Jumat yang berbahagia,
Mengawali khutbah ini,
khatib mengajak seluruh jamaah, khususnya diri pribadi khatib, untuk senantiasa
menguatkan dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. di
manapun, kapanpun, dan bagaimanapun keadaan yang sedang dihadapi. Sebab, keduanya
adalah pondasi dan pengemudi yang membawa kita sebagai manusia menuju tugas
hakiki di bumi ini, yakni menjadi khalifah Allah yang memakmurkan bumi ini
sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, sekaligus beribadah hanya kepada-Nya.
Takwa adalah
mendengarkan apa yang disampaikan oleh Allah kepada Utusan-Nya, Muhammad Saw.,
serta melaksanakan apa yang perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.
Ia menjadikan seseorang merasa takut kepada Allah yang diiringi kewapadaan dan
tanggung jawab dalam setiap perbuatan yang akan, sedang, dan telah dilakukan.
Ia percaya bahwa akan datang suatu hari yang amat besar, hari di mana seluruh
perbuatan manusia ditimbang dan dipertanggung jawabkan, yakni Hari
Kiamat.
Kepercayaan akan
datangnya hari itu adalah buah dari seseorang beriman kepada Allah dan
Utusan-Nya, serta apa yang disampaikan olehnya. Di antaranya adalah Hari Kiamat
itu. Keimanan inilah yang menjadikan ia memiliki rasa takwa yang mengakar kuat
di dalam jiwanya, sehingga ia selalu waspada.
Ma’asyiral muslimin jamaah
Jumah yang berbahagia!
Di antara tabiat
manusia adalah menyukai hal-hal yang baru. Inilah yang mendorong manusia dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan melahirkan
penemuan-penemuan yang baru dan mutakhir. Penemuan-penemuan yang menjadikannya
semakin mudah dalam melaksanakan aktivitas-aktvitasnya dalam sehari-hari.
Keunikan manusia
dengan potensi yang diberikan oleh Allah kepadanya yang tidak dimiliki oleh
makhluk-makhluk lainnya mengantarkan ia dapat menggali, mempelajari, dan
mengolah apa yang tersimpan di dalam semesta ini, salah satunya adalah bumi.
Manusia menggali dan mempelajari apa yang tersimpan jauh di dalam bumi dan
laut, kemudian menciptakan alat yang menjadikan dirinya terbang di udara bahkan
jauh ke luar angkasa.
Tidak sampai situ.
Manusia mengembangkan lagi dengan menciptakan teknologi yang menjadikan antara
satu sama lain dapat didekatkan dalam waktu singkat, yakni jaringan internet.
Melalui smartphone, handphone, dan sejenisnya, serta dengan berbagai aplikasi
yang bermacam-macam, dengan mengolah jaringan internet tersebut, manusia dapat
berinteraksi satu sama lain tanpa sekat waktu dan tempat. Bahkan, manusia dapat
mendapatkan informasi yang sumbernya jauh di barat, timur, utara, selatan, dan
seluruh penjuru mata angin, hanya dengan hitungan detik dengan mesin pencarian
terdigitalisasi. Semua ada dan bisa dilakukan dalam smartphone dan handphone
yang tidak bisa terlepas dari aktivitasnya sehari itu. Dengan demikian, seakan
manusia telah menggenggam dunia dalam tangannya dan dibawanya di dalam sakunya.
Kini, dunia sedang
berlomba-lomba dalam menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi itu. Kita tidak tahu sampai kapan puncak atau finish perlombaan ini.
Hanya Allah Swt. sajalah yang tahu awal dan akhir semua kehidupan manusia dan
makhluk-makhluk lainnya. Demikianlah kehidupan dunia. Allah Swt. berfirman:
اِعْلَمُوْٓا
اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ
بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan,
perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba
dalam banyaknya harta dan anak keturunan”, QS. Al-Hadid (57): 20.
Ma’asyiral muslimin jamaah
Jumah yang berbahagia!
Mengambil contoh kecil,
besi sebagai salah satu kekayaan yang tersimpan di bumi ini yang ditemukan
manusia, yang memiliki manfaat dan juga mudarat. Ia akan menjadi manfaat kalau
kita menggunakannya untuk membuat, semisal, kerangka bangunan, sehingga kita
dapat membuat rumah untuk bernaung dari panasnya matahari dan dinginnya hujan,
serta menutup hal-hal yang bersifat privasi dari kita, atau dari besi itu kita
dapat membuat masjid, sekolah, dan bangunan-bangunan lainnya, yang di dalamnya
kita melakukakan hal-hal yang positif. Namun ia akan menjadi mudarat jika
seseorang menciptakan darinya senjata tajam untuk melukai sesamanya, bahkan
membunuh, serta perbuatan-perbuatan tidak manusiawi lainnya, yang melanggar
hukum dan norma agama.
Demikian juga hasil
dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak positif
(manfaat) dan dampak negatif (mudharat). Ia dapat menjadi manfaat jika digunakan untuk yang bermanfaat,
seperti menambah pengetahuan ilmu agama dan dunia, menyambung silaturahmi,
berdakwah, dan menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Di sisi lain, jika tidak
diwaspadai, ia akan menjadi negatif atau mudarat bagi kehidupan manusia.
Semisal, dengan kemudahan berkomunikasi dan mudahnya mengakses informasi,
manusia dapat melakukan tindakan kejahatan yang melanggar norma dan hukum
agama, seperti penipuan, penyebarkan hal-hal privasi tanpa izin dan bertanggung
jawab, menyebarkan informasi bohong, menyebarkan dan menonton konten yang tidak
bermanfaat lagi merusak akal dan jiwa (pornografi dan lain sebagainya).
Akhirnya, yang
menentukan dampak positif dan negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah kita, sebagai manusia. Kita telah dianugrahi oleh Allah Swt.
potensi akal untuk mempertimbangkan perbuatan kita di dunia ini. Namun akal
saja tidak cukup untuk membimbing manusia menuju jalan yang benar dalam
kehidupan ini. Harus ada pondasi dan bekal yang terpatri kuat dalam jiwa
manusia. Pondasi ini adalah iman kepada Allah yang sudah menjadi fitrah manusia
sejak awal penciptaannya.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ
اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ
اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا
“(Ingatlah) ketika
Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan
Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
bersaksi.” QS. Al-A’raf (7): 172.
Dan bekal itu adalah
takwa. Dan takwa itu dilahirkan dari keimanan kepada Allah.
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat”, QS. Al-Baqarah (2): 197.
Ma’asyiral muslimin
jamaah Jumah yang berbahagia!
Keimanan dan ketakwaan
itu menjadikan seorang muslim waspada dan berhati-hati dalam setiap
tindakannya. Sebab ia yakin bahwa Allah yang menyaksikan segala tindakan kita,
baik secara sembunyi-sembunyi, di dunia nyata atau dunia maya. Manusia akan
dimintai pertanggung jawaban atas semua yang dilakukannya di dunia ini. Apabila
yang dilakukan adalah baik, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang
berlipat ganda dan ia akan melihat balasannya. Sebaliknya apabila yang
dilakukan adalah buruk, serta tidak mau bertaubat sebelum kematiannya, maka
Allah akan membalasnya dengan siksa sesuai perbuatan yang dilakukannya. Namun
demikian Allah tidaklah berbuat zalim kepada hambanya itu, dan tidak patut
dipertanyakan mengapa dan mengapa.
لَا
يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ
“(Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah
yang akan ditanya”, QS. Al-Anbiyā' [21]:
23.
وَمَا
ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
“Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri”, QS. Ali Imran (3): 117 dan Al-Nahl (16): 33.
مَنْ
يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه
وَلَايَجِدْلَه مِنْدُوْنِاللّٰهِوَلِيًّاوَّلَانَصِيْرًا
“Siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan dibalas sesuai dengan
(kejahatan itu) dan dia tidak akan menemukan untuknya pelindung serta penolong
selain Allah”.
وَمَنْ
يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا
“Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan
dia beriman, akan masuk ke dalam surga dan tidak dizalimi sedikit pun”. QS. An-Nisā' [4]:123-124.
فَمَن
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ ٧ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ
شَرًّۭا يَرَهُۥ ٨
“Siapa yang
mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan
kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya”. QS. Al-Zalzalah (99): 7-8.
Demikianlah hendaknya
keimanan dan ketakwaan seorang muslim dalam menghadapi perkembangan dan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar ia selamat dari dampak
negatifnya, serta menggunakan dampak positifnya dalam memberikan kemaslahatan
dan kebaikan kepada sesama, sehinggan menjadi manusia yang bermanfaat untuk
sesama.
خير
الناس انفعكم للناس
“Sebaik-baik kalian adalah siapa di antara kalian yang bermanfaat untuk
manusia lainnya”.
Ma’asyiral muslimin
jamaah Jumah yang berbahagia!
Mudah-mudahan, Allah
Swt. memberikan perlindungan dan hidayah-Nya kepada kita untuk bisa beriman dan
menguatkan iman serta menjalankan segala perintah dan menjauhi larang-Nya di
masa globalisasi ini. Terlebih di tanah air kita yang sedang berjalan menuju Indonesia
Emas 2045. Para pemuda yang kelak meneruskan estafet perjalanan Indonesia ini
mudah-mudah diberikan kekuatan iman dan takwa sehingga membawa negeri ini
kepada keemasannya “...yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial...”.
Aamiin...aamiin...aamiin...ya
rabbal ‘aalamiin.
وَمَا
كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
***
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا
الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ
وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ
مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ،
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Sumber : https://labfitk.uin-suka.ac.id/id/kolom/detail/824/blog-post.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar